Cerpen “Allah Masih Sayang Kita” Karya Nurul Khoyimah

Semasa kecil, aku hanya mendengar berbagai macam berita, bencana dan peristiwa melalui media telekomunikasi. Yaa, contoh sederhananya adalah televisi, karena aku lahir di era 90an dimana media online tidak mudah dan merambah seperti sekarang ini. Namun kini semua kejadian, peristiwa dan bencana seolah berada di depan mata. Gusaran kecemasan dan ketakutan kini aku rasakan. Peristiwa apa ?

Ya, ledakan bom bunuh diri yang terjadi di terminal Kampung Melayu, Jakarta Timur semalam sekitar pukul 21:00 WIB.

Aku ingin membagikan sedikit cerita kecemasan, dan rasa syukur yang amat berlimpah karena Allah masih sayang terhadap kita.

Bacaan Lainnya

Seperti biasa, aktifitas malamku sepulang bekerja dilanjut dengan kegiatan belajar. Aku mengikuti kuliah malam di sebuah perguruan Tinggi Swasta. Letaknya tidak jauh dari terminal tersebut. Seharusnya ada dua sesi mata perkuliahan, tapi semalam hanya jam pertama berlangsung pukul 18:30-20:00. Pada sesi jam kedua kelas kami masih menunggu dosen pengajar hingga kami mendapatkan kabar tidak ada mata kuliah karena alasan tertentu sehingga kami pun membubarkan kelas pukul 20:30.

Kami sepakat pulang, aku dan temanku yang satu arah perjalanan biasa menggunakan transportasi umum TJ (Trans Jakarta). Tapi kondisi semalam memang jalanan masih ramai, dan memang sedang begitu macet tak seperti malam biasanya. Kami memutuskan menggunakan fasilitas ojek online.

Kami berdua melakukan order ojek online dengan tujuan masing-masing, hingga datanglah ojek pesananku terlebih dahulu. Aku menyempatkan menunggu orderan temanku datang. Tapi dia mengijinkan aku untuk jalan terlebih dahulu. Karena kondisi kampus masih ramai dan masih ada teman yang lain disana.

Peristiwa ledakan bom tersebut terjadi di area halte Trans Jakarta Kampung Melayu. Selang beberapa menit setelah ojek online yang aku tumpangi melewati area itu. Selama perjalanan masih terasa aman dan lancar aku pun tak merasakan was-was sedikitpun. Karena ketika malam kami memang memotong perjalanan untuk jarak yang lebih dekat dengan melewati area halte Trans Jakarta tersebut, ini memang kebiasaan buruk pula. Setelah malam hari tidak ada petugas TJ yang menjaga, jalanan itu biasa digunakan oleh semua orang untuk memotong jarak yang lumayan jauh.

Jarak antara terminal menuju rumah kostanku hanya sekitar 500m kira-kira 6 menit perjalanan aku tiba di rumah. Tak selang berapa lama, dentuman ledakan tersebut terdengar jelas dari rumah. Aku dan Mama masih saja bercanda dengan nada yang asyik kami bercerita.

“ Duuuummbbb” ledakan pertama terjadi.

Aku : “ Suara bom itu mah “ masih dengan nada yang santai.

Mama : “ ahhh, gak mungkin” dengan raut wajah yang tak percaya.

Sekitar 5 menit kemudian terdengar ledakan kedua dengan intensitas suara cukup rendah, namun kami mulai merasakan was-was dan gelisah. Tak sengaja aku langsung mengecek handphone karena sudah ada beberapa chat masuk. Salah satunya dari temanku yang satu arah rumah denganku, aku memanggilnya Nay.

Nay : “ Ka udah sampe ? Huuu, pas banget aku lewat terminal ada bom ;( “

Aku : “ astaghfirullah Nay, Alhamdulillah aku udah sampe, itu beneran bom ?.”

Percakapan kami cukup panjang, dan sebenarnya aku pun hanya bercanda dengan Mamaku sewaktu mendengar dentuman bom yang pertama. Ojek online yang ditumpanginya baru datang dengan jarak cukup lama dariku.

Karena jalur yang kita lewati sama, dia pun akan memotong perjalanan di depan area halte  TJ tersebut. Bersyukurlah dia tak jadi melewati halte tersebut, karena telah mendengar teriakan dan orang-orang di sekitar terminal yang saling berkaburan. Kabar yang dia berikan bahwa ada beberapa anggota polisi di area tersebut yang meninggal karena mereka sedang meneliti di TKP pada ledakan yang pertama terjadi, namun tak ada yang mengetahui masih terjadi ledakan kedua yang merenggut nyawa mereka.

Setelah mengetahui hal tersebut mereka memutuskan untuk melewati jalur memutar menuju  Jatinegara. Meskipun kondisi sudah mulai tak stabil, Alhamdulillah dia sampai di rumah dengan selamat.

Alhamdulillah… Allah masih sayang kita, Dia memberikan jalan lain untuk keselamatan kita. Biasanya kami menaiki TJ dengan rute jalan melewati halte tersebut, tapi Dia menghendaki kami untuk menggunakan alat transportasi lain. Betapa bersyukurnya kami yang masih diberi kesempatan untuk menikmati kehidupan ini.

Rasa was-was ada, rasa takut pasti, tapi tetap ingat bahwa Allah masih sayang kita, Allah masih menjaga kita dimana-mana. Dan Allah pun menyayangi para korban yang ada di tempat peristiwa tersebut. Para anggota kepolisian wafat pada saat mengemban tugas mulianya, tidak hanya mengayomi warganya, tapi mereka menunaikan kewajibannya untuk menolong korban yang ada pada peristiwa tersebut. Meskipun malang mereka malah menjadi korban pada peristiwa itu. Mari kita doakan agar mereka khusnul khotimah dan mendapatkan tempat yang mulia di sisiNya. Dan semua orang yang menjadi korban semoga lekas diberikan keselamatan dan kesembuhan.

Yakinlah banyak manfaat yang akan kita tuai dari peristiwa ini, langkah yang patut kita ambil untuk lebih berhati-hati lagi, banyak berdoa dan selalu mengingat kepadaNya. Tetap waspada dimanapun kita berada, karena kita tak akan tahu kapan, dimana dan apa yang akan terjadi. Bersabar, Allah sedang menguji keimanan kita. Hancurnya moral dan rendahnya keimanan yang kini terjadi di era sekarang, banyaknya peristiwa-peristiwa yang tidak berkeperimanusiaan. Semoga kita masih tetap berada dalam jalan yang lurus dan selalu dalam lindunganNya.

***

Kiriman Nurul Khoyimah, anggota BBB.

IG, FB : noerul_khoyimah

Foto : Nurul Khoyimah, anggota BBB.