Select Page

Cerita Pendek | Metafora Asap

Cerita Pendek | Metafora Asap

CERPEN – “Kamu tahu lelaki tua gembrot yang tinggal di samping tanah kosong itu?” tanya Si Lelaki Paruh Baya itu sambil mengaduk kopi di gelas.

“Samar. Tapi sepertinya aku pernah melihat mukanya. Kenapa?” jawab Herman tanpa perlu kehilangan fokus mengetiknya.

“Aku baru saja mendapati dirinya mati dimangsa anjingnya sendiri”

“Ah, yang benar saja?!” kata Herman kaget. “Kau bisa ceritakan?”

***

Metafora paling tepat untuk Herman adalah asap. Hadirnya hanya untuk mengabarkan keberadaan orang lain. Mudah lenyap dan kemudian hilang. Kurang lebih seperti itulah sejak ia bekerja sebagai penulis berita lepas.
Hari sudah terang dan ia tetap mengulat malas di tempat tidurnya. Badannya menggeliat, matanya merem melek, sementara tangan kanannya tersembunyi di balik celana pendek yang ia kenakan. Tampak gerak tangan itu maju mundur atau naik-turun, seirama dengan desahan kecil dan pendek-pendek yang keluar dari mulutnya. Sesekali ia menyebut salah satu nama, “Rianti, Oh, Rianti..”

Selang beberapa menit gerak tangannya berhenti, diakhiri dengan desahan panjang. Dikeluarkannya tangan itu dari balik celana. Telapak tangan kanannya lengket sebab sperma melumuri hampir di seluruh sela-sela jemarinya yang kemudian ia bersihkan dengan kain selimut. Badannya terkulai lemas. Bagi lelaki lajang sepertinya merancap sudah menjadi kebiasaannya saban pagi. Terlebih melihat wajah jelek dan penampilannya yang selalu kusut, kebiasaannya itu menjadi jalan keluar dari berbagai penolakan banyak perempuan yang ia ajak kencan.

Herman akhirnya berdiri, meski badannya masih merasa lemas. Berjalan menuju kursi di depan meja kerjanya. Memilih puntung rokok paling panjang untuk dibakar. Segumpal asap ia hembuskan dari mulutnya. Mereka meliak-liuk terbang menyesakkan sisi-sisi ruangan. Baunya yang khas cukup membuat kepalanya tenang. Herman menyalakan laptopnya untuk menuntaskan pekerjaan yang ia mulai semalam. Sebuah laporan berita kriminal yang ia tulis berdasarkan kejadian yang ia lihat semalam. Setelah membaca ulang tulisannya, jari-jari tangannya mulai bekerja, mengetuk papan alfabet laptopnya. Membuat beberapa kalimat, melengkapi paragraf-paragraf yang telah ia tulis, sedikit lama, karena satu-dua kali tangannya bergerak ke arah selangkangannya, merapikan lipatan-lipatan celananya yang agak lengket dan basah.

Dalam beberapa saat ia sudah menuntaskan tulisannya, dan pada saat yang sama rokok yang diisapnya sudah pendek. Hembusan asap terakhirnya begitu panjang. Segumpal asap terbang ke udara, bergerak kesana-kemari, meski tak ada angin bertiup. Ia mematikan rokoknya di asbak. Sekarang kepalanya bergerak menoleh ke kanan-ke kiri mencari ponselnya berada.
“Aminas, aku punya sebuah berita untukmu, tapi kau harus membayar untuk berita ini”
“Berita apa?”
“Anak punk yang digorok lehernya hingga nyaris putus”

***

Orang pertama yang melihat atau lebih tepatnya menemukan mayat itu adalah Herman. Ia sedang mengendarai motornya, menuju arah pulang. Tidak ada pemandangan aneh yang ditangkap oleh matanya saat melewati jalan kecil pada malam itu. Jalan kecil di antara dinding tembok gedung tua kosong yang menjulang tinggi dan hamparan padang semak belukar di sisi lain jalan. Jalan yang rusak: penuh lubang, dan bebatuan, memaksa Herman melambatkan laju motornya. Memang tidak ada hal aneh yang ditangkap oleh matanya, tapi tidak dengan telinga dan hidungnya. Ada sejenis desingan suara lalat serta bau busuk dari arah datangnya suara itu. Kejanggalan itu cukup membuat ia langsung menginjak rem dan berhenti.

“Demi Tuhan!” gumamnya sambil menoleh ke belakang. “Bangke manusia lagi?”

Apa yang sering ia temui secara tak sengaja membuatnya langsung mengira seonggok daging busuk yang dikerubungi ribuan lalat itu adalah mayat manusia. Herman langsung berjalan cepat setengah berlari menuju mayat tersebut. Dirinya tertegun sebentar, diam, melihat pemandangan di depannya. Sebuah mayat manusia dengan setelan pakaian khas anak punk terkujur kaku. Kondisinya cukup membuat bulu-bulu halus di leher bergidik. Matanya tak mengatup, melotot dengan lebar. Kepalanya nyaris putus dari batang lehernya. Melihat kondisi tersebut, pikirnya pendek, hanya mungkin dilakukan oleh pembunuh dengan nafsu membunuh yang memuncak dan ide membunuh yang jahil. Pikiran pendek lainnya adalah kebingungannya atas nasibnya yang selalu menemukan kematian tak biasa seperti itu.

Gerombolan lalat masih terbang, berpusing di bagian leher mayat itu. Tidak ada keinginannya untuk melangkah lebih dekat dan mengusir gerombolan lalat itu. Namun tangannya bergerak cepat, merogoh isi kantung celana, dan mengeluarkan ponselnya. Herman menangkap kejadian itu dengan kamera ponselnya sebelum ia mengabari seseorang untuk datang dan kemudian membuat heboh warga sekitar.

***

Kejadian itu bukan kali pertama yang dialami Herman. Ada barang tiga sampai empat kejadian serupa yang ia alami. Sebelum kejadian semalam, ia adalah orang pertama yang mengabari orang-orang di pasar bahwa ada mayat perempuan dengan kondisi perut robek yang memperlihatkan sebagian isi perutnya berceceran. Dua minggu sebelumnya, ketika ia datang ke rumah temannya, ia tersentak kaget saat menemukan lelaki tua berbadan gemuk tergantung mati di balkon dengan leher terikat tambang kencang yang membuat kulit-kulit lehernya terkelupas dan mengeluarkan darah.

Herman sadar ada sejenis keistimewaan dalam dirinya. Dari kematian ke kematian yang ia lihat dan temukan, membawanya menjadi seorang jurnalis lepas. Menulis laporan berita kriminal yang ia dapatkan dari keberuntungan dirinya yang selalu mengantarkannya pada kematian-kematian tak lazim.

***

“Berapa harga yang pas untuk sebuah lagu sedih ini?” tanya Lelaki Paruh Baya itu sembari memetik-metik senar nilon pada gitar bututnya. Ia memang lumayan terampil memainkan gitar, meski hanya satu tembang yang dimainkannya berulang-ulang, disertai lirik-lirik sedih yang diucapkan mulutnya yang selalu kering. Di samping betapa kacaunya suara sumbang itu, makna lirik lagu tersebut cukup membuat hati siapapun yang mendengarnya tersentuh.

“Aku tidak tahu. Mungkin dua juta. Mungkin juga satu lembar dua ribu rupiah,” kata Herman.
“Jika kamu punya berlebih uang, berapa uang yang kamu berikan untuk lagu ini?”
“Haha… aku tidak bisa bermain gitar, lagipula, kalau aku punya uang banyak aku lebih memilih membayarkan pacarku untuk berkaraoke setiap malam.”

***

Sepi menyentak waktu jam dinding berdentang dengan suara yang mengejutkan. Lebih keras dari biasanya. Suaranya meninggalkan gaung panjang. Berpacu dengan bunyi gaung dari detak jantung Herman yang berdetak lebih cepat dan kencang dari biasanya. Atau memang seperti biasa saat ia merasa gugup. Galeto coklat di hadapannya mulai mencair. Tidak terlintas apa pun dari wajahnya bila ia akan menghabiskannya. Perempuan di depannya, Rianti, terlihat sangat menikmati hidangan yang sama. Galeto memang kesukaannya, dan lebih-lebih semua itu dibayar oleh Herman.

“Kamu mengapa tidak pesan kopi saja? Kalau kamu tidak suka itu,” kata Rianti memecah kebisuan.

“Eh, tidak, aku sudah minum kopi siang ini,” Herman sedikit tersentak dari lamunan dan kegugupannya.

“Oh, kalau gitu makan, dong. Terus kamu mau cerita apa?” kata Rianti sembari menyudahi suapan galetonya.

“Eh, tidak ada, eh,…mungkin aku bisa sering mengajakmu kesini.”

“Tidak masalah. Aku memang butuh teman baru untuk diajak bicara. Ya, kamu tahulah, permasalahan dengan pacarku sedikit membuatku penat,” Ucap Rianti yang terus memainkan sendok di tangannya, “Lalu, kamu sekarang bekerja?”

“Bisa dibilang begitu. Aku menulis berita dan dibayar untuk itu.”

“Oh, kamu penulis?”

“Tidak juga. Aku hanya menulis berita. Bukan novel atau puisi,” Herman mengeluarkan bungkus rokok di dalam saku kemejanya, dan mengambil satu batang untuk dibakar, “Bagaimana hubunganmu dengan lakimu itu?”

“Tidak baik, dia tidak selalu ada waktu untukku.”

“Lelaki dewasa selalu butuh waktu untuk bekerja, wajar saja,” Herman mulai mengisap rokoknya.

“Masalahnya perempuan selalu butuh waktu.”

Percakapan dua manusia itu mulai mengalir. Dari cerita ke cerita. Itu yang diinginkan Herman. Menghabiskan siang dengan Rianti—perempuan yang selama ini selalu ia hadirkan secara sengaja dalam fantasinya. Mulai siang itu, Herman terus menepati janjinya untuk bertemu dengan Rianti di hari-hari berikutnya. Mengajaknya makan. Menonton film. Menghadiri konser musik. Dua-tiga kali membelikannya baju. Semua ongkos hanya keluar dari dompet Herman. Ia tidak pernah keberatan untuk semua itu, selama ia terus mendapatkan kematian tragis untuk dibuat berita, uang pun akan terus ia peroleh. Nasibnya baik, selama satu minggu ia kerap kali menemukan kematian orang lain dengan cara yang tak lazim. Bagaimana pun hal itu merupakan nasib baik untuk Herman.

***

Mungkin Herman sedang mengalami nasib baik, meski itu harus dimulai dari pengalamannya menemukan mayat manusia. Tapi sejak kejadian itu, ia memiliki cara untuk dapat terus bersama Rianti, pujaan hatinya, yang sebelum ini hanya dijadikannya objek ketika sedang merancap. Sekali lagi sejak kejadian itu, paginya dimulai dengan kesibukannya membuat berita, menghisap rokok yang diambilnya dari satu bungkus rokok—karena tak ada lagi puntung rokok paling panjang yang diisapnya kembali, dan juga kebiasaan barunya, membaca buku. Hal baiknya, ia tidak lagi perlu merancap. Mungkin selama ia terus bertemu Rianti, lama-kelamaan, dirinya terbiasa dengan tanpa kebiasaan merancapnya itu. Tidak ada lagi Rianti yang hadir di tengah fantasi mesumnya.

***

Langit sore menyemburatkan cahaya jingga kemerahan ke dalam kamar sempit Herman lewat jendela yang dibiarkan terbuka. Wajahnya terpapar cahaya senja, begitu hangat, ketika ia sibuk menulis laporan berita kematian yang ditemukannya siang tadi: kematian lelaki paruh baya yang selama ini menjadi teman bicaranya di warung kopi saban malam. Lagi-lagi ia adalah orang pertama yang menemukan lelaki itu tergantung kaku di kamar kontrakannya dengan tali yang terikat kencang di lehernya hingga mengeluarkan darah. Tidak ada kebenaran yang jelas dan pasti apa motif lelaki itu melakukan bunuh diri. Namun, Herman punya jawabannya sendiri untuk pertanyaan itu berdasarkan cerita yang ia dengar dari lelaki itu di pertemuan terakhirnya, malam itu, di warung kopi tepat sehari sebelum lelaki itu tergantung di dalam kontrakannya.

Pada malam itu Herman pergi ke warung kopi yang biasa ia sambangi, sekaligus merupakan kunjungan pertamanya sejak dua malam terakhir. Kelonggaran waktu di tengah kesibukannya hanya ia luangkan untuk bertemu Rianti. Namun malam itu, ia tidak memiliki janji apapun dengan Rianti, dan juga rokoknya hanya tersisa dua batang lagi, dan juga beberapa alasan lain yang membuat pergi ke warung kopi malam itu adalah keputusan yang tepat.

“Aku mungkin bukan ayah yang baik, dan anakku sangat tidak beruntung dengan segala kenyataan ini”, kata Si Lelaki Paruh Baya sembari mengeluarkan sebatang rokok dari sakunya.

“Eh, bung, aku tidak pernah tahu kau punya anak, dan sejak kapan kau merokok?”, Herman menanggapi lelaki paruh baya itu.

“Aku punya satu anak. Perempuan. Cantik”, jawab lelaki paruh baya seraya membakar rokoknya, “Dan ini rokok pertamaku”, lanjutnya setelah menghembuskan asap rokok pertamanya ke udara.

“Menarik. Lalu, ada apa dengan anakmu?”

***

Malam di hari ditemukannya Si Lelaki Paruh Baya tergantung mati, dan kemudian Herman menulis laporan berita kejadian itu, ia datang ke kamar kos Rianti, menepati permintaan perempuan itu. Tidak seperti hari-hari sebelumnya, untuk pertama kalinya, ia belum sempat menuntaskan tulisannya. Dan untuk pertama kalinya ia ada di kamar kos Rianti.

“Kamu kesepian?”

“Aku tidak kesepian.”

“Lalu ada apa?” tanya Herman. Ia tidak berhenti melihat ke sekeliling kamar Rianti yang baru pertama kali ia sambangi. Di depannya, Rianti, sibuk merapikan baju yang sudah rapi disetrika. “Kau tampak tidak baik. Matamu sembap.”

“Aku tidak kesepian. Hanya saja aku butuh kamu malam ini. Aku ingin cerita.”

“Katakan saja. Aku akan mendengarkan.”

“Bapak meninggal. Dia sakit keras.”

***

Nasib baik seseorang tak ada hubungannya dengan nasib buruk orang lain, dan juga sebaliknya. Dan begitu pun bila kedua nasib itu sama-sama baik, ataupun buruk. Tidak ada hubungannya sama sekali. Itu yang diyakini Herman melihat bagaimana ia memperoleh uang dari pekerjaannya sekarang ini. Malam itu Herman mengetahui banyak hal tentang Rianti. Sebagian dari banyak hal itu tidak bisa Herman telan bulat-bulat. Ada sesuatu yang janggal. Terutama penyebab kematian Bapaknya. Namun untuk urusan itu, Herman tak akan banyak berkata apa-apa. Ia tak ingin membuat Rianti lebih sedih. Meskipun ia tahu Rianti sedang berbohong.

***

“Aku sudah harus pulang”

“Kamu bisa tidur di sini malam ini. Aku sekarang kesepian.”

“Mungkin lain kali”

Mungkin juga tidak sama sekali, kalimat itu yang muncul di benak Herman setelah menutup pintu kamar kos Rianti, dan pergi pulang.

***

Ini bayaranmu untuk berita kemarin, kata Aminas kepada Herman. Ia menyodorkan amplop coklat. Herman menerimanya, dan mengatakan, ini mungkin bayaran terakhirku untuk pekerjaan ini.

“Loh, kenapa?” tanya Aminas.

Dari kematian ke kematian yang ia temukan dan menulisnya demi uang, membuat ia cemas dan merasa bersalah. Tak ada jawaban yang bisa dijelaskan Herman untuk perasaannya itu.

“Aku berharap tidak lagi jadi orang pertama yang melihat orang mati. Aku tahu setiap aku bergantung pada sebuah doa, nasibku tak pernah berubah, tapi untuk urusan ini aku mungkin hanya berdiam diri di kamar. Menghindari segala kemungkinan itu.”

“Terus kamu kerja apa? Lagipula uang darimana buat bayar kosmu itu?”

“Merancap!” jawab Herman dengan nada nyeleneh. “Mengarang cerita. Kau bisa membayarku untuk cerita yang kutulis.”

***

“Anakku melacur semenjak aku tak dapat memberinya nafkah lagi dengan semestinya. Dan untuk yang terakhir itu sudah sangat lama.”

“Kau tahu darimana dia melacur?”

“Ia datang tadi siang. Uang kuliahnya masih dalam tunggakkan. Tentu aku tak bisa berbuat apa-apa. Kemudian ia mengatakan kalau selama ini ia melacur”

“Untuk apa dia datang kepadamu kalau dia tahu kau tak mungkin ada uang?”

“Aku tidak mengerti. Aku hanya merasa tak lagi berguna,” jawab Si Lelaki Paruh Baya itu dengan wajah yang semakin terlihat kusut lebih dari biasanya.

“Anakmu, siapa namanya?” tanya Herman.

Sebelum menjawab pertanyaan Herman, Si Lelaki Paruh Baya mengisap rokoknya dengan tarikan yang panjang dan dalam, lalu menghembuskannya ke udara. Segumpal asap terbang bergumul di depan mukanya.

“Sri Dewi Rianti.”

Cerpen Oleh :
Muhammad Afriza Adha

KOMENTAR

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *