Seminggu belakangan ini, hampir tiap detik aku bolak-balik mengecek perkembangan kuesioner daring yang kusebar. Berharap kalau-kalau sudah mencapai target. Kumaksimalkan jalur komunikasi via sosmed. Tak lain, agar proses tabulasi data cepat kelar. Alih-alih fokus membagikan angket pertanyaan, aku malah lebih sering tergoda bermain sosmed.
Barusan, aku menghabiskan waktu berjam-jam di instagram dan whatsApp. Salah satu yg menarik perhatianku adalah postingan Dhea, sahabatku, tentang suasana Stadium Geberal LK I HMI di Tulungagung. Narasumbernya Bupati Trenggalek, M. Nur Arifin. Satu nama yang membuatku berkutat di internet sejak petang. Banyak orang terkesan karena usianya muda. Bayangkan, saat menjabat Wakil Bupati umurnya 25 tahun!
Cukup lama aku tertegun. Aku penasaran. Akhirnya rasa kepo membawaku dari satu artikel ke artikel lain. Gebrakan, kinerja, termasuk juga saat dia ramai jadi pemberitaan karena absen tanpa kabar hampir dua pekan. Aku juga mengamati postingannya di instagram serta videonya di youtube. Betul-betul mewakili sosok millenial dan komunikatif.
Aku terkenang dengan ucapan seorang kawan dua hari lalu. Saat kami turut mengomentari demonstrasi pelajar STM. Banyak yang takjub, tak sedikit yang sanksi ketika pelajar seusia mereka ikutan gelar aksi ke senayan. Padahal dalam sejarah, Bung Karno sudah terbiasa mengkritik kolonial sejak umur belasan tahunan. Gagasannya bertebaran di banyak media, menghujam jantung kemapanan para penjajah. Dia kerap mengikuti HOS Tjokroaminoto berpidato ke mana-mana.
Masih di generasi yang sama, Semaun aktif dalam gerakan kemerdekaan saat usianya masih amat belia. Tercatat pernah mengorganisir ribuan masa memprotes penjajah. Propagandis dan orator ulung. Anggota S.I Semarang semakin membludak di tangannya. Saat itu, dia mungkin seusia pelajar STM.
Jadi, aku tak perlu heran ketika ada seorang Bupati berusia muda. Atau melihat anak STM berdemonstrasi. Idealnya begitu. Imajinasiku saja yang kurang jauh mainnya. Aku setuju dengan kawanku, “Estafet kepemimpinan memang perlu direbut oleh anak muda. Mereka bernyali dan anak zaman. Sementara yang tua terkesan banyak kompromi dan lamban.”
Joni Iskandar
(Mahasiswa Tazkia | Kader HMI)