
Gas metana memiliki sifat sangat flamabel atau mudah terbakar sehingga berpotensi memicu subsurface fire, yakni api yang muncul dan menjalar di bawah permukaan tanah serta sulit dideteksi.
Selain potensi munculnya titik api baru, pembakaran sampah secara terbuka juga dapat menghasilkan sejumlah polutan berbahaya.
Debu mikro dapat mengganggu sistem pernapasan dan memicu infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Sementara itu, paparan karbon monoksida dapat menurunkan kadar oksigen dalam darah, terutama bagi petugas yang berada di area paparan.
Selain itu, pembakaran sampah anorganik atau plastik pada suhu yang terbatas dapat menghasilkan senyawa dioksin dan furan yang bersifat beracun serta berpotensi karsinogenik.
Pentingnya Edukasi Pemilahan Sampah dari Hulu
Sebagai tokoh yang bergerak di bidang lingkungan dan pertanian milenial, Sion Toni Samosir menegaskan bahwa penanganan persoalan sampah membutuhkan pendekatan sistemis dari hulu hingga hilir.
“Aksi di TPA Galuga adalah langkah darurat di hilir. Namun, edukasi lingkungan yang paling krusial adalah pemilahan sampah dari hulu—dari rumah tangga dan sektor usaha. Jika sampah organik ditangani sejak awal menjadi kompos atau pakan ternak, akumulasi gas metana di TPA dapat ditekan secara signifikan,” tegasnya.
Melalui aksi bersama LBH WPM, Cafe Teras Nona Manis, dan Brain Foundation, kegiatan tersebut diharapkan tidak hanya memperkuat dukungan logistik bagi para relawan DLH dan Damkar di lapangan.
Lebih dari itu, kolaborasi tersebut diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat Kota Bogor mengenai pentingnya pemilahan sampah dari sumbernya serta menjaga kelestarian lingkungan secara berkelanjutan. (DR)
Bangun Rumah, Renovasi Rumah dan Pekerjaan Sipil Lainnya YA ASPRO AJA
Jangan Tampilkan Lagi Ya, Saya Mau !