BOGOR – Tahun 2018 dan tahun – tahun berikutnya merupakan wajah baru perpolitikan Indonesia. Dalam kesempatan ini ada beberapa point yang ingin saya sampaikan, mudah – mudahan apa yang saya sampaikan ini menambah khasanah nuansa perpolitikan sekaligus mengajak pemilih agar menjadikan pemilihan kepala daerah serentak tahun 2018 dan pemilihan umum 2019 menjadi ajang Demokrasi yang wajar dan sehat. Ketika melihat beberapa persoalan-persoalan politik secara nasional, sejauh ini saya belum menemukan sistem politik yang benar-benar siap dan matang.

Sejak kemerdekaan Bangsa ini, kita sering mengulang hal – hal yang sama bahkan ada kelompok/oknum yang cenderung ingin menghancurkan menjadi kepingan-kepingan kepentingan. Ketika kepingan kepentingan itu telah datang maka akan menyeret kita keujung jurang kehancuran, maka ada dua hal yang bisa dilakukan, satu mengambil bagian atau yang kedua adalah kaget. Untuk yang pertama itu sudah tahu tapi tidak sadar, sedang untuk yang kedua mengambil moment untuk berfoto ria di saat diujung kehancuran demokrasi.

Baca Juga  Peringati HPN 2018, Insan Pers Galang Dana Pembangunan Gedung PWI Bogor | Headline Bogor

Moment Pemilihan Umum (Pemilu) adalah momen berdemokrasi. Moment dimana menggunakan hak suara untuk memilih pemimpin dengan SADAR dan LOGIS.
Mengapa harus sadar dan logis berdemokrasi? Jawabannya adalah Agar tidak di bohongi sama janji-janji/modus (Modal dusta) dari Calon – calon Pemimpin. Kita bisa amati masing-masing calon mulai memainkan perannya dan berusaha untuk mengambil hati rakyat dengan jualan politiknya. Disinilah letaknya peran pemilih untuk mengukur ‘jualan politiknya’ atau program-program 5 (lima) tahun kedepannya. Apakah para kandidat calon bersungguh-sunggih mewakili dan berpihak kepada rakyat tertindas, kaum termarginalkan,buruh, tani, kaum miskin kota dan rakyat tertindas lainnya atau hanya mewakili kepentingan lain.

Baca Juga  Headline Bogor | Bhakti Mahasiswa Politeknik AKA Bogor Di Pesisir Kabupaten Bogor

OKTO