OPINI – Setiap negara pasti mempunyai mekanisme kurikulum pendidikan yang berbeda dengan masing-masing negara, entah itu di wilayah Asia maupun negara di Eropa yang mampu mengelola pendidikan negara dengan sesuai pola kebutuhannya ataupun persoalannya dari masing-masing negara tersebut.
Dibelahan dunia dari banyaknya pendidikan ada negara contohnya finlandia yang mempunya akses pendidikan berbasis inklusif dimana semua siswa dianggap setara dalam haknya untuk mendapatkan pendidikan. Karenanya, tidak ada pembagian kelas menurut kompetensi akademis maupun bagi anak-anak berkebutuhan khusus. Memang rancangan (layout) kurikulum negara finlandia termasuk paling rapih dan termasuk pendidikan terbaik diseluruh dunia. Sejak hasil ujian internasional Program Pelajar Internasional (PISA) (Programme for International Students Assessment) mendapatkan perhatian lebih dari seluruh dunia.
Mungkin beberapa negara bahkan seluruh negarapun melirik dan penasaran terhadap sistem pendidikan (system education) yang unggul dalam mendidik dan mengembangkan kemampuan ilmiah anak-anak didiknya sehingga bisa disefesifikasikan dan dikategorikan bahwasanya semua anak-anak mempunyai kompetensi khusus dalam pengembangan setiap pribadinya anak-anak didiknya masing-masing.
Memang lumayan sulit untuk ada acuan (trigger) dalam anak didik supaya ingin belajar, terutama belajar secara dilatih hingga menemukan ruang yang nyaman dalam dirinya sehingga yang perlu diasah dan dibutuhkan seperti kecakapan ilmu dasar manusia pembelajar, budaya membaca, menulis, menghitung dan menutur.
Hal ini dikombinasikan dengan empat wahana pembentukan karakter dan kreativitas, olah pikir (critical thinking end problem solving), olah rasa (spirituality,ethics,aesthetics), oleh raga (game end kinesthetic agility), olah karsa (creative will or imagination). Pengetahuan sebagai disiplin ilmu belum perlu diajarkan. Biarkan anak didik menjelajahi bacaan dan bidang pengetahuan apapun yang disukai tanpa sekat-sekat keilmuan yang ketat.
Pendidikan yang baik pasti bisa menghasilkan output-output yang berkualitas dan berintegritas seperti layaknya buah, pohon yang berkualitas dan yang bagus pasti menghasilkan juga buah yang bagus dan matang bahkan loyaliti dari buahnyapun pasti lebih mahal dikomersilkan dibanding dengan buah-buah yang tidak bagus (reject), begitupun gambaran (overview) pendidikan layaknya metafora dari pohon dan buah itu tersebut.Kedepannya masa depan pendidikanpun berujung dinamis, karena banyak pengaruh dan perubahan terjadinya distruptif terutama pengaruh teknologi dan informasi. Mungkin gambaran pendidikan masa depan akan berujung terbuka, seterbuka-bukanya dimana semua umat manusia bisa belajar secara intens lewat (smart phone app) masing-masing ataupun dari visual konten seperti Youtobe, Netflix atau lebih mengedepankan pembelajaran yang besifat laboratorium pendidikan mandiri (bersifat kolegial ide dan learning action seperti) seperti lewat Cikal (kampus guru cikal), Keluargakita, Inibudi.org, Sinedu.id yang secara intens bisa memberikan ruang-ruang akses secara virtual atau maya kepada ruang-ruang yang ingin belajar.
Bahkan persoalan pendidikan yang dasar hingga perguruan tinggi (university) akan semakin terancam karena dalam buku The Innovative University Clayton Christensen & Henry Eyrin menjelaskan bahwasannya bahasa krisis bukanlah hal yang baru dalam pendidikan tinggi selama bertahun-tahun para kritikus telah meningkatkan kekhawatiran tentang kenaikan biaya kuliah, akses yang terkompromikan, di luar kendali biaya, dan sejumlah masalah lainnya. Namun, meskipun isu-isu itu masih menjadi bagian dari krisis saat ini, itu tidak sama dengan yang lalu. Untuk pertama kalinya, teknologi yang mengganggu bekerja di pendidikan tinggi.
Untuk sebagian besar sejarah mereka, universitas dan perguruan tinggi tradisional tidak memiliki persaingan serius kecuali dari lembaga dengan model operasi yang sama. Sekarang, ada pesaing yang menawarkan gelar online. Banyak dari lembaga-lembaga ini beroperasi sebagai entitas nirlaba, menekankan derajat yang dapat dipasarkan untuk orang dewasa yang bekerja. Perguruan tinggi dan universitas tradisional memiliki kualitas dan kapasitas yang berharga yang dapat mengimbangi keuntungan para pengganggu tetapi tidak untuk semua orang yang bercita-cita untuk pendidikan tinggi, dan bukan tanpa inovasi nyata.
Kesadaran pendidikan nyatanya berlaku untuk semua orang terutama dalam mendidik dirinya dalam kesadaran berfikir untuk menunjang dan mengasah kemampuannya masing-masing manusia, makanya ada ungkapan bahwasanya “Setiap guru adalah murid, setiap murid adalah guru” mungkin semua elemen kedepannya dimasa depan gambaran pendidikan itu diidentikan dengan kata selogan tadi, sehingga semua saling berkesinambungan (sustainable) saling belajar dalam setiap waktu dan setiap saat.
Masa depan pendidikan indonesia ataupun WNI yang sudah mengenyam pendidikan (education) ataupun yang belum mampu menempuh pendidikan karena finansial harus ada kesadaran pribadi pada kenyamanan pembelajaran secara mandiri untuk punya dunianya sendiri sehingga dengan adanya kesadaran belajar secara otomatis sumber daya manusia (SDM) nyapun bisa memberi manfaat dan memberikan peningkatan produktifitas yang tinggi untuk lompatan-lompatan kemajuan sehingga yang dipelajari dari pendidikan formal sudah dipahami secara belajar mandiri.
(Muhamad Lutfi Sopyan – Mahasiswa Universitas Pakuan)