Select Page

Wahyu Hidayat : Pendidikan Indonesia Inferior

Wahyu Hidayat : Pendidikan Indonesia Inferior

Melihat kondisi fenomena kehidupan di Indonesia pada saat ini, terdapat banyak pertanyaan yang harus dijawab oleh setiap manusia (insan), yang melakukan aktivitas dilingkungan masyarakat Indonesia. Ada beberapa pertanyaan yang menggelitik, yakni mengapa permasalahan korupsi, pendidikan minim kualitas, kemiskinan, dan tindakan kriminal lainnya. Pertanyaan yang menggelitik tersebut belum dapat penyelesaian yang diharapkaan oleh masyarakat Indonesia, permasalahan tersebut membawa ketidak nyamanan bagi masyarakat Indonesia.

Silang sengkarut kehidupan bermasyarakat bernegara dibumi Indonesia ini, membuat sejumlah ahli, aktivis kemanusiaan, kaum intlektual, agamawan dan semua orang yang peduli berusaha mencari sumberpermasalahannya yang terbesar. Salah satu hasil pemikiran dan renungan adalah pandangan bahwa dunia pendidikan menjadi salah satu penyebab kondisi ketidak stabilan bangsa dan negara. Kestabilan suatu bangsa dan negara harus didasari dari perenungan dan menghayati. Bahwa, untuk mengubah kehidupan masyarakat Indonesia menjadi masyarakat yang adil dan makmur itu semua dari kestabilan dunia pendidikan.

Kita dapat melihat kondisi yang terjadi di Indonesia hari ini. Banyak pejabat menjadi popularitas karna menghadiri panggilan ke gedung komisi pemberantas korupsi (KPK), untuk dimintai keterangan atau dijatuhkan hukuman atas tindakan yang merugikan negara dan bangsa. Dunia pendidikan berperan besar dalam melahirkan generasi bangsa, ujung tombak untuk melanjutkan perjuangan tonggak estafet adalah pendidikan. Timbulnya kejahatan yang tidak bermoral tersebut, menunjukan kepada masyarakat Indonesia bahwa ketidak stabilan pendidikan di negara ibu pertiwi ini.

Kondisi carut marut yang terjadi di Indonesia adalah sebuah struktur yang korup. Jadi, penangkapan oknum orang per orang lalu dipenjara, tidak akan berdampak pada adanya perubahan besar dalam skala luas. Hal yang perlu dilakukan adalah sebuah pemikiran dan tindakan yang benar-benar radikal, berani, dan menyeluruh. Radikal berarti memikirkan permasalahan sampai ke akar-akar terdalamnya, sedangkan menyeluruh berarti mencangkup segala aspek. Keduanya tidak dapat dilaksanakan tanpa sikap dan sifat berani.

Pendidikan Mendesain Kemajuan Negara

Untukk menyelesaikan permasalahan, politik, budaya, ekonomi, sosial, dan kesehatan di Indonesia itu ditentukan oleh kemajuan pedidikan. Pendidikan sangat berperan besar dalam menentukan kemajuan dan keterbelakangan suatu bangsa dan negara. Pendidikan bisa menjadi kekuatan dahsyat manakala digarap secara serius, sejarah telah membuktikan kepada kita bahwa pendidikanlah yang mampu untuk mengusir penjajah di negara ini. Mengutip pendapat reymond kennedy, seorang pakar politik sebelum perang dunia II. Reymod menegaskan bahwa pendidikan merupakan dinamit bagi kolonial, karna pendidikan akan menyadarkan masyarakat terjajah atas hak-haknya.

Dari pendidikan yang intensif, diharapkan masyarakat dapat keluar dari jeratan politik dan ekonomi. Pendidikan memberikan bimbingan, bagai mana menjadi warga negara, memenuhi kewajiban sebagai masyarakat, menggunakan hak-haknya, kebebasannya, pendapat dan cara-cara penyalurannya. Melihat dari manfaat pendidikan untuk umat manusia di dunia ini, seharusnya pemerintah Indonesia sadar bahwa, untuk merubah tatanan kehidupan masyarakat dari permasalahan yang terjadi di Indonesia dapat diselasaikan. Karna pendidikan akan menyadarkan manusia dari kebodohan yang terpelihara. Pemerintah harus melakukan pembenahan pendidikan secara serius, sehingga pendidikn ini menjadi berdaya (pontensial dan fungsional menjadi lokomotif penyelesaian masalah di negara Indonesia ini).

Perlu kita ketahui bahwa pendidikan mampu untuk mendesain masadepan kehidupan masyarakat. Tilaar menyatakan bahwa pendidikan salah satu program yang mampu menyiapkan dan merekayasakan arah perkembangan masyarakat Indonesia masa depan. Bahkan PBB menganggap program pendidikan sebagai salah satu dinamisator dalam pengembangan manusia. Kemudian tilaar menuturkan lagi bahwa proses pendidikan bukan semata-mata mendapatkan profit, tetapi lebih dari itu, untuk mengembangkan potensi siswa/mahasiswa agar menjadi generasi masadepan yang bertanggung jawab membawa masyarakat Indonesia yang lebih maju dan bahagia.

Bangsa yang maju adalah bangsa yang berpendidikan. Negara-Negara Eropa yang maju sebagai hasil dari pendidikan. Demikian pula yang terjadi di Amerika, Australia, Jepang, Cina, Korea selatan, Singapura, dan Taiwan. Berarti kemajuan suatu negara tersebut jelaslah dasarnya dari dunia pendidikan. Disamping pendidikan mampu mengantarkan kemajuan negara dalam bidang politik, ekonomi, sosial, dan kesehatan. Pendidikan juga mengantarkan perkembangan ilmu pengetahuan (sains) dan teklogi modern, Sebagai pertumbuhan peradaban yang maju. A. Malik fadjar menegaskan bahwa, pendidikan merupakan aspek fundamental kea rah resolusi problem peradaban kemanusian, karena peran dan funsinya dalam mengantarkan manusia yang berbudaya beradab tak dapat dibantah.

Dengan demikian, pada akhirnya pendidikan sebagai kegiatan yang terpusat pada pengembangan sumber daya manusia(human resources development) mampu mengangkat harkat, derajat, dan martabat bangsa dan negara. Fadjar kembali menuturkan bahwa, pendidikan sebagai kekuatan human investment dan social capital. Maknanya, semakin terdidik suatu bangsa, semakin baik kondisi sosialnya. Pendidikan harus mampu menciptakan bangsa yang dapat diperhitungkan. S. Nasution juga memberikan penilayan senada bahwa pendidikan dapat menetukan kedudukan, rasa harga diri, dan rasa ketentraman hidup.

Tujuan Pendidikan memanusiakan manusia, Bukan Nilai Sekolah atau Ijazah

Sistem pendidikan di Indonesia sangat minim memberikan kualitas bagi generasi muda Indonesia yang mengikuti proses belajar dan mengajar disatuan pendidikan yang diselengarakan secara terorganisir dan tersistematis, yaitu didalam pendidikan formal (sekolah). Dewasa ini, kita sebagai pelajar Indonesia dapat merasakan bahwa pendidikan yang kita jalankan dalam aktivitas kita sehari-hari hanya menuntut kita agar lebih memproritaskan nilai dan ijazah. Djohar menegaskan, Hasil pendidikan kita dengan kurikulum apa pun sekarang ini adalah sama, kebodohan, dan hanya mereka yang sanggup keluar dari sistemlah yang selamat. Itu lah pandangan tokoh diatas tentang krikulum pendidikan diindonesia pada saat ini.

Padahal kalau kita renungi, pendidikanlah yang berjasa dalam memajukan peradaban dunia, seperti kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang kita nikmati saat ini. Generasi Indonesia adalah pewaris bagi Indonesia, yang akan menentukan peradaban Indonesia untuk kedepannya. Tetapi sistem pendidikan Indonesia telah mengkelabui pemikiran genersi Indonesia, bahwa didalam pendidikan yang wajib di utamakan (proritaskan) adalah nilai dari hasil ujian yang diselenggarakan dalam setiap satu semester (enam bulan sekali).

Didalam Bahasa latin terdapat perkataan“non scolae vitae discimus” artinya kita belajar bukan untuk nilai sekolah, namun demi nilai kehidupan.

Sesungguhnya peran pendidikan yang paling mulia adalah melahirkan generasi yang berkualitas, generasi yang berkualitas dalam ilmu pengetahuan akan memberikan nuansa kehidupan yang berkualitas pula. Generasi yang berkualitas adalah generasi yang dapat menggunakan potensi fisik dan psikisnya untuk melihat dan merespons lingkungan sosial. Semakin tinggi kualitas generasi Indonesia, maka semakin dapat dipastikan bahwa generasi Indonesia menjalankan kehidupan dilingkungan sosial secara beradab.

Dengan sistem pendidikan seperti saat ini, maka yang lahir bukanlah generasi yang mampu memperbaharui kehidupan lingkugan social. Tetapi, pendidikan akan melahirkan tenaga kerja-tenaga kerja terdidik konserpatif. Tilaar mengatakan bahwa, sistem pendidikan kita terkenal sebagai suatu sistem yang menghasilkan robot-robot tanpa berfikir kreatif.

Kesenjangan dikalangan peserta didik, Djohar melaporkan, mereka mempelajari ilmu, tetapi tidak memperoleh budaya ilmu, karena mereka hanya diajak menjadi makelar pengetahuan tanpa mempelajari melalui proses iqra’ terhadap fenomena alam dan kehidupan nyata. Akhirnya, mereka menjauh dan tidak mampu menghadapi kehidupan nyata yang penuh dengan problamatika kehidupan. Mereka boleh membaca, tetapi tidak pernah mencoba, memahami, dan menghayati bacaannya sehingga tidak mengerti apa inti sari dari yang dimaksut. Mereka tidak memiliki target dalam mempelajari ilmu, sehingga tidak mengukur keberhasilan belajarnya. Sementara itu, guru atau dosen menyerukan belajar kepada siswa/mahasiswa, mereka tidak mengajari peserta didik itu, mereka tidak mengkondisikan situasi akademik yang mampu menyedot perhatian peserta didik. Mereka hanya mengajar, tetapi tidak mendidik. Mereka hanya menyampaikan pelajaran/mata kuliah, tetapi tidak pernah menyelami gejolak batin atau problem-problem psikologis yang dialami peserta didik. Disebabkan, mereka mengambil jarak dengan peserta didik.

Sudah saat nya kita sebagai generasi terpelajar merenungi kesalahpahaman tentang tujuan dari pendidikan di negara Indonesia ini, untuk merubah semua, kegagalan, ketidakmampuan kebodohan, demoralisasi, kekacauan hingga komersialisasi yang dipaparkan tersebut hanya sekedar contoh sebaahagian kecil dari sekian banyak kasus yang merugikan bangsa Indonesia. Masalah pendidikan di Indonesia tidak pernah habis dikritik, direnungkan, disesalkan, dan dibicarakan oleh orang-orang yang memiliki kepedulian. Pendidikan di Indonesia belum mampu menjawab kebuntuan problem yang dihadapi masyarakat.

Demikianlah realitas (das sein)pendidikan di Indonesia yang jauh dari cita-citanya (das sollen). Mestinya pendidikan berperan sebagai pemecah masalah(problem solver), yang terjadi malah sebaliknya sebagai pembuat masalah(problem maker). Semoga permasalahan dinegeri ini, dapat deselesaikan dengan adanya kesadaran bahwa yang mampu merubah atau menyelesaiakan berbagai permasalahan, politik, ekonomi, sosial, budaya dan kesehatan adalah pendidikan yang sesuai dengan pendidikan yang dicita-citakan, yaitu pendidikan yang mewujudkn generasi yang produktif, kreatif, aktif, mandiri, kritis, percaya diri, bertakwa, berakhlak mulia.

Menyadari bahwa pendidikanlah yang akan memperkenalkan kepada manusia bahwa harkat dan martabat suatu bangsa itu hanya dapat diungkapkan nya melalui pahlawan tampa jasa yaitu Pendidikan Pahlawan Bagi Indonesia.

Wahyu Hidayat
(Mahasiswa Fakultas HukumUniversitas Pakuan)

KOMENTAR

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *