Sementara itu, Mendagri Tito Karnavian menambahkan bahwa pihaknya berharap pemerintah daerah mampu mandiri di berbagai bidang agar pelayanan publik mampu dijalankan secara maksimal, seperti urusan keuangan fiskal.
Menurut Mendargri Tito, ada tiga tipologi daerah dari kemampuan fiskal yang menjadi komponen utama menjalankan pembangunan daerah. Hal pertama adalah kemampuan fiskal yang tinggi atau kuat yang ditandai dengan adanya PAD-nya lebih tinggi daripada dana transfer pusat, lalu ada pendapatan asli daerah sumber lainnya seperti BUMD.
“Selain itu ada juga kapasitas fiskal yang sedang, artinya imbang, lebih kurang sama antara transfer pusat dengan PAD, fifty fifty atau 60-40. Tapi banyak juga daerah yang sangat tergantung kepada transfer pusat PAD,” tutur Mendagri Tito.
Mendagri Tito juga menginginkan spirit kemandirian Pemda harus ditumbuhkan agar berkomitmen menjalankan roda pemerintahan. Hal ini harus dijalankan agar hambatan dalam birokrasi antara pusat dan daerah bisa diminimalisir dengan kemampuan berinovasi tersebut.
“Kemampuan untuk mencari celah bagaimana memanfaatkan peluang itu perlu untuk dikembangkan. Nah ini tidak gampang, ini memerlukan leadership yang kuat untuk bagaimana bisa memanage segenap sumber daya yang ada, termasuk sumber daya personal yang ada dalam struktur pemerintahan maupun yang non struktur, untuk bisa diajak bersama-sama mengembangkan terobosan-terobosan,” tambah Mendagri Tito.