“Hati-hati kekuasaan yang berada padanya adalah pertanggungjawaban dunia akhirat, sehingga jangan main-main soal itu,”
KOTA BOGOR – Ketua LBH Ansor Kota Bogor, Rudi Mulyana, menyoroti revitalisasi Jembatan Otto Iskandardinata (Otista) di Kota Bogor yang baru saja diresmikan oleh Presiden Joko Widodo beberapa waktu lalu.
Pasalnya, menurut Rudi, saat dilanda hujan dengan 24° presitipasi 20% dan angin 3 km/jam, telah membuat genangan banjir yang menyebabkan lalu lintas disekitaran lokasi jembatan tidak layak pakai.
“Dari perhitungan anggaran yang diserap dari bantuan provinsi jawa barat sebesar 52 M dengan fakta hari ini, sangat timpang dan tidak masuk akal,” kata Rudi dalam keterangannya, Sabtu, (30/12)
Rudi membandingkan dengan Jembatan Walahar di Kabupaten Karawang, yang dengan anggarannya serupa namun dibangun dengan baik, Dimana jmbatan tersebut memiliki lebar 7 meter, dua lajur dan dua arah, serta panjang 130 meter dengan tiga bentang.
“Kita lihat jembatan otista yang secara rincian 22 meter dengan badan jembatan seluas 17 meter, masih saja terdapat permasalahan yang apabila menghitung mitigasi resiko harusnya mampu teratasi,” tambahnya.
Ketua LBH Ansor ini memandang perlu keterlibatan Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia (BPK RI) untuk mengaudit pembangunan jembatan Otista tersebut.
“LBH Ansor Kota Bogor akan segera mengirim surat resmi kepada BPK RI agar dapat menangani permasalahan ini sesuai perintah UU Nomor 15 Tahun 2006 tentang BPK. Dalam UU tersebut, BPK memiliki tugas memeriksa temuan-temuan yang menyoal sumber keuangan negara,” jelasnya.
Rudi memastikan LBH Ansor akan terus mengawal perkembangan kasus ini, agar masyarakat Kota Bogor buta mengenai masalah hukum yang terjadi.
“Karena apapun yang terjadi pada hari ini mengandung hikmah yang dapat dipelajari oleh segenap warga kota bogor, wabil khusus pemerintah kota bogor,” tuturnya. */DR)

