Headline Nasional | Fatwa MUI Terkait IBadah Di Tengah Wabah Covid-19, Ini Penjelasan Ustadz Adi Hidayat

BOGOR – Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah dikeluarkan terkait pelaksanaan Salat Jumat yang dilarang oleh beberapa pejabat daerah termasuk Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan dalam mencegah wabah penyebaran virus Corona atau covid-19. Fatwa bagi umat muslim di Indonesia itu dibacakan langsung oleh Ustad Adi Hidayat melalui channel youtube yang dinamakan ‘Adi Hidayat Official’.

Adi Hidayat menjelaskan, kaitan salat wajib Jumat yang biasa dilaksanakan secara berjamaah atau beramai-ramai itu dapat diganti dengan salat wajib Dzuhur. Dalam point kedua diketentuan hukum yang dimana dalam fatwa ini terdiri dari 9 point. Yang mana di point kedua berisikan orang yang telah terpapar virus Corona wajib menjaga dan mengisolasi diri agar tidak terjadi penularan kepada orang lain.

“Baginya salat Jumat dapat diganti dengan salat Dzuhur karena salat Jumat merupakan ibadah wajib yang melibatkan banyak orang sehingga berpeluang terjadinya penularan virus secara massal. Baginya haram melakukan aktivitas ibadah sunnah yang membuka peluang terjadinya penularan seperti jemaah salat lima waktu atau rawakib atau tarawih dan i’ed (Idul Fitri) di masjid atau ditempat umum lainnya serta menghadiri pengajian umum dan tabligh akbar,” ujarnya.

Bacaan Lainnya

Menurutnya, jelas point kedua dalam fatwa MUI ini kalau memang sudah ada dan diketahui positif atau bahkan kemungkinan kuat suspect yang diduga kuat dengan Corona, bahwa fatwa ini sangat jelas jangan melibatkan diri dalam proses melaksanakan ibadah secara berjamaah.

“Baik Jumat, salat fardu lainnya yang tunaikan di dalam masjid atau salat-salat sunah yang ditunaikan dalam sifat berjamaah secara terbukam Fatwa ini sangat jelas, mudah di pahami landasan hukumnya kuat bahkan kalau boleh kita memberikan bandingan yang sangat ringan dalam situasi badai saja ada hujan lebat dingin itu bahkan Muadzin mengumandangkan adzan satu kalimat membolehkan masyarakat untuk salat di rumah karena khawatir terkena badai ketika ke masjid. Maka bagaimana dengan kondisi orang tertular virus yang bisa menularkan kepada orang lain atau bahkan dalam konteks lain orang yang saffar saja yang perjalanan jauh dengan keadaan saffarnya dia bisa mengganti Jumat dengan dzuhur karena kesulitan menunaikannya,” tegasnya.

Ia melanjutkan, adapun point pertama dalam fatwa ini setiap orang wajib melakukan ikhtiar (usaha,red), menjaga kesehatan dan menjauhi setipa hal yang dapat menyebabkan terpapar penyakit karena hal itu bagian dari menjaga tujuan pokok beragama.

“Jadi ini point pertama, yang meminta seluruh umat muslim untuk berikhtiar dalam menjaga kesehatan kita, jaga baik-baik kondisi kita kalau kita mengambil kepada bagian-bagian sebelumnya, dan anjuran nabi besar Muhammad SAW, kalau sudah tahu wilayah yang sudah terjangkit virus jangan masuk kesitu dari wilayah itu juga jangan keluar karena ini bagian dari menjaga kehidupan kita,” jelasnya.

Lebih jelasnya silahkan kunjungi :

Channel Youtube Ustadz Adi Hidayat