Apalagi di dalam era globalisasi, katanya, dimana arus budaya antar bangsa mengalir deras melalui produk teknologi komunikasi digital-visual menembus ruang-ruang keluarga kita.

“Kita tidak ingin dunia pendidikan nasional sekedar menjadi pasar industri tersier dengan semangat liberalisme kapitalistik, menjadi bancakan lembaga pendidikan asing, serta menggerus nilai-nilai budaya adiluhung bangsa ini di tengah kompetisi dagang edukasi global,” tegas Mulyanto.

Masalah-masalah mendasar, lanjut Mulyanto, harus dibahas secara komprehensif, mendalam, dan cermat oleh semua pihak yang terkait. Kita tidak boleh grasa-grusu dan sikap menggampangkan. Butuh suasana yang tenang.

Baca Juga  Headline Nasional | Legislator Berharap Kenaikan Iuran BPJS Disubsidi Negara

“Masak membahas hal besar seperti ini hanya melalui rapat secara virtual, kejar tayang di tengah pandemi Covid-19 yang tidak mengenal waktu reses, serta dipaksa tuntas dalam dua kali masa sidang”, tanya Mulyanto prihatin.

“Pendidikan adalah masalah vital bangsa ini. Berkaitan langsung dengan tujuan nasional untuk mencerdaskan kehidupan bangsa serta masa depan kita”, ujar mantan Inspektur Jenderal Departemen Pertanian ini menambahkan.

Baca Juga  Headline Nasional | Gugus Tugas Nasional Keluaran Surat Edaran Pengaturan Jam Kerja Pada Masa AKB

Sumber : Fraksi PKS