Jangan Tinggalkan Romantisme dan Historisitas Teks terhadap Penulis

(Headlinebogor.com) – Dalam catatan-catatan pers yang kita baca baik di media massa maupun online kita sering menemukan kejanggalan yang menimbulkan kontroversi pada hakikat penafsiran dan interpretasi teks tersebut.

Pertanyaan yang paling krusial adalah apakah setiap pribadi pembaca sudah memahami psikologi dan Historisitas dari penulis teks tersebut?

Pertanyaan ini menjadi sangat intim karena bagaimanapun juga setiap tulisan tidak lepas dari hakikat pribadi setiap penulis. Seringkali pembaca terjebak dalam alur pemikirannya sendiri (subjektivitas) sehingga menimbulkan prasangka terhadap teks yang dibaca dan bukan kepada siapa penulis teks tersebut (objektivitas).

Bacaan Lainnya

Fenomena yang terjadi pada saat ini adalah kelumpuhan daya pikir (rasionalitas) yang meneropong jauh hingga  ke balik biduk si penulis teks, sehingga kontroversi pemikiran terhadap teks kian menjadi seksi bahkan dalam skala besar (global) yang pada akhirnya menimbulkan ketidaknyamanan ketika sesudah membaca teks tersebut. Kita harus cerdik memahami hakikat sebuah teks. Teks adalah sebuah alat yang dimasak oleh pemikiran si penulis. Penulis hanya bertanggung jawab pada apa yang ia tulis tetapi bukan kepada apa yang ditafsirkan dan diinterpretasikan oleh si pembaca.

Teks dan penulis adalah sepasang kekasih dalam romantisme pikiran si penulis. Sedangkan pembaca adalah sebuah subjek yang memandang dan memaknai perasaan romantis antara pemikiran penulis dan teks.

Ketika pembaca tidak menggenggam kedua objek tersebut maka timbullah keabu-abuan dan  menghardik substansi dari teks yang dibacakan.

Fenomena kontroversi yang berikutnya adalah “HOAX” , istilah yang kekinian dan menjadi laku di media massa maupun Online. apakah kita sudah bijak menghardik setiap teks dengan predikat tanpa dosa itu kepada teks yang kita bacakan?

Predikat “HOAX” yang dibrendel kepada penulis adalah sebuah tikaman kejam yang tanpa kita sadari adalah kita sebagai pembaca telah memenjarakan pikiran penulis teks tersebut.

Dan apa yang harus  kita tanamkan pada batin kita sebagai pembaca yang baik?

Sebuah cabang ilmu filsafat yang ingin penulis letakan kepada batok pemikiran kita sebagai pembaca adalah “seni memahami” atau ilmu “Hermeneutika” atau Ilmu tafsir.

Dalam ilmu penafsiran (Hermeneutika) seorang filsuf Jerman, Wilhelm Dilthey (1833-1911)memusatkan perhatian kepada teks dengan tiga konsep yang menjadi sakralitas atas teks. yang pertama “Penghayatan” (Erleben), yang kedua “ungkapan” (Ausdruck), ketiga “memahami” (verstehen). ketiga konsep dari Dilthey sangat perlu dan layak untuk dihadirkan oleh pembaca modern, karena sebuah teks yang diluncurkan atas pemikiran oleh penulis adalah sebuah panorama yang indah dalam biduk pemikirannya dan ingin diperlihatkan kepada pembaca, hingga ketika menjadi konsumsi massa apakah panorama teks tersebut tetap akan berdiri pada poros sejati dari penulis?

Tidak akan. karena penafsiran yang dihasilkan oleh pembaca akan berbeda.

Lalu apa yang kita butuhkan?

Yang kita butuhkan adalah ketiga konsep dasar tersebut.

Pertama Penghayatan.

Kita mengacu pada hal yang spesifik atas tulisan pada setiap teks, apa yang kita bacakan hendaknya perlu kita rasakan sebagai sesuatu yang bermakna, artinya pada teks harus kita terjemahkan ke dalam diri sehingga penghayatan atas tidak tercerai-berai, melainkan membentuk sebuah keutuhan. Contoh sederhananya  adalah “perjalanan hidup”. Perjalan hidup adalah wujud dari perjalanan waktu atau kronologi (kronos), waktu tidak kita alami secara terpenggal-penggal, melainkan sebagai aliran yang membentuk sebuah kesatuan, sehingga kita miliki istilah “perjalanan hidup” (Kairos).

Kedua Ungkapan (Ausdruck) 

Ungkapan atau eskpresi pada teks adalah ekspresi jiwa si penulis ketika melambungkan pemikiran dan suasana pemikiran ke dalam bentuk tulisan (teks).

Memaknai ungkapan atau eskpresi penulis bukanlah hal yang mudah, di sini kita perlu berhati-hati, karena itu biasanya dihubungkan dengan perasaan saja. sering kita menemukan pemberitaan di media online yang orientasinya mencederai unsur kebhinekaan di Indonesia. Pemberitaan tersebut biasanya menunjukkan sentimen Suku, Agama dan Ras tertentu. Hal ini merupakan bentuk ekspresi kebencian penulis terhadap keberagaman di Indonesia, sehingga pembaca harus cermat mengkoneksikan data dan fakta yang sebenarnya.

Jika pembaca memahami ekspresi penulis dan teks maka pembaca dapat merekonstruksi konsep, penilaian, dan susunan-susunan pemikiran lainnya.

Ketiga Memahami (Verstehen)

Konsep pemahaman atau memahami teks dan penulis harus diperketat karena seringkali pembaca tidak memahami makna yang sebenarnya di dalam teks dari penulis.

Pemahaman dibagi atas dua yakni pemahaman elementer dan pemahaman yang lebih tinggi.

Pemahaman elementer adalah sebuah pemahaman tentang bagaimana menghadapi hal-hal; Pemahaman yang lebih tinggi dapat dicirikan sebagai pemahaman tentang apakah hal-hal itu.

Penulis menyederhanakan pemahaman elementer sebagai pemahaman dengan cara bagaimana menghadapi pemberitaan di media massa (penulis dan teks) yang menimbulkan perdebatan batin pembaca, seperti contoh sebelumnya pemberitaan yang mencederai kebhinekaan yang dapat menimbulkan sentimen antar-kelompok,  dan pemahaman yang lebih tinggi adalah apa esensi dari pemberitaan tersebut, jika pemberitaan tersebut mencederai kebhinekaan maka pembaca harus meletakkan nilai-nilai kebhinekaan yang lebih tegas dalam setiap aspek kehidupan sosialnya agar nilai-nilai Pancasila dan Kebhinekaan tidak hanya diletakan pada tataran konsep namun lebih kepada membangun rasa humanisme dalam perilaku sosialnya. Hal ini guna mencegah terjadinya sentimen SARA dari pemberitaan dengan media online maupun cetak. Inilah yang harus diperhatiin oleh pembaca modern dengan memahami secara utuh dunia teks dan penulis.

Kesimpulan Penulis

Dunia teks dan penulis (Historisitas penulis) oleh pembaca tidak boleh diberi sekat karena akan menimbulkan kehilangan esensi dari teks (irasional) dan berujung pada subjektivitas pembaca.

Penulis : Yogen Sogen

Mahasiswa FKIP Bahasa dan Sastra Indonesia Unpak Bogor, semester VIII.

Ketua Presidium PMKRI Cab. Bogor St. Joseph a Cupertino