OPINI – Pada awal bulan februari 2020 situasi yang kita alami masih belum terjadi di tanah air, karena kita masih dalam keadaan was-was atau mencegah saat terjadinya wabah virus pendemi covid 19 di negara asal cina Karena disisi lain negarapun harus memberikan perlindungan terhadap WNI (Warga Negara Indonesia) atau buruh kasar yang berada di negara cina untuk mencegah penyakit virus covid 19 dimana tempat mereka bekerja. Kemunculan wabah virus corona atau covid-19 pasti selalu dikaitkan dengan asal muasal itu terjadinya di kota wuhan negara cina, bahkan hampir seluruh masyakarat cina terkena wabah virus corona sehingga terjadilah sebelum wabah menjadi krisis kesehatan global.

Dilansir dari media South China Morning Post, data pemerintah menunjukkan bahwa seseorang berusia 55 tahun dari provinsi Hubei bisa menjadi orang pertama yang terkena COVID-19 ada 17 Novemeber 2019, dalam kronologis tersebut virus covid-19 kebanyakan menyerang orang yang umur nya di atas 40 yang sudah memiliki riwayat penyakit juga sehingga terjadinya komplikasi dan meninggal. Bahkan banyak sumber informasi-informasi bahkan jurnal, buku dari sumber terkaitnya asal muasal hadirnya virus corona ada yang menuliskan ini hasil dari konspirasi atau ada juga dikait-kaitkan dengan informasi berlebihan (super metabolis) video kronologis orang-orang yang terkena covid-19.

Bertambah pentingnya peranan teknologi di zaman modern ini bagi kehidupan manusia dan pengaruhnya terhadap kehidupan manusia dan lingkungan hidupnya menyebabkan bahwa faktor-faktor ini pun tidak dapat diabaikan karena saat dunia dilanda virus covid-19 dunia mulai berubah derastis, bukan hanya dunia bahkan perubahan tersebut di adaptasi oleh seisinya untuk melakukan perubahan-perubahan yang saat ini sedang terjadi, saya selalu ingat salah satu ucapan pendiri amerika serikat Benjamin Franklin yang serbabisa menguasai keahlian bidang, “when you’re finished changing, you’re finished”.

Disisi lain ada dua perubahan dalam menyikapi situasi, perubahan itu ditunjukan mengarah kepada kebaikan (kemaslahatan bersama) atau keburukan (mudarat bagi orang lain) kuncinya dengan tidak selalu SJW (Social Justice Warior). Karena perubahan diadaptasi oleh setiap orang bahkan semua orang untuk menyikapi perubahan itu sendiri terutama saat dunia dalam genggaman setiap masing-masing orang melalui smartphone masing-masing (hand phone pintar).

Saat situasi seperti ini banyak sekali terkhusunya masyarakat indonesia was-was terhadap dampak virus covid-19, padahal bila dipikirkan efek dari terkenanya virus covid-19 itu sungguh tidak asing karena penyakit ringan seperti batuk, bersin, pilek bahkan panas itu sudah jadi kebiasaan masyarakat, terutama masyarakat yang ekonominya sederhana. Sehingga yang paling saya cemaskan terhadap arahan Pak Presiden Republik Indonesia semua aktifitas masyarakat dilumpuhkan dengan tetap diam dirumah aja.

Memang arahan dari pak presiden terhadap masyakarat itu menjadi langkah yang tepat untuk menghindari virus covid-19, tetapi harus di pikirkan lagi untuk pemerintah pusat bahwasannya masyarakat-masyarakat yang kerjannya di sektor informal yaitu gojek, grab, pedagang kaki lima, daily worker, UMKM, pegawai buruh dan lain-lain. Karena bila harus nurut arahan dari pemerintah pusat dirumah saja mungkin mereka bakal kebingungan sehingga bertabrakan dengan ekonomi mereka sehari-hari dan tidak bisa mengisolasi atau dirumah saja karena hidup mereka bergantung dari mobilitas mereka. Mungkin bila orang-orang yang ekonominya mapan ada alternatif-alternatif khusus untuk jadi simpanan dirumahnya.

Baca Juga  Kesepakatan Bersama Yang Tidak Pernah Bersama -sama

Yang paling terpenting hari ini bukan hanya virus covid-19 yang membuat masyarakat was-was tetapi ada suatu dorongan atau tekanan dari informasi-informasi yang bersumber entah dari mana spesifiknya, dan informasi itu berupa video, teks, opini, gambar, meme yang di bagikan mulai dari ke aplikasi chat to chat bahkan di jadikan instant story oleh mereka yang memiliki sumber informasi yang tidak tau sumbernya dari mana terutama yang lebih dominan yaitu generasi milenial yang hari ini di gadang-gadang akan hadirnya bonus demografi, mereka memang di katakan mempunyai kebiasaan yang serba instant tanpa tidak tahu menahu proses terjadinya output instant itu dari mana berasalnya.Sehingga masyarakat panik ketakutan dan mengasumsikan yang bersin, pilek dan batuk itu sudah terinveksi virus covid-19 yang dipikiran merekapun ditambah dengan informasi yang serba tak jelas nambah panik lah masyarakat sehingga mengalami shock dalam diri pribadinya. ibnu shina pernah memberikan nasihat bahwasannya “Kepanikan adalah separuh penyakit, ketenangan adalah separuh obat, dan kesabaran adalah permulaan kesembuhan” kita harus paham dengan makna ini.

Bahkan sekarang selain himbauan untuk dirumah saja bukan kita harus diam seperti tidura dan tidak beraktivitas dirumah aja, tetapi ada suatu yang harus jadi kebiasaan masyarakat mungkin semua masyarakat untuk tetap bekerja tetapi dengan model WFH (work form home) produktifitas dirumahnya mungkin dengan catatan hanya orang-orang yang tergolong bisa bekerja menggunakan teknologi pendukung work remote dengan pekerjaannya-pekerjaannya menggunakan leptop atau komputer.

Selain hambatan yang di deseminasi oleh informasi masyarakat terhadap virus covid-19 birokrasipun sangat rumit mengenai penangan diceknya masyarakat sehingga dinyatakan mengidap penyakit virus covid-19, ada salah satu tulisan di twitter dari seorang pasien di ruang isolasi RSD gunung jati cirebon riki rachman permana menceritakan kronologis dari pengisolasian pasien di rumah sakit cukup lama dan birokrasi yang amat tidak sederhana dengan keadaan yang sangat geting.

Saat mengambil specimen covid-19 dari pengalaman kami di cirebon, hasil Swab 1 orang saat ini hanya bisa memakan waktu minimal 7 hari untuk memastikan apakah orang dinyatakan benar positif atau negatif, 7 hari adalah waktu yang cukup lama untuk mengidentifikasi seseorang terinfeksi covid-19. Dalam masa tunggu 7 hari tersebut, pasien dalam kondisi cemas karena menanti kepastian (26/03). Riki dan pasien lainnya belum mengetahui bagaimana hasil Swab terakhir yang di lakukan oleh Dinkes (dinas kesehatan) pada 18 maret 2020, sedah 8 hari kami (pasien) & rumah sakit menunggu hasil Swab tanpa ada kejelasan, khususnya bagi pasien positif, Swab ke 3 yang di lakukan tanggal 14 maret 2020 pun belum di ketahui hasil resminya, belum ada surat diterima oleh pihak RS hingga hari ini (26/03) sudah lebih dari 12 hari.

Baca Juga  Opini | Muhammad Lutfi Sopyan : Ekosistem Revolusi Industri 4.0

Setelah hasil Swab keluar dari balitbangkespun, kendala selanjutnya adalah distribusi pengiriman surat resmi yang harus melewati level provinsi kemudian dinas kesehatan kota atau kabupaten setempat dan akhirnya baru mendapat di rumah sakit tempat pasien di rawat. Luar biasa sebuah alur birokrasi yang amat sangat panjang dalam situasi segenting seperti ini apakah tidak bisa di sederhanakan alur birokrasinya.

Mungkin diatas adalah salah satu kronologis penanganan pasien yang terkena virus covid-19, sungguh alur birokrasi yang sangat ruwet pertanyaannya bagaimana kalau pasiennya dengan yang belum tau terjangkit covid-19 mungkin butuh waktu yang cukuo lama untuk menuggu gambarab hasil yang ada diatas dan terkhusunya bagi daerah-daerah luar jawa seperti ternate, ambon, aceh, madura dan lain-lain, ini salah satu PR pemerintah pusat terkhusunya presiden RI untuk merumuskan kerumitan-kerumitan menjadi pola-pola (pattern) yang sederhana.

Saya berpesan virus covid-19 ditanah air memang cukup menggemparkan banyak situasi dan kondisi ditanah air dan situasi tersebut berpariasi ragam persoalannya mungkin identik dengan kata unik semenjak virus covid-19 melanda. Kita tidak bisa memprediksi virus covid-19 ini bakalan terjadi di indonesia dan hilangnyapun tidak bisa diakuratkan sampai kapan virus covid-19 ini akan hilang. Tetapi yang paling terpenting mari kita sama jaga prilaku kita sebagai warna negara indonesia untuk tidak terlalu panik dalam menyikapi kejadian virus covid-19, dan paling terpenting kita diuji bukan hanya perindividual tetapi secara kolegial sehingga kita bisa dapat saling memperkuat dan mempererat kesadaran arti rasa saling tolong menolong sebagai sesama mahluk Tuhan dimuka bumi ini para pemangku kepentingan pusat, komunitas, organisasi, stack holder-stack holder untuk saling memberikan empowering bagi sesama.

Bila Yupal Noah Harari di bukunya Homo Sapiens ada kutipan “kekuatan manusia yang terpenting bukan hanya secara individual semata, tetapi kekuatan yang paling sulit kekuatan tersebesar manusia adalah menyatu antar manusia secara kolegial sehingga menumbuhkan rasa kemanusiaan”

Capaian inilah yang diharapkan untuk menyikapi keadaan situasi dan kondisi virus covid-19 sehingga virus covid-19 dapat dihilangkan di tanah air dengan kerjasama dan sama-sama bekerja untuk memahami dan menyikapi kondisi wabah virus covid-19 demi keselamatan kesejahteraan dan keamanan bersama.

M. Lutfi Sopyan

Mahasiswa Universitas Pakuan Bogor