Pak Atih ; Tani Gurem dan Kenangan Tanah Milik

Dia katakan usianya 60 lebih karena tahun 1955 sudah ikut-ikutan pemilu, waktu itu dia ingat  pak Karno (PNI) katanya. Kalau benar ceritanya itu usianya Pak atih aku perkirakan 70 tahunan.  Warga Cipanggulan , Desa Candali. Beliau Atih saya kenal sejak tahun 2006 ketika aku menggarap lahan lahan terlantar AURI di desa Candali untuk diolah menjadi sawah padi dan sayuran.

Pak Atih adalah salah satu penggarap bersama saya dan warga lainnya. Tanah garapan tersebut  akhirnya aku beli dari para anggora TNI AU yang umumnya sudah pensiun dan tidak kuat menggarap tanah milik mereka.

Bacaan Lainnya

Pak atih adalah  petani gurem (gurem bermakna gelap,tanpa kejelasan, miskin, tak punya lahan), biasanya menggarap lahan orang lain.

Tanah yang dimiliki para anggota TNI AU tesebut ternyata tanah tanah milik warga desa Candali  termasuk tanah orang tua pak Atih yang dibebaskan oleh koperasi TNI AU sekitar tahun 1992/93 . Orang tua pak Atih memiliki tanah 4000m2 saat itu dan dijual dengan harga  Rp3000/m2. Hasilnya dibagi 8 ahli waris. Pak atih ingat ia kebagian Rp 1.500.000 Untuk membangun rumah yang saat itu harga semen 1 zak Rp2000an.

Saat ini ia menggarap lahan tanah bekas milik  orang tuanya yang statusnya tanah milik saya, dan disela sela itu mencari rumput untuk pakan 10 ekor kambingnya (1 ekor dicuri orang yang paling besar menjelang lebaran ini).

Pak atih tidak punya lahan lagi . Ia hanya menggarap lahan milik saya yang saya ijinkan untuk ditanami; terong, kangkung dll. Anak-anaknya tidak ada yang menjadi petani (karena tidak punya lahan).

Ini fenomena yang umum terjadi di daerah Bogor; tanah pertanian milik dijual kemudian menjadi penggarap lahan tersebut atas ijin pemilik yang baru. Mereka akan berhenti menggarap lahan dan kehilangan mata pencaharian tatkala lahan tersebut dijadikan area komersil; industri atau perumahan.

Aku sendiri bertekad tidak akan menjadikan lahan milikku seluas 12 hektar lebih yang digarap oleh pak Atih ,dan petani yang sama dengan Atih ( marki, utar, diro, madun dll) menjadi lahan industri atau perumahan, kerena tanah tesebut adalah sumber hidup mereka. Kalau aku sebagai pemiliknya menjual maka mereka akan kehilangan sumber penghidupan.

Kehidupan petani gurem mantan pemilik lahan adalah ironi; mereka akan berada pada jalur kemiskinan struktural yang akan menjalani ritus hidup seadanya kemudian meninggal dunia dalam kemiskinan.

Waktu aku tanya apa ada bantuan pemerintah untuk para petani, pak atih bilang tadak tahu. Mungkin memang tidak ada.

Ini adalah ironi; pemerintah ada untuk mensejahterakan warganya. Bogor kabupaten maupun kota (sebagian) adalah wilayah pertanian; ada Bupati dan Walikota, DPRD yang diisi para politisi partai yang tampilannya keren-keren (bawa mobil pakai sirene dan pengawalan) juga di Bogor ada INSTITUT PERTANIAN BOGOR tetapi lingkaran kemiskinan struktural pada petani terus berputar.

Apa ada yg salah dengan diri kita?

Salam dari Pak Atih untuk Bupati, Walikota dan para Politisi

 

 

Sugeng Teguh Santoso, SH

(Calon Walikota Bogor 2018)