PENINGKATKAN HASIL BELAJAR MENGKAJI NOVEL BERDASARAKAN PENDEKATAN EKSPRESIF MELALUI PEMBELAJARAN BERBASIS KEGIATAN LESSON STUDY

PENINGKATKAN HASIL BELAJAR MENGKAJI NOVEL BERDASARAKAN PENDEKATAN EKSPRESIF MELALUI PEMBELAJARAN BERBASIS KEGIATAN LESSON STUDY

 

Aam Nurjaman

Bacaan Lainnya

Wildan F Mubarock

Sri Rahayu

 

 

ABSTRAK

Melalui langkah-langkah kegiatan Leson Study diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar mengkaji novel berdasarkan pendekatan ekspresif mahasiswa semester IV Prodi Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP, Universitas Pakuan, Bogor . penelitian ini dirancang sebagai penelitian tindakan dengan pendekatam lesson study. Jumlah siklus dalam penelitian ini sebanyak 4 siklus. Setiap tahapan dalam siklus lesson study terdiri atas plan, do, see. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif kualitatif. Hasil siklus 1 sampai IV menunjukan peningkatan hasil rata–rata kelas yaitu 61-80. Dari hasil wawancara, respon positif mahasiswa menunjukan nilai 80%-100% atau artinya mahasiswa lebih tertarik belajar. Dari para observer lebih banyak merespon setuju diadakan lesson study. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa implementasi lesson study mampu meningkatkan hasil belajar mengkaji novel berdasarkan pendekatan ekspresif dalam mata kuliah Apresiasi dan kajian Prosa Fiksi.

Kata kunci: Lesson Studi, Hasil belajar, Novel, Pendekatan ekspresif

 


PENDAHULUAN

 

Pencapaian hasil belajar yang optimal merupakan harapan bagi setiap pengajar. Dalam konteks ini pembelajaran mengacu pada proses yang melibatkan dua komponen utama dalam suatu kegiatan belajar mengajar yaitu pengajar (dosen) dan pembelajar (mahasiswa). Faktor lain yang dapat mempengaruhi keberhasilan dalam pembelajaran yaitu sarana dan prasarana pembelajaran, pendekatan, metode dan strategi yang dipilih, serta evaluasi pembelajaran yang digunakan. Disamping itu tujuan yang ingin dicapi oleh masing-masing bidang pembelajaran juga merupakan hal penting yang akan berpengaruh.

Seperti kita ketahui bahwa pada dasarnya bidang pembelajaran bahasa Indonesia mencakup pembelajaran bahasa dan pembelajaran sastra Indonesia. Dalam bidang sastra, pembelajaran dimaksudkan untuk meningkatkan kemampuan dalam mengapresiasi berbagai ragam karya sastra. Effendi (1973) mengemukakan bahwa apresiasi sastra adalah menggauli cipta sastra dengan sungguh-sungguh sehingga tumbuh pengertian, kepekaan pikiran kritis, dan kepekaan perasaan yang baik terhadap cipta sastra.

Menyimak makna apresiasi di atas, maka apresiasi sastra dapat diwujudkan secara langsung maupun tidak langsung. Jamaludin (2003) menekankan bahwa apresiasi sastra secara langsung dapat diwujudkan dengan dengan membaca dan menikmati karya satra kreatif secara langsung dengan segala bentuk dan ragamnya. Adapun apresiasi secara tidak langsung dapat dilakukan dengan berbagai cara yang dipandang dapat menunjang penikmatan dan atau pemahaman terhadap suatu karya sastra.

Salah satu wujud apresiasi sastra di FKIP UNPAK dituangkan dalam mata kuliah Apresiasi dan Kajian Prosa Fiksi. Apabila dikaitkan dengan pemahaman apresiasi yang telah diuraikan di atas, maka apresiasi secara langsung dapat diwujukan dengan kegiatan membaca berbagai karya sastra prosa fiksi dalam berbagai bentuk, baik novel, cerpen, maupun naskah drama. Dalam membaca karya-karya tersebut sebaiknya bukan hanya membaca sinopsisnya, tetapi membaca isi secara keseluruhan. Sedangkan apresiasi secara tidak langsung antara lain dapat dilakukan dengan membaca berbagai kritik sastra, menonton film yang diangkat dari sebuah novel atau drama dan lainnya.

Bertolak dari pemahman apresiasi tersebut, membaca, memahami isi bacaan, dan menikmati hasil kreativitas dari apa yang dibaca oleh pembelajar (mahasiswa) merupakan hal yang tidak boleh dianggap remeh. Bagaimana dapat memotivasi siswa untuk rajin dan gemar membaca karya sastra, inilah yang perlu ditanamkan sejak dini. Untuk selanjutnya diharapkan tumbuh kepekaan pikiran kritis dan kepekaan perasaan yang baik terhadap cipta sastra dalam bentuk prosa fiksi. Sampai saat ini motivasi membaca karya sastra belum sesuai dengan harapan. Dapat dikatakan bahwa motivasi membaca karya sastra belum dimiliki oleh semua pembelajar (mahasiswa). Terbukti dengan masih banyaknya mahasiswa menempuh jalan singkat untuk mengetahui isi karya sastra yang dibacanya, yaitu dengan membaca sinopsis karya yang dibacanya. Kurangnya motivasi untuk membaca inilah berakibat kurangnya pemahaman terhadap apa yang dibacanya.

Untuk itu menjadi pekerjaan dan tugas bagi guru untuk dapat memberikan motivasi belajar dan dapat menciptakan suasana belajar yang kondusif dan menyenangkan bagi pembelajar (mahasiswa). Dengan kata lain pengajar (dosen) dituntut kreativitasnya untuk dapat merancang pembelajaran yang tepat sehingga potensi siswa dapat dikembangkan secara optimal dan siswa mampu mengapresiasi dan mengkaji karya sastra dengan baik. Bahkan lebih dari itu, mahasiswa dapat memanfaatkan karya sastra untuk mengembangkan kepribadian dan memperluas wawasan untuk kehidupannya.

Banyak cara yang dapat dilakukan oleh pengajar (dosen) dalam proses pembelajaran Apresiasi dan Kajian Prosa Fiksi. Salah satunya adalah melalui kegiatan Lesson Study. Melalui kegiatan Lesson Study yang terdiri dari tiga tahapan pokok, yakni plan, do, dan seedalam pembelajaran Apresiasi dan kajian Prosa fiksi.

Dalam mengaplikasikan metode, strategi, media dan teknik pembelajaranyang variatif dalam kegiatan lesson study sebagai salah satu kegiatan pembelajaran berupaya menciptakan suasana pembelajaran yang menyenangkan. Sifat dan keunikannya tersebut mengisyaratkan, betapa pentingnya pengemasan pembelajaran bahasa Indonesia yang mampu membina kompetensi mahasiswa dalam menggunakan bahasa Indonesia secara aktif, inovatif, kreatif, efektif, dan menyenangkan. Untuk mewujudkan tujuan tersebut, penggunaan media yang menarik, inovatif, dan bervariasi merupakan salah satu alternatif yang dapat disediakan.

Penerapan model, pendekatan, strategi, teknik, pembelajaran perkuliahan bahasa Indonesia diharapkan dapat meningkatkan pembelajaran Apresiasi dan kajian Prosa fiksi. Peningkatan pembelajaran Apresiasi dan kajian Prosa fiksi ini dapat memberi ruang dan peluang yang sangat bebas kepada para mahasiswa untuk belajar secara aktif dan kreatif kapan pun dan di mana pun mereka berada, tetapi dalam pemantauan yang terarah dan terbimbing.

Fokus penelitian ini adalah peningkatkan hasil belajar mengkaji novel berdasarkan pendekatan ekspresif dalam mata kuliah Apresiasi dan kajian Prosa fiksi mahasiswa semester IVProdi Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP, Universitas Pakuan, Bogor.

KAJIAN PUSTAKA

  1. Pengertian Novel

Kata novel berasal dari kata Latin novellus yang diturunkan pula dari kata novies yang berarti “baru”. Dikatakan baru karena kalau dibandingkan dengan jenis jenis sastra lainnya seperti puisi, drama, dan lain-lain, maka jenis novel ini muncul kemudian(Tarigan 2011:167). Dalam The American College Dictionary (dalam Tarigan 2011:167) kita jumpai keterangan bahwa novel adalah suatu ceritera prosa yang fiktif dalam panjang yang tertentu, yang melukiskan para tokoh, gerak serta adegan kehidupan nyata yang representatif dalam suatu alur atau suatu keadaan yang agak kacau atau kusut.

Dari segi panjang cerita, novel jauh lebih panjang daripada cerpen. Oleh karena itu, novel dapat mengemukakan sesuatu secara bebas, menyajikan sesuatu secara lebih banyak, lebih rinci, lebih detil, dan lebih banyak melibatkan berbagai permasalahan yang lebih kompleks (Nurgiyantoro, 2000: 11).

Abrams dalam Nurgiyantoro(2007:4), novel sebagai sebuah karya fiksi menawarkan sebuah dunia, dunia yang berisi model kehidupan yang diidealkan, dunia imajinatif, yang dibangun melalui berbagai unsur intrinsiknya seperti peristiwa, plot, tokoh(dan penokohan), latar, sudut pandang, dan lain-lain yang kesemuanya tentu saja juga bersifat imajinatif. Selanjutnya menurut Kosasih(2003:250), novel adalah karya imajinatif yang mengisahkan sisi utuh atas problematika kehidupan seseorang atau beberapa orang tokoh.

Dari beberapa pendapat tersebut di atas, pada dasarnya novel merupakan cerita fiksi yang bersifat imajinatif, dalam panjang tertentu dan dibangun melalui berbagai unsur intrinsik seperti peristiwa, plot, tokoh(dan penokohan), latar, sudut pandang, dan lain-lain

Novel sebuah karya prosa fiksi yang mencakup gambaran dari kehidupan dan perilaku nyata. Jadi dapat disimpulkan bahwa novel adalah sebuah karangan prosa fiksi dari gambaran kehidupan nyata, bersifat imajinatif, dalam panjang tertentu dan dibangun melalui berbagai unsur seperti peristiwa, plot, tokoh(dan penokohan), latar, sudut pandang, dan lain-lain.

  1. Pendekatan Dalam Mengkaji Karya Sastra

Ada beberapa pendekatan yang dapat dipilih untuk mengkaji karya sastra. Pendekatan yang paling dikenal adalah pendekatan yang dikemukakan oleh Abrams. Menurut Abrams, dalam Kinayati (2005: 31), menurut Abrams ada 4(empat macam pendekatan untuk memahami, menganalisis, atau mengkaji karya sastra, yaitu

  1. Pendekatan mimetik
  2. Pendekatan ekspresif
  3. Pendekatan Pragmatik
  4. Pendekatan obyektif

Dari keempat macxam pendekatan tersebut, dapat dijelaskan sebagai berikut:

  1. Pendekatan mimetik

Adalah pendekatan yang memandang bahwa kenyataan yang memberi makna kepada karya sastra, karena karya sastra dianggap sebagai tiruan(mimesis kenyataan.

Pendekatan ini bertolak dari pemikiran bahwa karya sastra merupakan refleksi kehidupan nyata. Refleksi ini terwujud berkat tiruan dan gabungan imajinasi pengarang terhadap realitas kehidupan atau realitas alam. Hal tersebut didasarkan pandangan bahwa apa yang diungkapkan pengarang dalam karyanya pastilah merupakan refleksi atau potret kehidupan atau alam yang dilihatnya. Potret tersebut bisa berupa pandangan, ilmu pengetahuan, religius yang terkait langsung dengan realitas. Pengarang, melalui karyanya hanyalah mengolah dari apa yang dirasakan dan dilihatnya. Itulah sebabnya ide yang dituangkan dalam karyanya tidak bisa disebut sebagai ide yang original. Semuanya hanyalah tiruan (mimetik) dari unsur-unsur kehidupan nyata yang ada.

  1. Pendekatan Ekspresif

Pendekatan ekspresif adalah pendekatan yang memandang bahwa pengaranglah yang memberi makna kepada karya sastra, maka telaah sastra hendaknya memusatkan perhatiannya kepada pengarang. Pendekatan ini dititik beratkan pada eksistensi pengarang sebagai pencipta karya seni. Sejauh manakah keberhasilan pengarang dalam mengekspresikan ide-idenya. Karena itu, tinjauan ekspresif lebih bersifat spesifik. Dasar telaahnya adalah keberhasilan pengarang mengemukakan ide-idenya yang tinggi, ekspresi emosinya yang meluap, dan bagaimana dia mengkomposisi semuanya menjadi satu karya yang bernilai tinggi.

Komposisi dan ketepatan peramuan unsur-unsur ekspresif di sini akhirnya menjadi satu unsur sentral dalam penilaian. Karya sastra yang didasari oleh kekayaan penjelmaan jiwa yang kompleks tentunya mempunyai tingkat kerumitan komposisi yang lebih tinggi dibanding dengan karya sastra yang kering dengan dasar jelmaan jiwa.

  1. Pendekatan Pragmatik

          Pendekatan Prgmatik adalah pendekatan yang memandang bahwa pembaca sebagai pemberi makna karya sastra. Pendekatan pragmatik memberikan perhatian utama terhadap peranan pembaca. Dalam kaitannya dengan salah satu teori modern yang paling pesat perkembangannya, yaitu teori resepsi. Pendekatan pragmatis dipertentangkan dengan pendekatan ekspresif. Subjek pragmatis dan subjek ekspresif, sebagai pembaca dan pengarang berbagi objek yang sama, yaitu karya sastra. Perbedaannya, pengarang merupakan subjek pencipta, tetapi secara terus-menerus fungsi-funsinya dihilangkan, bahkan pada gilirannya pengarang dimatikan. Sebaliknya, pembaca yang sama sekali tidak tahu-menahu tentang proses kreativitas diberikan tugas utama bahkan dianggap sebagai penulis (rewritten).

Pendekatan pragmatik dengan demikian memberikan perhatian pada pergeseran dan fungsi-fungsi baru pembaca tersebut. Secara historis (Abrams, 1976: 16) pendekatan pragmatik telah ada tahun 14 SM, terkandung dalam Ars Poetica (Horatius). Meskipun demikian, secara teoritis dimulai dengan lahirnya strukturalisme dinamik. Stagnasi strukturalisme memerlukan indikator lain sebagai pemicu proses estetis, yaitu pembaca (Mukarovsky).

Pada tahap tertentu pendekatan pragmatis memiliki hubungan yang cukup dengan sosiologi, yaitu dalam pembicaraan masyarakat pembaca. Pendekatan pragmatis memiliki manfaat terhadap fungsi-fungsi karya sastra dalam masyarakat, perkembangan dan penyebarluasan, sehingga manfaat karya sastra dapat dirasakan. Dengan indikator pembaca dan karya sastra, tujuan pendekatan pragmatis memberikan manfaat terhadap pembaca. Pendekatan pragmatis secara keseluruhan berfungsi untuk menopang teori reseptif, teori sastra yang memungkan pemahaman hakikat karya tanpa batas.

Pendekatan pragmatis mempertimbangkan implikasi pembaca melalui berbagai kompetensinya. Dengan mempertimbangkan karya sastra dan pembaca, maka masalah-masalah yang dapat dipecahkan melalui pendekatan pragmatis, diantaranya berbagai tanggapan masyarakat tertentu terhadap sebuah karya sastra, baik dalam kerangka sinkronis maupun diagkronis. Teori-teori postrukturalisme sebagian besar bertumpu pada kompetensi pembaca, sebab semata-mata pembacalah yang berhasil untuk mengevokasi kekayan khazanah kultural bangsa.

  1. Pendekatan Obyektif

Pendekatan obyektif adalah pendekatan yang memandang bahwa karya sastra bersifat otonom, artinya karya sastra memberi makna pada dirinya sendiri dan tidak perlu ditelaah melalui faktor diluar karya itu. Pendekatan yang mendasarkan pada suatu karya sastra secara keseluruhan. Pendekatan yang dilihat dari eksistensi sastra itu sendiri berdasarkan konvensi sastra yang berlaku. Konvensi tersebut misalnya, aspek-aspek intrinsik sastra yang meliputi kebulatan makna, diksi, rima, struktur kalimat, tema, plot, setting, karakter, dan sebagainya. Yang jelas penilaian yang diberikan dilihat dari sejauh mana kekuatan atau nilai karya sastra tersebut berdasarkan keharmonisan semua unsur-unsur pembentuknya. Karena patokan pendekatan objektif sudah jelas, maka sering sekali pendekkatan ini di sebut dengan pendekatan struktural.

  1. Lesson Study

Salah satu alternatif untuk meningkatkan kualitas pembelajaran/perkuliahan di Perguruan Tinggi adalah dengan melaksanakan Lesson Study. Lesson Study merupakan suatu model pembinaan profesi pendidik melalui pengkajian pembelajaran secara kolaboratif dan berkelanjutan, berlandaskan prinsip-prinsip kolegialitas yang saling membantu dalam belajaruntukmembangun komunitas belajar.

Lesson Study berasal dari Jepang (dari kata: jugyokenkyu) yaitu suatu proses sistematik yang digunakan oleh dosen-dosen Jepang untuk menguji keefektifan pengajarannya dalam rangka meningkatkan hasil pembelajaran (Garfield, 2006). Proses sistematik yang dimaksud adalah kerja dosen-dosen secara kolaboratif untuk mengembangkan rencana dan perangkat pembelajaran, melakukan observasi, refleksi dan revisi rencana pembelajaran secara bersiklus dan terus menerus. Menurut Lewis (2002) ide yang terkandung di dalam Lesson Study sebenarnya singkat dan sederhana, yakni jika seorang dosen ingin meningkatkan pembelajaran, salah satu cara yang paling jelas adalah melakukan kolaborasi dengan dosen lain untuk merancang, mengamati dan melakukan refleksi terhadap pembelajaran yang dilakukan.

METODOLOGI PENELITIAN

Penelitian dilaksanakan di Semester IV kelas A dan D Pogram Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP Universitas Pakuan Bogor. Penelitian ini pada semester genap tahun pelajaran 2013/2014 dengan jumlah mahasiswa 58 orang. Penelitian ini menggunakan dua teknik pengambilan data, yaitu teknik tes dan teknik nontes.

Setelah seluruh perencanaan disiapkan, proses pembelajaran dilaksanakan pada semester IVProdi Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP Universitas Pakuan Bogor sesuai dengan jadwal penelitian yang disusun berdasarkan jadwal pelajaran Bahasa Indonesia di kelas tersebut. Setiap tatap muka berlangsung selama 2 X 50 menit. Siklus pertama berlangsung selama 4X tatap muka dan siklus kedua berlangsung selama 4X tatap muka. Pada tahap refleksi, data yang diperoleh melalui pengamatan dianalisis pada setiap siklusnya. Hasil analisis data dijadikan bahan evaluasi dan refleksi untuk pelaksanaan siklus berikutnya.


 

PEMBAHASAN HASIL

  1. Tahap Plan

Tahap plan yang dilaksanakan pada setiap siklus digambarkan melalui tabel di bawah ini:

Tabel 4.1 Pelaksanaan Plan

Dosen Model Hari,

tanggal

Siklus Waktu Tempat Kolaborator
Aam Nurjaman, M.Pd Senin, 19 Mei 2014 pukul 1 10.00-11.30 Ruang Dekanat Wildan F Mubarock, M.Pd. Suhendra, M.Pd. Dra. Sri Rahayu, Aam Nurjaman, M.Pd.
Dra. Sri Rahayu Dwiastuti Kamis, 22 Mei 2014 2 12.15-13.00 A.21 Suhendra, M.Pd. Aam Nurjaman, M.Pd, Wildan Fauzi Mubarock, M.Pd.
Aam Nurjaman, M.Pd Jumat, 6 Juni 2014 3 15.55-16.25 A. 21 Wildan Fauzi Mubarock, Dra. Sri Rahayu, Aam Nurjaman, M.Pd.
Dra. Sri Rahayu Dwiastuti Kamis, 12 Juni 2014 pukul 4 13.15-14.00 Ruang Dekanat Wildan Fauzi Mubarock, Aam Nurjaman, ,M.Pd. Sandi Budiana, M.Pd


Siklus 1

Pada siklus 1 sesuai dengan plan yang menjadi dosen model Aam Nurjaman M.Pd. dilaksanakan Senin, 19 Mei 2014 pukul, pukul 13.00 s.d. 14.00 bertempat di ruang dekanat dengan kolabolator Wildan F Mubarock,M.Pd., Suhendra, M.Pd. Dra. Sri Rahayu, Aam Nurjaman, M.Pd.. Pada Plan siklus 1 menghasilkan beberapa kesepakatan untuk pelakasanaan do. Pada tahap plan dirancang chapter design dan lesson design (terlampir) tentang materi pendekatan ekspresif mengkaji Novel Pulang karya Leila S. Chodori, media pembelajaran yang akan digunakan berupa film dokumenter,

Siklus 2

Pada siklus 2 sesuai dengan plan yang menjadi dosen model Dra. Sri Rahayu Astuti. dilaksanakan Kamis, 22 Mei 2014, 12.15-13.00 bertempat di ruang A.21 dengan kolabolator Suhendra, M.Pd. Aam Nurjaman, M.Pd, Wildan Fauzi Mubarock, M.Pd. Pada Plan siklus 2 menghasilkan beberapa kesepakatan untuk pelakasanaan do. Pada tahap plan dirancang chapter design dan lesson design (terlampir) untuk materi pendekatan ekpresif mengkaji novel Cinta Suci Zahrana Karya Habiburrahman El Shirazy dengan menggunakan media pembelajaran yang akan digunakan berupa film Cinta Suci Zahrana karya Habiburrahman El Shirazy

Siklus 3

Pada siklus 3 sesuai dengan plan yang menjadi dosen model Aam Nurjaman, M.Pd. dilaksanakan Jumat, 6 Juni 2014, pukul 15.55-16.25 bertempat di A. 21 dengan kolabolator Wildan Fauzi Mubarock, Dra. Sri Rahayu, Aam Nurjaman, M.Pd… Pada Plan siklus 3 menghasilkan beberapa kesepakatan untuk pelakasanaan do. Pada tahap plan dirancang chapter design dan lesson design (terlampir) untuk materi pendekatan ekpresif dengan mengkaji beberapa novel.

  • Laskar Pelangi
  • Hafalan Salat Delisa
  • Negeri 5 Menara
  • Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci angin
  • Tanah Ombak

Siklus 4

Pada siklus 3 sesuai dengan plan yang menjadi dosen model Dra. Sri Rahayu Dwiastuti. dilaksanakan Kamis, 12 Juni 2014 pukul 13.15-14.00 bertempat di A. 21 dengan kolabolator Wildan Fauzi Mubarock, M.Pd, Aam Nurjaman, ,M.Pd. Sandi Budiana, M.Pd.. Pada Plan siklus 4 menghasilkan beberapa kesepakatan untuk pelakasanaan do. Pada tahap plan dirancang chapter design dan lesson design (terlampir) untuk materi pendekatan ekpresif dengan mengkaji beberapa novel yang berbeda dengan novel-novel di siklus 3. Berikut jenis-jenis novel :

  • Ayat-ayat Cinta
  • Tenggelamnya Kapal Vanderwick
  • Asalamualaikum Bejing
  • (Bukan )Salah Waktu
  • Rembulan Tenggelam di Wajahmu

Tahap Do dan See

 

Dosen Model Hari, Tanggal Siklus Waktu

Do             See

Ruang Observer
Aam   Nurjaman, M.Pd. Kamis, 22 Mei 2014 1 08.00-10.30

 

 

10.30-12.00 A.21 Wildan F Mubarock, Suhendra, M.Pd.

Dra. Sri Rahayu,

Roy Efendi, S.Pd.

Dra. Sri Rahayu Dwiastuti, Jumat, 6 Juni 2014 2 13.00-15.10 15.15-15.50 A.21 Tri Mahajini, M.Pd. Rina Rosdiana, M.Pd. Suhendra, M.Pd. Aam Nurjaman, M.Pd, Wildan Fauzi Mubarock, M.Pd. Roy Efendi, S.Pd
Aam Nurjaman, M.Pd. Kamis, 12 Juni 2014 pukul 3 10.00-12.10 12.15-13.00 A.21 Wildan Fauzi Mubarock, Dra. Sri Rahayu, Suhendra, M.Pd.
Dra. Sri Rahayu Dwiastuti Senin, 23 Juni 2014 4 13.00-15.10 15.15-15.50 A.21 Wildan Fauzi Mubarock, Aam Nurjaman, ,M.Pd. Sandi Budiana,

 

Kekurangan dan Kelebihan Pembelajaran Apresiasi dan Kajian Prosa Fiksi Berdasarkan Pengamatan Observer setiap Siklus

DOSEN MODEL KEKURANGAN KELEBIHAN
Aam Nurjaman, M. Pd

 

Siklus 1

Ø  Managemen waktu

Ø  Pemutaran film dokumenter kurang berhasil

Ø  Beberapa mahasiswa belum membaca novel secara keseluruhan

Ø  Kajian dengan menggunakan pendekatan ekspresif cakupan mendalam

Ø Pembelajaran menarik dan menyenangkan

Ø Mahasiswa aktif berdiskusi

Ø Mahasiswa berani mengemukakan pendapat dalam persentasi

Dra. Sri Rahayu Dwiastuti

Siklus 2

Ø Pada waktu diskusi kelas, masing-masing kelompok asik berdiskusi dengan kelompoknya tidak memperhatikan kelompok yang sedang persentasi

Ø Media yang digunakan ( Video) tidak maksimal karena waktu

Ø Novel yang dikaji sangat terbatas karena semua kelompok hanya membahas satu novel seharusnya dapat mengkaji beberapa novel

Ø Mahasiswa tertarik dengan diskusi karena tema yang diangkat bertemakan cinta yang islami.

Ø Motivasi belajar tinggi

Ø Mahasiswa mendapatkan pengalaman dan wawasan dalam model pembelajaran yang tidak membosankan

Ø Penggunaan media video menambah semangat belajar karena memvisualisasikan isi novel menjadi bahan diskusi

Aam Nurjaman, M.Pd.

 

Siklus 3

Dalam kegiatan bercerita berantai masih ada yang kurang percaya diri

 

Belum terlihat evaluasi mahaiswa yang berhubungan dengan materi novel yang didapatkan dari hasil kunjungan ke kelompok lain.

Ø Diawali dengan kisah inspiratif yang up to date yang dapat memberikan motivasi belajar.

Ø Model pembelajaran sudah mengefektifkan mahasiswa dalam membaca beberapa novel

Dra. Sri Rahayu Dwiastuti

 

Siklus 4

Ø  Penggunaan bahasa formal dalm diskusi lebih ditingkatkan

Ø  Dalam diskusi tidak terjadi perdebatan

Ø  Dalam persentasi kelompok harus lebih memperhatikan kelompok yang tampil

Ø Pembelaajaran sastra menyenangkan

Ø Tujuan pembelajaran tercapai

Ø Model two stray to stay berjalan dengan lancar

Ø Sudah terlihat evaluasi hasil kunjungan


Data Hasil Belajar Mahasiswa

Hasil pengamatan siklus pertama sampai keempat menunjukkan terjadinya peningkatan nilai rata rata. Siklus satu rata rata kelas 61.1 pada siklus dua nilai rata rata kelas 66 siklus tiga nilai rata rata kelas 79 dan pada siklus ke empat nilai rata-rata kelas sebesar 80. 2 . Peningkatan tersebut berpengaruh pada nilai mahasiswa rata-rata yang diperoleh tiap siklus. Dengan meningkatnya hasil pengamatan kegiatan belajar mengajar berarti menunjukkan kualitas pembelajaran semakin baik. Di bawah ini data keseluruhan hasil pengamatan selama penelitian berlangsung.

Grafik nilai postes


Persentase Kenaikan Tiap Siklus

(RS2-RS1)

Pk   =                      × 100 %

                 RS1

                                       (66-61)

Siklus I dan 2  Pk   =                      × 100%

                                         61

Pk   = 8 %

                                       (   79-66     )

Siklus 2 dan 3 Pk   =                            × 100%

                                               66

Pk   =   19 %

   (80-77)

Siklus 3 dan 4             Pk   =                      × 100%

                                           77

= 3 %

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil temuan penelitian tentang Peningkatan hasil belajar mengkaji novel berdasarkan pendekatan ekspresif melalui pembelajaran lesson study dapat disimpulkan sebagai berikut :

  1. Lesson study yang dalam proses pelaksanaannya memberi kebebasan kepada mahasiswa untuk beraktivitas dan berkreasi sangat relevan diterapkan dalam proses pembelajaran apresiasi dan kajian prosa fiksi.
    1. Lesson study memberikan peluang yang sangat luas, baik kepada dosen maupun kepada mahasiswa untuk berinovasi dan berkreasi dalam pengembangan bahan ajar dan media pembelajaran dalam mata kuliah apresiasi dan kajian Puisi.
    2. Penggunaan Lesson study dapat meningkatkan aktivitas, kreativitas, komunikasi, dan interaksi mahasiswa dalam persiapan, pelaksanaan, dan hasil pembelajaran apresiasi dan kajian prosa fiksi.
    3. Lesson study dapat meningkatkan hasil belajar mengkaji novel berdasarkan pendekatan ekspresif dalam mata kuliah apresiasi dan kajian Prosa Fiksi.

DAFTAR PUSTAKA

 

Aminudin. 2009. Pengantar Apresiasi Sastra. Bandung: Sinar Baru Algensindo.

Djojosuroto, Kinayati. 2005. PUISI Pendekatan dan Pembelajaran.Bandung: Penerbit Nuansa.

Jamaluddin, 2003. Problematik BAHASA DAN SASTRA. Yogyakarta: ADICITA KARYA NUSA.

Kosasih, E. 2003. Kompetensi Ketatabahasaan dan Kesusastraan. Bandung: CV.Yrama Widya.

Nurgiyantoro, Burhan. 2005. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gajah MadaUniversity Press.

Sanjaya, Wina. 2008. Kurikulum dan Pembelajaran Teori dan Praktik Pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Jakarta: Kencana.

Sumardjo, Jakob dan Saini K. M. 1988. Apresiasi Kesusastraan. Jakarta: Gramedia.

Tarigan, Henry Guntur. 1984. Prinsip-Prinsip Dasar Sastra. Bandung: Angkasa.

Waluyo, Herman J. 1994. Pengkajian Cerita Fiksi. Surakarta: Sebelas Maret University Press.

Wellek, Rene dan Austin Warren. 1995. Teori Kesusastraan. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Umum.

Fananie, Zaenuddin. 2002. Telaah Sastra. Surakarta: Muhammadiyah University Press.