Bogor, 14 februari 2018. Pagi ini sekitar pukul 04:00 pagi, sebelum adzan Subuh berkumandang. Menyisakan udara dingin selepas Malam Hari turun hujan. Bu Dede Rohani telah bersiap Untuk mengagendakan kegiatan Untuk Hari INI.

Rumah kecil yang berada di Jl.Raya tajur Gg. Babadak Rt.01/04 no.127 Kel. Sindangrasa kec. Bogor Timur INI terasa hangat. Pagi dimana kebanyakan orang dinyamankan dengan kasur empuknya. Disini Mereka berdiskusi Dan berfikir Bagaimana nasib Anak asuhnya hari ini.

Sekitar tahun 1998 adalah tahun dimana krisis ekonomi melanda Negeri. Kelaparan Dan penjarahan terjadi dimana-mana. Banyak orang kehilangan usaha Dan mata pencahariannya. Terlihat seorang Anak kecil memungut makanan-makanan sisa yang sudah bercampur dengan sampah. Pada Hari Itu kebetulan terlihat oleh Ibu Dede Rohani yang kemudian mengetuk hatinya Untuk berusaha Bagaimana caranya Dapat membantu orang kecil tidak mampu ditengah kondisi Serba susah pada waktu Itu. Sambil mengenang dengan penuh luapan semangat terlihat dari gerak tubuhnya.

Tajur merupakan daerah dimana imbas reformasi Dapat dirasakan. Krisis ekonomi yang terjadi merupakan waktu yang dikenal dengan masa paceklik. Zaman serba sulit. Maklum saja Bogor Salah satu tempat dimana fungsi-fungsi ekonomi bertemu dari berbagai tempat. Sehingga meskipun banyak tanah Dan perkebunan luas namun itu semua banyak dikuasi elit lokal dan ibukota. Sehingga pribumi banyak menjadi buruh dan ekonomika rumah tangganya pun cenderung bergantung pada situasi ekonomi pasar.

Baca Juga  Bendung Katulampa Siaga 1, Bima Arya Sigap Komunikasi Dengan Gubernur DKI | Headline Bogor

Berawal dari 3 orang yang di asuh kini sudah hampir 215 orang yatim piatu berada dalam naungan Dan asuhan Wadah Amanah Ummat. Bagaimana Ia bercerita dengan raut berkaca-kaca tentang lika-liku perjalanan Wadah Amanah Umat yang dibentuknya. Hujan, angin, terik panasnya matahari merupakan tantangan yang harus dilalui. Dan makanan sehari-hari dalam aktivitas dan kerja sosialnya.

Hampir setiap Hari Bunda panggilan akrab Bu Dede Rohani berkeliling dengan sepedah kumbangnya. Mengecek kondisi Anak-Anak asuhnya. Menggalang Dana dari pada donatur pun Ia selalu menggunakan sepedah kumbangnya sebagai transportasi utama.

Pada tajun 2014 Bu Dede Rohani berkat dedikasinya terhadap yatim piatu,penyandang cacat Dan disabilitas bahkan masuk peringkat terbaik se-jawa barat setelah lolos seleksi PSM di tingkat Kecamatan. Ia mewakili Jawa Barat Ke tingkat Nasional .

Ibu tiga Anak Ini berlatar Belakang keluarga kecil Dan sederhana INI mampu membuktikan Dan mempraktekan suatu Gerakan Sosial sebagai Salah satu solusi atas permasalahan yang nampak dipelupuk mata. Tentunya Hal Ini perlu adanya tekad Dan niatan yang kuat berdasarkan pengabdian Dan keikhlasan dalam menjalaninya. Tapi sampai dengan Saat INI tidak adanya perhatian dari pemerintah meskipun telah mengharumkan nama Bogor di tingkat provinsi Dan nasional.

Baca Juga  Komunitas Stand Up Indo Bobar Gelar Stand Up Nite Perdana | Headline Bogor

Ungkapnya “keterbatasan dalam diri Kita Dan keluarga bukan hambatan Untuk terus berkarya Dan tetap Dapat membantu sesama dengan Segala keterbatasan justru proses pembelajaran Untuk Kita menjadi tahu Dan mengerti Bagaimana salahsatu solusi mengatasi permasalahan”.

Kini tidak hanya santunan Dan bantuan sekolah saja yang Kami Berikan Untuk Anak-Anak asuhnya. Tapi bantuan perbaikan rumah (RTLH), makanan sehat (sembako) dan bantuan kesehatan sedang dijalankan. Di usianya yang tidak Lagi muda Saat INI Tentunya perlu dukungan baik moril maupun materil dari berbagai Pihak.

Menurut penulis inilah Salah satu pelopor Gerakan Sosial di Indonesia khususnya di kota Bogor. Tetap konsisten dalam perjuangannya Dan mampu membuktikan pada Kita semua. Wanita juga mampu berkarya nyata.

Penulis:Rudi Mulyana, S.H.