KOTA BOGOR – Cucurak adalah suatu tradisi masyarakat Jawa Barat, dimana setiap menjelang ramadan, atau seminggu sebelum puasa dimulai akan diadakan acara kumpul dan makan bersama, baik dengan keluarga atau teman-teman, di kantor di rumah atau di tempat umum seperti mall atau restoran.
Tradisi unik menyambut bulan Ramadhan digelar di beberapa daerah, bahkan juga di Kota Bogor yang terkenal sebagai kota hujan. Begitu juga Fakultas Hukum Universitas Pakuan pada Senin (12/4) yang lalu menggelar acara cucurak di gedung G lantai 4 Fakultas Hukum Universitas Pakuan.
Dalam sambutannya Dr. Yenti Garnasih, SH., MH, Dekan FH Universitas Pakuan menyampaikan, acara ini acara tradisi tahunan di Fakultas Hukum, dalam rangka memasuki bulan ramadan, dan makna saling memaafkan sebelum ramadan.
“Apalagi sudah satu tahun ini kita lockdown dosen-dosen tidak bisa jumpa, jadi kita bisa bersilaturahmi, kebetulan ada Gedung G FH yang sudah jadi tapi belum diresmikan yang kita manfaatkan Aula yang besarnya, dgn kapasitas 20 % dari luas gedung juga tetap menerapkan prokes ketat. Dalam acara itu hadir seluruh dosen dan TU baik muslim maupun non muslim”, ujar Yenti
“Acaranya bagus, terjalin keakraban, terlihat wajah-wajah bahagia dari semua yang hadir pada acara cucurak ini”, tutup Yenti.

H. Isep H Insan, SH., MH salah satu dosen di FH Universitas Pakuan sebagai pengisi tausiyah menyampaikan, terkait dengan kebiasaan saling meminta maaf sebelum memasuki shaum ramadhan sesuai HR Muslim yang sangat mengajurkan setiap manusia saling memaafkan, dalam hubungan hablum minanas karena dalam konteks Hablum minallah Allah maha pemaaf.
“Ziarah kubur sebelum saum Ramadhan itu sangat baik dalam rangka zikirullah mengingat kematian yang pasti bakal datang, cuma persoalan waktu yang tidak diketahui kapan datangnya, begitu juga tradisi cucurak untuk saling silaturahim dan saling memaafkan supaya hati bersih untuk ibadah shaum ramadhan”, pungkas Isep.
“Persiapan yang penting ada kesehatan dan minta untuk meraih berkah ramadhan penuh melalui doa kepada Allah dan yang nanti harus terus dilakukan yaitu menjaga silaturrahim bisa via sosial media, jaga lisan, selalu berusaha sholat berjamaah dan qiyamul lail (sholat malam – Red), meskipun bersama dengan keluarga di rumah dan harapan besar kebaikan ini bisa terus dijaga dan ditularkan pasca shaum ramadhan”, tutup Isep.
Dalam acara tersebut hadir juga beberapa dosen senior seperti Hernomo, S.H., LL.M., I Wayan Suparta, S.H., M.H, Tutik Susilawati, SH., MH, Yeni K Milono, SH., MH. Dan acara cucurak ditutup dengan doa oleh Sobar Sukmana, SH., MH.
sebagai pengisi tausiyah menyampaikan, terkait dengan kebiasaan saling meminta maaf sebelum memasuki shaum ramadhan sesuai HR Muslim yang sangat mengajurkan setiap manusia saling memaafkan, dalam hubungan hablum minanas karena dalam konteks Hablum minallah Allah maha pemaaf.
“Ziarah kubur sebelum saum Ramadhan itu sangat baik dalam rangka zikirullah mengingat kematian yang pasti bakal datang, cuma persoalan waktu yang tidak diketahui kapan datangnya, begitu juga tradisi cucurak untuk saling silaturahim dan saling memaafkan supaya hati bersih untuk ibadah shaum ramadhan”, pungkas Isep.
“Persiapan yang penting ada kesehatan dan minta untuk meraih berkah ramadhan penuh melalui doa kepada Allah dan yang nanti harus terus dilakukan yaitu menjaga silaturrahim bisa via sosial media, jaga lisan, selalu berusaha sholat berjamaah dan qiyamul lail (sholat malam – Red), meskipun bersama dengan keluarga di rumah dan harapan besar kebaikan ini bisa terus dijaga dan ditularkan pasca shaum ramadhan”, tutup Isep.
Dalam acara tersebut hadir juga beberapa dosen senior seperti Hernomo, S.H., LL.M., I Wayan Suparta, S.H., M.H, Tutik Susilawati, SH., MH, Yeni K Milono, SH., MH. Dan acara cucurak ditutup dengan doa oleh Sobar Sukmana, SH., MH.
(Zie)