Headline Bogor | Kabupaten Bogor Tuan Rumah Liga Santri Nusantara 2019

KABUPATEN BOGOR – Rabithah Maahid Islamiyah (RMI) adalah lembaga Nahdlatul Ulama dengan basis utama pondok pesantren seluruh Indonesia dengan jumlah yang mencapai + 23.000 pesantren. Embrio Lembaga ini lahir sejak Mei 1954 dengan nama Ittihad al-Maahid al-Islamiyah yang dibidani oleh KH. Achmad Syaichu dan KH. Idham Kholid, sebagai wadah pesantren yang saat itu pasca Muktamar semangat berkoordinasi dan berkonsolidasi untuk meningkatkan pengembangan dan penguatan pesantren.

Anggaran Rumah Tangga Nahdlatul Ulama 2010 Bab V Pasal 18 huruf c menyebutkan bahwa Rabithah Maahid Islamiyah adalah lembaga yang bertugas melaksanakan kebijakan Nahdlatul Ulama di bidang pengembangan pondok pesantren dan pendidikan keagamaan. Disinilah RMI berfungsi sebagai katalisator, dinamisator, dan fasilitator bagi pondok pesantren menuju tradisi mandiri dalam orientasi menggali solusi-solusi kreatif untuk Negeri.Rabithah Maahid Islamiyah berpijak pada upaya pengembangan kapasitas lembaga, penyiapan kader-kader bangsa yang bermutu, dan pengembangan masyarakat.

Di dalam pondok pesantren pendidikan yang didapatkan bukan sebatas teori, namun juga praktik beragama. Pesantren merupakan tempat penanaman nilai-nilai moral yang mampu membentuk jatidiri manusia yang berbudi luhur. Pondok pesantren merupakan wadah santri menimba ilmu pengetahuan (keagamaan) setiap hari selama bertahun-tahun dibawah kepemimpinan kyai. Prinsip-prinsip dasar yang ditanamkan dalam dunia pesantren adalah tathawwur (berkembang secara gradual), tawasuth (moderat), tawazun (harmonis-seimbang), Itidal (lurus) dan tasamuh (toleran) dengan berpihak pada nilai-nilai permusyawaratan dan keadilan dalam orientasi kemaslahatan umum.

Post ADS 1

Setiap pesantren memiliki karakteristik yang khas meskipun secara umum memiliki berbagai kesamaan dalam hal menyebarkan aliran keagamaan Islam ahlussunah wal jamaah annahdliyah yang rahmatan lil alamin. Keragaman karakteristik ini merupakan kekuatan dan sekaligus keunikan. Unsur-unsur dasar yang membentuk lembaga pondok pesantren adalah kyai, masjid, asrama, santri dan kitab kuning. Kyai menempati posisi sentral dalam lingkungan pesantren, karena ia sebagai pemilik, pengelola, dan pengajar, serta imam pada acara-acara keagamaan yang diselenggarakan. Unsur lainnya (masjid, asrama, santri, dan kitab kuning) bersifat subside, dibawah kendali kyai. Dengan unsure-unsur yang dimilikinya, pondok pesantren telah menjadi pusat pembelajaran (training centre) dan pusat kebudayaan (cultural centre).

Nilai-nilai yang menjadi budaya Rabithah Maahid Islamiyah adalah kreatif, harmonis, amanah, responsive, intelek, sederhana, mandiri, dan aktif sebagai upaya untuk mewujudkan peran pesantren sebagai wadah tafaquh fiddin dan rekayasa sosial dalam upaya membangun kemashlahatan masyarakat yang maju, mandiri dan berakhlak mulia berdasarkan ahlussunah wal jamaaah an nahdliyyah. Dengan target meningkatnya kualitas peran pesantren sebagai pusat kaderisasi ulama yang intelektual, serta menjadikan pesantren sebagai pusat pembentukan karakter bangsa yang berbudi luhur, pusat pengembangan ekonomi kerakyatan dengan indikasi meningkatkan kualitas tatakelola pesantren sebagai lembaga yang maju dan dinamis.

Dalam rangka merealisasikan tujuan dan visi misi yang seperti itu RMI senantiasa berikhtiar dan berupaya melakukan kerjasama dengan berbagai pihak diberbagai bidang. Olahraga adalah bidang yang selama ini masih kurang mendapatkan perhatian, maka dari itu ketika mendapat tugas sebagai operator/pelaksana LSN dari PBNU dengan berbagai pertimbangan diatas menerima sebagai upaya meningkatkan kesadaran santri dan pesantren dalam bidang olahraga sekaligus untuk mencari bibit-bibit talent olahragawan yang profesional, dalam hal ini sepakbola.

Pesantren dan sepakbola merupakan dua simbol pemersatu semenjak keduanya tumbuh menjadi bagian dari perjalanan bangsa Indonesia. Pesantren yang pada awalnya dimulai dari niat yang sederhana dan tulus untuk memberikan tempat bagi mereka menuntut ilmu agama kemudian berkembang menjadi agen perubahan sosial melalui nilai-nilai keislaman yang mendorong proses terbentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia hingga kini.

Sepakbola sendiri dengan mudah diserap menjadi bagian dari rajutan kehidupan sosial budaya Indonesia karena kesederhanaannya. Sepak bola terbukti mampu menjadi sebuah kegiatan yang inklusif dan mampu menembus sekat-sekat perbedaan suku, etnis, bahasa, keyakinan serta simbol-simbol primordial lainnya.

Di pesantren, eratnya sepak bola dengan kehidupan santri menjadikan olah raga ini sebagai kegiatan unggulan dalam setiap kegiatan yang berhubungan dengan pesantren. Melihat besarnya potensi pemain sepak bola yang belum dibina secara terukur dan terarah di kalangan santri, maka perlu adanya wadah yang tepat untuk memfasilitasi tumbuhnya pesepakbola yang profesional. Dari sanalah ajang Liga Santri Nusantara diadakan.

Melalui penyelenggaraan kegiatan Liga Santri Nusantara diharapkan lahir pemain bola profesional yang dapat mengusung nama baik Indonesia di ajang sepakbola nasional dan internasional.

Kini, 20 tahun setelah reformasi, bangsa Indonesia dihadapkan pada kondisi yang berpotensi merenggangkan rajutan kebangsaan. NU berpandangan bahwa keberadaan pesantren menjadi semakin relevan dalam menjaga keutuhan bangsa dan melalui LSN 2019 masyarakat Indonesia diajak kembali menggalang nilai-nilai kebersamaan dan kerjasama yang merupakan komponen penting bagi keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Liga Santri Nusantara 2019 digelar atas ide dan prakarsa dari Menpora Bapak H. Imam Nahrawi, yang berkepentingan untuk mengajak pesantren sebagai bagian dari penyangga negara ini, untuk ikut andil dalam membina dan melahirkan talenta-talenta pemain sepak bola profesional. Dalam hal tersebut, pesantren yang memiliki jumlah santri yang sangat banyak, memiliki potensi yang bisa dimaksimalkan untuk mewujudkan tujuan tersebut.

Adapun tujuan spesifik dari penyelenggaraan LSN 2019 antara lain, menambah kegiatan positif sekaligus kompetitif bagi remaja yang ada di pesantren, menggulirkan kompetisi sepakbola yang dikelola secara profesional dan berkesinambungan bagi para santri di seluruh Indonesia, dan menjadikan pesantren sebagai salah satu sumber pemain sepakbola berkualitas dan berahklak tinggi yang siap bersaing di kancah kompetisi sepakbola profesional.

Sebagaimana tujuan LSN 2019 di atas, penerima manfaat dari penyelenggaraan kegiatan ini tidak hanya pesantren yang tersebar di seluruh indonesia, namun juga dunia sepakbola karena dengan jumlah pesantren yang puluhan ribu dengan jumlah santri jutaan menjadi lahan pencarian bibit-bibit pemain sepakbola yang kondusif dan sangat potensial.

Hal ini telah terbukti dengan Top Scorer LSN 2016 M. Rafli Mursalim lolos seleksi timnas Garuda U-19 sebagai striker yang telah terbukti tampil dengan baik di Piala AFF dan kualifikasi Piala Asia November 2107. Selain Rafli 2 pemain jebolan LSN yaitu Tri Widodo (Pemain Terbaik 2016), dan Richard Rahmad (Pemain Terbaik 2015) juga dipanggil oleh pelatih Indra Sjafri untuk mengikuti seleksi, meskipun keduanya belum lolos hal ini membuktikan LSN yang baru berjalan di tahun ketiga ini sangat potensial dalam mencari dan menyaring calon-calon pemain sepabola nasional. (*)

Berita Daerah & Nasional

Menu
ASPRO Property..

Bangun Rumah, Renovasi Rumah dan Pekerjaan Sipil Lainnya YA ASPRO AJA

Promo Jangan Tampilkan Lagi Ya, Saya Mau !