Select Page

Headline Bogor | Demokrasi dan Moralitas Politisi

Headline Bogor | Demokrasi dan Moralitas Politisi

OPINI – Salah satu aktivis politik yang kritis, politisi Andi Arief (Demokrat) ditangkap polisi. Bukan karena kritiknya yang pedas. Namun karena narkoba. Memprihatinkan. Bencana menghantam moral terdalam politisi. Semua pihak terkejut. Tersihir. Tak Berdaya, tentu, kita tidak membenci. Apalagi menghakimi pribadi. Sebab manusia tidak hitam putih. Hasrat baik dari setiap anak bangsa yang ingin menjadi seorang pemimpin maupun politisi di negara yang kita cintai ini selalu terbuka peluang. Namun godaan memang ada di mana-mana.

Sejarah menulis, kenyataan pahit hari ini bertentangan diametral dengan generasi pendiri bangsa. Bagaimana perjuangan tokoh-tokoh bangsa untuk memperjuangkan kegetiran dan kepahitan jalan hidup sewaktu bangsa Indonesia ini didera oleh kolonialisme. Bapak bangsa kita saat itu, kerja serabutan, pakaian yang tak mewah dan megah. Hasrat untuk membohongi dalam wajah pencitraan tidak dilakukan. Tubuh kurus dan kerempeng bukan diet. Tapi, kurang makan dan kurang tidur. Keterasingan dan sunyi di ruang penjara menjadi sajian takdir yang suka tidak suka harus di nikmati. Singkatnya, mereka berjuang dan berpikir atas nama keikhlasan. Itulah mereka yang kini kita kenang sebagai pahlawan dan negarawan bangsa Indonesia.

Immoralitas Politisi

Berbeda potret bapak bangsa. Maka, politisi kita hari ini hidup dalam suatu suasana yang memperlihatkan atau mempertontonkan kegilaan yang telah memenjarakan kita sebagai manusia dalam sifat kebinatangan. Mengembara melampaui setiap fantasi: korupsi, kekerasan, bercak darah, dan kematian. Siapa yang harus kita persalahkan di kondisi yang lupa diri ini, kalau bukan kita sebagai manusia. Itulah wajah yang kita lihat hari ini, di negara ini.

Kita hidup dalam suatu era kejahatan yang maha sempurna – ada kejahatan-kejahatan yang berlandaskan nafsu dan ada pula yang berlandaskan logika – batas antara keduanya ternyata tidak jelas. Yang paling ironis di era kejahatan ini adalah bahwa para penjahat itu kini bukan lagi anak-anak yang nakalnya minta ampun. Yang memakai dalih cinta kebangsaan dan kenegarawanan. Bertutur di ruang publik saat mengkampanyekan program-program kerja yang akan dieksekusi ketika terpilih menjadi pemimpin. Tetapi mereka itu adalah orang-orang dewasa dan mereka mempunyai ‘alibi’ sempurna untuk diargumentasikan kepada masyarakat yang digunakan untuk mencapai tujuan mereka. Menjadi penguasa di negara ini. Bahkan yang paling menyesak dihati, kekuasaan dipergunakan sebagai alat untuk mengubah pembunuh-pembunuh menjadi hakim-hakim yang menentukan keadilan dan ketidak berdosaan.

Itulah wajah kehidupan politisi kita hari-hari ini. Atas nama demokrasi, kita hidup dalam ketidakdewasaan dan lahirnya suatu peradaban berwajah tidak bermoral dalam kekuasaan yang diamanahkan kepada elit-elit politisi di negara ini. Pada akhirnya mereka berkata: right or wrong my country (benar atau salah, aku tetap setia pada negeriku), ungkapan yang membosankan. Atas wajah yang menakutkan itu. Seketika kita ingat apa yang penah kita dengar dari seorang sejarawan Inggris di abad ke-19, Lord Acton, yang berkata tentang—“power tends to corrup, absolute power corrupts absolutely—(kekuasaan cenderung korup, kekuasaan mutlak korupnya pun mutlak pula)’’.

Wajah Ganda Politisi di Era Informasi
Di atas—telah lantang kita uraikan wajah kehidupan politisi kita hari-hari ini. Selintas seketika kita menghayati makna subtansial dari apa yang diuraikan tersebut, kita akan berimajinasi untuk membayangkan betapa horor dan menakutkannya kondisi kehidupan kita saat ini. Disadari atau tidaknya, itulah wajah politisi yang sedang kita perdebatkan saat ini.

Saat ini, basa-basi politisi telah mengubah wajah politisi menjadi wajah ganda: wajah arif bijaksana sekaligus licik. Wajah luhur sekaligus busuk. Wajah jujur sekaligus penuh tipu daya. Wajah penuh kemanusiaan sekaligus anti-kemanusian. Wajah moralis sekaligus berwajah imoralis. Singkatnya, politicum horrobillis – itulah gambaran mengenai citra politisi yang dideskripsikan oleh seorang akademisi dan pemerhati kebudayaan Indonesia, Yasraf A. Piliang dalam bukunya yang berjudul—TRANSPOLITIKA: Dinamika Politik di Dalam Era Virtualitas.

Kira-kira begitulah politisi kerap tampil dengan wajah sangat kelam, ketika politik dibangun oleh aktor-aktor yang penuh akal busuk, pikiran kotor, rencana jahat, skenario menakutkan, sifat rakus dan hasrat yang tak terbendung. Sungguh, kita terpancing untuk mempertanyakan mengapa wajah politisi membosankan dan menakutkan di era abad informasi ini? Apakah memang begitu demokrasi pada hakikatnya dilaksanakan di era abad informasi, dalam memperebutkan kekuasaan?

Untuk menjawab pertanyaan ini, semoga kita tidak meninggikan ambisius untuk berharap dengan ‘tepat’ dalam menjawab pertanyaan tersebut. Tetapi disini akan dikemukakan suatu jawaban oleh Michel Foucault – seorang filsuf dan sosiolog yang pemikirannya relevan dipakai untuk memahami fakta sosial dan perkembangan budaya era ini – katanya, bahwa “barang siapa yang tidak mampu mengatasi kecepatan di dalam abad informasi dewasa ini, maka sesungguhnya ia tidak mempunyai kekuasaan apa-apa”. Bersandar dari argumentasi Focault tersebut, dapat kita ambil suatu pemahaman bahwa dunia politik di abad informasi, yang di dalamnya salah satu alat pemasaran yang digunakan oleh para politisi untuk mendapatkan kekuasaan adalah penciptaan citra dirinya sendiri dan berwajah ganda. Maka dari keterangan tersebut, dapatlah kita benarkan bahwa tidak ada seorang politisi ingin terlihat buruk dihadapan rakyatnya yang akan bersimpatik dan pada akhirnya akan memilihnya menjadi pemimpin di negara ini.

Berdasarkan gambaran di atas, kita dapat menyajikan suatu paradigma mengenai politisi di era demokrasi dalam meraih kekuasaan. Bahwa kekuasaan akan diraih atas dasar ‘siapa yang memiliki massa maka dialah yang akan berkuasa’. Pergeseran paradigma ini tidak lagi memberikan arti yang sesungguhnya mengenai demokrasi: dimana kita memahami bahwa demokrasi memiliki nilai-nilai seperti persatuan, kemerdekaan dan keadilan.
Ada adagium penegasan mengenai the essence of politics dari seorang filsuf terkemuka – Ernesto Laclau, dkk dalam bukunya – Hegemony and Socialist Strategy, bahwa “politik tidak sekedar pertarungan kekuasaan (will to power), tetapi proses perjuangan gagasan, ide, keyakinan dan nilai-nilai; sebuah pertarungan konsepsi ideologis yang luhur”. Sayangnya, adagium tersebut belum terefleksi dalam politik Indonesia saat ini.

Masa Depan Demokrasi

Kita tidak bisa pasrah dalam mendung wajah politik. Frustasi apalagi bunuh diri. Kita harus bangkit sekali lagi untuk menyemai harapan dan percaya lagi pada manusia. Percaya pada masa depan yang penuh dengan ikatan cinta, persahabatan, kasih sayang saling pengertian dan saling menghormati. Dengan demikian “konsolidasi demokrasi” yang lebih beradab dan lebih bermoral adalah salah satu jalan untuk menyemai kembali makna demokrasi yang sesungguhnya. Dengan begtu diharapkan dapat tercapai tujuan kita berbangsa dan bernegara, yaitu hidup dalam kerukunan, persatuan dan saling mencintai satu sama lainnya.

Oleh : Wahyu Hidayat Lubis
Aktivis Dan Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Pakuan

KOMENTAR

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *