
BOGOR – Sebanyak 35 mahasiswa yang tergabung dalam Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Seni dan Budaya Universitas Pakuan Bogor melakukan perjalanan budaya ke komunitas adat Suku Baduy di Desa Kanekes, Provinsi Banten, Jawa Barat. Kegiatan ini berlangsung selama tiga hari, mulai Kamis hingga Sabtu, 25–27 Juli 2025.
Inisiatif ini bertujuan memperdalam pemahaman terhadap warisan budaya lokal, khususnya masyarakat Baduy yang masih menjaga kuat nilai-nilai adat leluhur. Selain observasi, mahasiswa juga mendokumentasikan berbagai aspek budaya yang mereka temui.
Dalam kegiatan tersebut, rombongan menginap di dua wilayah berbeda. Malam pertama mereka habiskan di Baduy Luar, tepatnya di Desa Gazebo, dan malam berikutnya bermalam di wilayah Baduy Dalam, Kampung Cibeo, yang dikenal sangat menjaga kemurnian tradisinya.
Ketua UKM Seni dan Budaya Universitas Pakuan, Rachel Dewanda Putri, menyampaikan bahwa kegiatan ini menjadi wujud komitmen mahasiswa dalam mendalami dan menghargai kebudayaan lokal.
“Kami ingin belajar langsung tentang arsitektur rumah adat, pakaian tradisional, sistem kepercayaan Sunda Wiwitan, hingga kesenian lokal seperti musik, tari, dan anyaman, serta filosofi hidup dan hubungan mereka dengan alam,” ujar Rachel.
Kegiatan ini juga mendapatkan dukungan penuh dari para tokoh dan pendiri UKM Seni dan Budaya, salah satunya Dwi Dewanto—Ketua Umum pertama UKM Seni dan Budaya Universitas Pakuan pada tahun 2002—yang hadir langsung dalam acara tersebut.
“Melalui kegiatan seperti ini, masyarakat luar bisa mengetahui bahwa masih ada komunitas adat di Jawa Barat yang hidup selaras dengan alam dan menjunjung tinggi nilai-nilai leluhur. Ini adalah bukti nyata bahwa Indonesia sangat kaya akan budaya lokal yang harus kita jaga bersama,” ujar Dwi Dewanto yang akrab disapa Awing.
Ia berharap, pengalaman yang didapat para peserta dapat dibagikan melalui berbagai platform seperti media sosial atau tulisan, agar menjadi inspirasi bagi generasi muda lainnya untuk mengenal dan mencintai budaya sendiri.
Awing juga mengingatkan kembali sejarah awal dibentuknya bidang penelusuran budaya dalam UKM tersebut, yang dulunya difokuskan pada pendataan situs-situs purbakala, suku-suku asli, alat musik tradisional, hingga kebudayaan lokal di berbagai wilayah Jawa Barat.
“Kita punya sejarah seperti Prasasti Batu Tulis dan Ciaruteun di Bogor, yang mungkin belum banyak diketahui oleh remaja saat ini. Hal-hal seperti ini harus terus dikenalkan dan dijaga,” tambahnya.
Menutup pernyataannya, Awing mendorong anggota aktif UKM agar tetap konsisten melanjutkan misi pendokumentasian budaya. Ia juga menyarankan agar mereka memperluas wilayah eksplorasi ke tempat-tempat budaya lainnya seperti Kasepuhan Ciptagelar dan Kampung Naga, serta aktif berdiskusi dengan para senior untuk memperkaya wawasan. (DR)
Bangun Rumah, Renovasi Rumah dan Pekerjaan Sipil Lainnya YA ASPRO AJA
Jangan Tampilkan Lagi Ya, Saya Mau !