JALAN PUISI; JALAN MUSYI MAMAN S MAHAYANA

Nusantara, dalam konteks kesukubangsaan, dapat dimaknai sebagai wilayah etnik, wilayah budaya, bahkan juga wilayah politik. Kehadiran bahasa persatuan tidak berarti menafikan keberadaan bahasa daerah, melainkan mengakuinya. Meski yang menjadi bahasa persatuan adalah bahasa Indonesia. Dengan begitu, pertanyaan “menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia” seketika menjadikan bahasa Indonesia sebagai alat komunikasi antar suku bangsa dan sekaligus juga berupaya mengatasi bahasa-bahasa etnik.

Perkenalan masyarakat Nusantara pada puisi berkaitan erat dengan sistem kepercayaan yang lalu melahirkan puja-puji yang ditujukan kepada sesuatu yang dianggap pemilik kuasa jagat raya. Personifikasi alam pada hakikatnya merupakan representasi kedekatan masyarakat dengan alam, seperti misalnya gambaran “Gadis yang Cantik” sebagaimana dikutip H. B Jassin. Bentuk puisi yang konon paling tua di Nusantara, bahkan di dunia adalah bidal, yaitu peribahasa atau pepatah yang mengandung nasihat, pesan, sindiran, atau peringatan tertentu untuk menjadi bahan renungan masyarakat.

Puisi adalah karya kreatif dengan bahasa sebagai medianya. Berbeda dengan ragam sastra lainnya, prosa dan drama, puisi mengandalkan citraan, metafora, paradoks, asosiasi, simbiolisme, dan sarana politik lainnya. Oleh karena itu, puisi bermain dengan kosa kata yang dikemas, padat, lugas, dan sekaligus juga memunculkan ambiguitas penafsiran dan pemaknaan. Puisi-puisi etnik Nusantara memang dihadirkan pada awalnya tidak untuk dipahami manusia, melainkan sebagai bentuk komunikasi dengan makhluk gaib. Penciptaan bahasa oleh manusia, pada awalnya berkaitan dengan mitos dan usaha menjalin komunikasi dengan sesuatu yang menghuni alam gaib. Doa-doa tolak bala atau jampi-jampi sejenis itu dapat dimasukan sebagai mantra, yaitu bacaan untuk keselamatan yang diyakini mengandung kekuatan magis. Terlepas dari keyakinan yang berhubungan dengan perkara dunia gaib dan pesan magis, sebagai sebuah teks (sastra), doa-doa tolak bala dan mantra termasuk ktegori puisi. Puisi menjadi sebuah permainan bunyi yang tetap tidak kehilangan daya magisnya, bukan Cuma itu! Puisi adalah teka-teki silang yang menyenangkan; sebuah akrobat kata-kata yang setiap saat berseliweran di depan mata.

Bukti paling awal perkenalan masyarakat di Nusantara pada kegiatan tulis-menulis dapat ditelusuri dari prasasti-prasasti berbahasa sansekerta. Ditemukannya sejumlah prasasti menunjukan dimulainya tradisi tulis. Meskipun begitu, tidak berarti tradisi lisan seketika menghilang begitu saja. Selain naskah-naskah tertulis, baik yang menggunakan aksara daerah, maupun aksara Pegon, Jawi, atau Arab-Melayu, cerita-cerita rakyat masih berupa cerita lisa, seperti mite, legenda, atau hikayat, begitu banyak bertebaran di berbagai daerah di Nusantara ini. Akar dan asal bahasa Indonesia adalah bahasa Melayu, maka mestinya akar dan dasar sastra Indonesia juga bersumber dari sana, yaitu kesussastraan Melayu.

Sampai sekarang, tidak sedikit penyair Indonesia yang masih setia menulis puisi dalam bahasa ibu, seperti Bali, Batak, Jawa, Minang, Sunda, dan seterusnya. Mungkin lebih tepat dikatakan sebagai sastra atau puisi Nusantara yang tidak sama dengan sastra atau puisi Indonesia. Kajian (kritil sastra) tentang sastra (puisi, prosa, drama) Indonesia dalam beberapa decade ini berkutat pada strukturalisme. Teks sastra dibongkar berdasarkan strukturnya, dan tidak menyentuh persoalan yang melatar belakangi  pesan yang mengedepankannya. bersambung

 

(Mut,Pin,Yul,Nur/fwz)*