Legislator dapil Jawa Barat V ini mengingatkan kepada pemerintah dan Pertamina agar jangan mau didikte oleh pihak-pihak yang tidak menginginkan kedaulatan energi nasional tercapai.
Karena mereka memperoleh keuntungan dari impor ratusan ribu barel perhari minyak dari Singapura, Malaysia, Korea Selatan, Azerbaijan, Arab Saudi maupun dari Qatar. Elly mengatakan memang terjadi ketimpangan antara kebutuhan konsumsi dengan kemampuan produksi Pertamina.
“Tetapi, sumber daya alam kita melimpah dari yang berbasis fosil maupun energi baru terbarukan. Tinggal bagaimana holding Migas yang dipimpin oleh Pertamina ini sungguh-sungguh mengolahnya. Sudah menjadi holding dengan melibatkkan perusahaan gas. Mestinya Pertamina lebih super sehingga tidak perlu lagi membiasakan impor BBM,” pungkasnya.
Di tempat terpisah Sandi M. Ilham Wasekjen DPP KNPI Bidang Pengembangan Ekspor Impor mengatakan pertamina jual beli rugi harus di evaluasi.
“Pertamina melakukan beli rugi, bukan beli untung. Hal ini tentunya sangat perlu di evaluasi, Pemerintah perlu tegas terhadap gaya bisnis seperti ini. Banyak dugaan-dugaan ketika hal ini sudah di audit”
“Setiap BUMN memiliki Core Bisnis dan juga jangan sampai menjadi alasan pelayanan, BUMN sektor utamanya adalah provit income, baru kemudian pelayanan. Jangan juga karena alasan untuk pelayanan namun provit income tidak di dapat apalagi kalau merugi. Padahal BUMN pasti ada Revenue setiap tahunnya.” Tambah Sandi.
(Deddy)