
Keberadaan Kepala BNPB Letjen Doni Monardo yang dua malam tidur di tenda biru BNPB, di tepi pantai Pasie Jantang Aceh Besar, juga menyelipkan sebuah pesan penting bagi masyarakat di seluruh Indonesia, bahkan dunia, bahwa Aceh sangat aman.
Kehadiran Doni di tengah-tengah masyarakat juga menunjukkan satunya kata dan perbuatan sebagai seorang prajurit Sapta Marga.
Dalam banyak kesempatan, Doni acap menyitir filosofi terkenal dari Lao Tze (570 SM): “Temuilah rakyatmu. Hiduplah bersama mereka, mulai dari apa yang ada”. “Dengan begini, kita bisa merasakan betul denyut nadi rakyat. Dalam konteks program Katana, kita menjadi tahu seberapa paham rakyat, khsusnya rakyat Aceh terhadap potensi bencana gempa dan tsunami,” ujar mantan Danjen Kopassus itu.
Malam pertama, Jumat (6/12) tinggal di kemah tepi pantai Pasie Jantang, serombongan sahabat lama pun datang, yang mungkin di masa lalu mereka ini tak sejalan dengan NKRI.
Mereka duduk di atas terpal di pinggir pantai sambil reuni. Melupakan konflik masa lalu, dan berbicara tentang masa kini dan masa depan.
“Sudah tidak pada tempatnya kita bicara masa lalu. Kalau yang lalu kita berperang dengan senjata, maka perang sekarang adalah perang ekonomi. Perang dagang. Perang memperebutkan peluang dan kesempatan untuk hidup lebih sejahtera,” kata Doni kepada “kenalan masa lalunya” yang sekarang begitu akrab laksana saudara-kandung. (*)