Episode Sang Pembela ; Merdeka itu Berani Ambil Resiko

17 Oct 1952, Jakarta, Indonesia --- Indonesian President Achmad Sukarno, shown here speaking to a crowd in September of 1950, was reported trying to calm thousands of angry demonstrators near the presidential palace in Jakarta, October17. An artilery battery was brought into position outside the palace as president Sukarno talked to the crowd which had formed to demand the dissolution of Parliament and general elections. Pres. Sukarno told the throng that he did not want to become a dictator and that he would arrange for elections as soon as possible. --- Image by © Bettmann/CORBIS

Mengapa Wikana, Chaerul Saleh, Aidit, Suroto Kunto dan Soekarni “menculik” Soekarno dipagi buta , dibawa ke Renggas dengklok dirumah Djiaw Kie Song untuk membicarakan dan menyusun teks kemerdekaan (proklamasi) Indonesia?  Mengapa para pemuda-pemuda itu tidak mengambil tokoh lain untuk menyatakan proklamasi?

Rupanya  para pemuda ini telah mengamati tokoh tokoh pergerakan tersebut dalam aktivitas pergerakan mereka sehari hari dan sikap batin yang dimiliki. Soekarno menjadi pilihan para pemuda karena selain ketokohannya yang menonjol juga karna  sifat Soekarno progresif revolusioner dan  berani ambil resiko . Tentu orang yang berani ambil resiko adalah orang yang punya nyali  besar dibanding orang lain.

Dalam pidato 1 Juni 1945, dalam sidang dokuritzu junbi choosakai (badan penyelidik usaha usaha  persiapan kemerdekaan Indonesia, BPUPKI) saat bersidang membahas dasar negara (Soekarno menggali Pancasila 1 Juni 1945 saat itu), Soekarno juga mendorong, mendesak agar kemerdekaan Indonesia dideklarasikan saat itu juga / secepat cepatnya. Bahkan Soekarno mengkritik tokoh tokoh pergerakan yang mengusulkan kemerdekaan dilakukan setelah siap segala sesuatunya.

Bacaan Lainnya

Soekarno menyatakan Indonesia harus merdeka saat itu juga, jangan berfikir  NJELIMET (ZWAARWICHTIG) harus siap ini itu dulu, pokoknya nyatakan kemerdekan Indonesia sekarang. Dengan bahasa anak sekarang sikat dulu, (resiko) urusan belakangan.

Nah sikap progresif revoluioner Soekarno itu diamati dan cocok dengan chemistri para pemuda maka mereka “menculik” Soekarno dan meminta Soekarno mendeklarsaikan proklamasi.

Sikap bernyali, progresif yang dimiliki oleh Soekarno, tokoh pemuda dan para pejuang kemerdekaan itu yang mengantar kita saat ini Merdeka. Apakah masih relevan buat pemuda? Ya pastinya. Perubahan kearah kemajuan tidak dapat dilakukan oleh para peragu apalagi penakut. Hanya dapat dilakukan oleh mereka yg bernyali dan bersedia menerima resiko.

Merdeka.

 

Sugeng Teguh Santoso, SH

Calon Walikota Bogor 2018