Select Page

Headline Bogor | Pemuda, Idealisme Dan Pemilu 2019

Headline Bogor | Pemuda, Idealisme Dan Pemilu 2019

OPINI – Banyak yang mengatakan bahwa keberlangsungan sebuah peradaban, keberlangsungan sebuah negara itu terletak pada diri para pemuda yang dipersiapkan dan dibekali untuk menjadi generasi penerus dan penentu yang ada dipuncak kepemimpinan sebuah peradaban.

Pemuda dalam sejarah selalu memiliki peran strategis dan pandai menemukan momentum yang baik. Kita tahu bagaimana perjuangan pemuda Indonesia dahulu dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia seperti halnya Mohammad Yamin sebagai salah satu tokoh pemuda yang merumuskan sumpah pemuda. Wikana, Chaerul Saleh, Sukarni dan pemuda lainnya juga merupakan kelompok pemuda yang peduli dengan kemerdekaan Indonesia dengan menculik Soekarno untuk segera membacakan teks proklamasi pasca kekalahan Jepang dari sekutu.

Ada juga pemuda di era ’60-an bernama Soe Hok Gie yang merupakan tokoh pemuda kritis dengan memegang teguh idelisme nya terhadap kebijakan pemerintah pada saat itu, dengan semangat revolusionernya Gie mampu mentransfer semangatnya dan memberikan dampak positif kepada pemuda lainnya. Dan masih banyak lagi tokoh pemuda dalam sejarah dengan perjuangannya sebagai bukti bahwa pemuda pada dasarnya memiliki peranan penting untuk sebuah kemajuan dan keberlangsungan peradaban.

Idealisme merupakan barang langka yang sulit ditemukan. Karena faktanya idealisme identik dengan pengorbanan, penderitaan, kekurangan bahkan keterasingan. Idealisme adalah impian (bukan mimpi) ia lahir dari konsep kemanusiaan yang hakiki , konsep bagaimana memanusiakan manusia sebagaimana mestinya.Dalam lingkup kenegaraan, idealisme adalah bagaimana memanusiakan setiap warga negara sama dalam kedudukannya dalam hukum pemerintahan politik, sosial budaya dan berpendapat.

Namun dengan ego manusia hal itu sangat sulit diwujudkan. Pemuda sebagai masa dimana ia menjadi manusia sebenarnya, idealisme harus sudah mulai ditumbuhkan. Salah satu founding father Indonesia Tan Malaka pun mengatakan “Idealisme adalah kemewahan terakhir yang hanya dimiliki pemuda”, tanpa idealisme bukan tidak mungkin pemuda hari ini hanya akan menjadi pelengkap dan pengisi gerbong tua yang semakin rapuh.

Idealisme yang dimiliki pemuda dapat menjadi modal dasar dalam menentukan pilihannya terhadap calon pemimpin pada pemilu serentak yang akan diselenggarakan pada 17 April 2019 mendatang. Dalam memilih calon pemimpin, pemuda sudah seharusnya dengan menggunakan pertimbangan yang rasional serta kritis dalam menilai seorang figur.

Keterlibatan pemuda dalam pemilu adalah sudah menjadi keharusan sebagai kaum muda demi pembangunan dan kemajuan bangsa Indonesia, bahkan keterlibatan pemuda dalam pemilu sudah diatur dalam UU No.40 Tahun 2008 pasal 17 ayat (3) yang menyatakan bahwa peran aktif pemuda sebagai agen perubahan diwujudkan dengan mengembangkan salah satunya adalah pendidikan politik dan demokratisasi.

Akan tetapi bukan berarti harus ikut terseret dalam politik praktis. Sebagai pemuda yang memiliki jiwa pemikiran kritis dan memiliki idealisme, seharusnya tidak dapat ditunggangi oleh polemik politik praktis. Sebagai kaum muda kritis dan idealis harus dapat bersikap objektif dalam menentukan pilihan calon pemimpin guna mewujudkan cita-cita pemuda dimasa lalu dan demi kemajuan bangsa, bukan menjadi bagian dari gerbong tua yang bobrok.

Sudah saatnya pemuda ‘melek’ politik, agar mengetahui situasi dan kondisi Negeri hari ini. Gunakanlah hak pilih kita dengan bijak dan selaku kaum muda yang kritis dan idealis jangan sampai tertunggangi oleh kepentingan-kepentingan individu ataupun kelompok, jadikanlah hak pilih kita menjadi bermanfaat untuk masa depan bangsa.

Oleh : Tomi Ardiansyah
Aktivis mahasiswa

KOMENTAR

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *