KOTA BOGOR – Bagi para pecinta wisata sejarah, wahana wisata Baik Heritage kembali membuka rute seri keduanya, “Legacy of History”. Seri kedua ini merupakan sambungan dari seri pertama lalu, “The Lost Kingdom of Dayo Pakwan”.
Berbeda cerita dari seri pertama, seri Legacy of History bertema tentang masa kolonial di Bogor. Dimulai dari bangunan Kantor Pos di jalan Juanda yang dahulunya adalah sebuah gereja.
Wajah toleransi beragama suda tercermin dari keberadaan gereja ini dulunya. Jemaah Protestan dan Katolik bergantian dalam menggunakan gereja ini. Setelah akhirnya pemerintah Hindia Belanda membuatkan dua gereja terpisah yaitu Gereja Zebaoth dan Gereja Katedral.
Setelah itu peserta akan diajak melintas tanjakan Kacapi Paledang, ekstrim dan curam cukup menguji nyali dari para pesepeda. Usai menuruni tanjakan Kacapi, ada sebuah dam kecil buatan Belanda yang membelah aliran Kali Cipakancilan menjadi Kali Cidepit.
Yang berbeda dari seri sebelumnya, para peserta akan diajak menilik sebuah situs bebatuan pada masa Megalitikum, Situs punden Berundak Gunung Batu. Di area situs ini tampak tumpukan bebatuan berada di ketinggian. Diduga situs ini merupakan area peribadatan pada masa lampau.
Destinasi berikutnya adalah makam pejuang revolusi, Abdullah bin Nuh dan Kantor Makorem. Kedua spot ini merepresentasikan perjuangan masa revolusi dan peninggalan Pemerintah Hindia Belanda.
Belum sampai disitu, peserta diharuskan mengayuh sepedanya sejauh kurang lebih empat kilometer untuk melihat sebuah bangunan dengan arsitektur khas Jawa. Diberi nama Svarna Bhumi, sebuah bangunan Joglo, yang pernah didiami mantan Wakil Presiden RI kedua, Sri Sultan Hamengkubuwono IX bersama istrinya, Norma Musa.
Bangunan ini seolah menjadi saksi bisu bukti cinta mereka saat di Bogor.
Beranjak dari kisah romansa, sejauh empat kilometer harus ditempuh, peserta akan dijamu oleh megahnya Alun – Alun Kota Bogor yang bersebelahan dengan Stasiun Bogor. Disini peserta wajib mengabadikan momen Before – After (Sebelum – Sesudah) tampilan Stasiun Bogor dengan menggunakan gambar tempo dulu.
Lalu dilanjutkan dengan tur singkat ke dalam area Stasiun Bogor.
Menurut Head Tour Leader Baik Heritage, Afro Indayana, di seri ini rute berakhir di kawasan penelitian Taman Kencana. Karena di kawasan tersebut merupakan salah satu tempat yang representatif menceritakan Bogor sebagai kota riset.
“Sekaligus memperkenalkan seri ketiga Baik Heritage dengan tema “Bogor Residence of Science” yang menceritakan tentang Bogor sebagai kota yang memiliki banyak pusat penelitian dari zaman dahulu hingga sekarang,” terang Afro.
Sementara menurut salah satu peserta, Riski mengaku puas mengikuti kegiatan Baik Heritage. Karena selain hanya gowes tapi juga isa mengenal sejarah – sejarah Bogor di berbagai tempat. Gowesnya juga santai Alhamdulillah, karena memikirkan yang lain, jadi tidak terlalu cepat juga, sampai ini gowesnya aman, nyaman dan tenang.
Ditambahkannya, karena VIP jadi kita bisa masuk ke tempat – tempat yang mungkin orang lain belum masuk, ini keren banget, jadi semoga temen – temen yang lain bisa menyebar, mengajak teman-teman yang lain juga untuk bisa mengikuti kegiatan seperti ini.
“Sejarahnya keren-keren banget, sesuatu yang baru bagi saya, walaupun saya orang Bogor tapi saya banyak baru tahu hari ini jadi silahkan dipertahankan,” terang Riski yang juga berprofesi sebagai guru ini.
Penulis : Bike Heritage