Jutaan Puisi Mati dalam Tubuh Gerimis yang Sunyi
Oleh: Yogen Sogen
1/
Puisi telah mati dalam gigil sunyi
Puisi telah terkapar dalam gerimis yang angkuh
Puisi telah pudar berjalan semakin menjauh
Puisiku kini serupa orang gila yang tertawa sepi dalam jalan-jalan manusia
(mendekat menjauh dicaci maki lari pergi hilang sendiri)
II/
Seperti musafir tanpa kompas didadaku
berjalan, merangkak, berhenti menusuk kata menikam kata
Terhempas kuyup hujan yang pilu, kataku biarkan luka yang risau menyisir diri ke parit kotor yang binal
(kau tahu?, orang-orang kini sibuk bersenggama dengan politik dan partai yang serakah daripada membaca puisiku)
III/
Puisi ini masih sendiri
Secangkir kopi dalam cangkir yang resah
memantik majalah pagi tentang iklan “alat bantu seks” yang begitu laku
pun iklan kondom, kosmetik, dan obat kuat yang ranum dan subur di setiap pembaca
namun secangkir kopi cukup bijak mengawasi puisi yang tak laku-laku, mungkin juga Tuhan tak akan melirik
(Jiwa telah membidik selera tentang nikmat diri yang paling nikmat ketimbang berbijak diri membaca puisiku)
IV/
Mengiringi sunyi yang menggerutu di tubuh gerimis dengan kematian puisi
kukalungkan doa kepada jutaan manusia yang memburu jalan kehidupan
akan sebuah laku Demokrasi di Negeri ini
akan sebuah Fanatisme SARA di tubuh Pertiwi yang kian hujan
(Mencintai hidup dengan kasih puisi lebih indah ketimbang melacur diri, menjual suara, membenci karena Suku, Agama, Ras yang berbeda, sedangkan kita berada di satu Puisi yang sama)
V/
Sabda puisi telah menjadi daging dan melaut bersama jangkar menjaring biduk Nusantara
Gerimis, sunyi dan jiwaku tetap sepi dalam keramaian manusia,
aku masih menggali makam bahasa yang belum tuntas
Jika kudapat: mungkin bisa kukirimkan makam jiwa menuju singgasana Tuhan, biar kubisik jadilah aku manusia puisi dan hilangkan perihal sebuah sabda tentang Adam dan Hawa
(Jika Tuhan menyanggupi betapa puisiku menjadi laku dan dicintai ketimbang Hawa sibuk mencintai Adam, dan sebaliknya, lalu lupa diri bahwa Tuhan sedang mengintip di balik gorden)
Akulah puisi
akulah hujan
mataku masih ranggas
dan tubuh hujan tetap sepi
di antara keramaian paling ramai
aku ada di pojok puisi, meminang kata, melingkar puisi, menjaring hati, kukalungkan ayat yang kupendam di jiwa
“Nusantaraku bersatulah dalam
puisiku sebelum kematian kita tak akan menjadi makna apa-apa”
puisi masih sepi di antara gerimis yang sunyi
Bogor 05/02/2017