Di sebuah desa terpencil, di ujung Sumatera Utara terlahir seorang anak manusia yang penuh raut wajah kegelisahan akan halnya melihat kondisi kehidupan umat manusia. Ia seorang pemuda yang memiliki penampilan wajah yang terlihat begitu murung, tak banyak yang ia bicarakan. Bagi dirinya “tidak akan terucap satu patah katapun, jika ia tidak memahami apa yang akan ia ucapkan kepada orang lain”. Prinsip seperti ini membuat dirinya sulit untuk dipahami oleh orang lain, hingga orang lain itu pun salah paham kepada dirinya.
Tapi biar lah begitu untuk sementara waktu dipandang orang tentang dirinya. Namun nanti akan tiba waktunya pembuktian kesalah pahaman itu menjadi penyesalan dan dihantui oleh kemaluan yang berdiam di dalam nurani mereka yang salah paham menilainya. Idiihhhh, ucapannya terlihat sombong dan ke geeran, “berharap orang lain menyesali apa yang telah diperbuat orang lain itu kepadanya”.
Ia seorang pemuda yang bernama “Roim Aby Rais”, lahir Pada tanggal 11 November 1994. Ia Memiliki tubuh yang kurus dan dekil, selalu membuat onar di kampung halamannya, hinaan dan amarah sering dilontarkan oleh orang lain untuk dirinya, gelap gempita derita hidup telah melatih dirinya, sengsara tak soal, yang penting bagi dirinya ia menjadikan dirinya menjadi tuan dan motivator bagi dirinya sendiri, biar orang lain menggonggong kepadanya, “namun yang jelas aku punya alasan yang kuat untuk aku pegang menjadi pembelaan atas perbuatanku itu”, katanya kepada dirinya sendiri.
Alasan yang terkuatnya itu adalah bahwa jika hidup tak di mulai dari kenakalan maka kita sebagai manusia tak akan pernah tahu bentuk perbuatan yang nakal itu, maka tak salah jika hidup harus di mulai dari kenakalan, agar kita tahu bahwa kenakalan itu tak baik, tak bisa dipertahankan dan harus di bunuh sampai ke akar-akarnya agar bisa menjalani hidup dikemudian hari menjadi seorang anak manusia yang lebih baik dan bermakna bagi kehidupan diri sendiri, keluarga serta bangsa dan negara.
keluarganya berasal dari kalangan yang kurang terpelajar dan kurang memiliki Kemampuan untuk memotivasi dirinya agar menjadi anak yang berilmu. Namun, walau begitu ia seorang anak yang memiliki kerakter yang komitmen terhadap janji cita-cita hidupnya, ia seorang yang optimis dalam menantang badai kehidupan, bagi dirinya tindakan perjalan kehidupan adalah sebuah ujian yang tidak dapat di hindarkan, apapun resiko dari tindakan yang dilakukannya ia siap menerima itu semua. Sebab tidak ada yang tidak beresiko dalam kehidupan ini.
Begitu juga ayah dan ibu nya, memiliki kerakter yang sama kerasnya dengan roim, bagi mereka hidup didunia ini hanya ada dua Janis: ada yang dilahirkan atas keberuntungan semenjak dilahirkan pertama kali didunia ini dan ada yang dilahirkan Karna keberuntungan harus diraih melalui perjuangan hidup yang penuh derita dan resiko. Tidak hanya itu, perekonomian keluargannya pun tidak mencukupi untuk menyekolahkan anak-anaknya sampai ke jenjang perguruan tinggi, mengingat di zaman ini, dikenal dengan sebuah zaman yang beradab bahwa “terdisiplinnya ilmu dan pengetahuan umat manusia” atau dikenal dengan istilah hebatnya: “modern”.
Kenaikan biaya pendidikan, membuat sang keluarga Ayah dan ibu si anak tersebut pasrah dalam ketiadaan, apa boleh dibuat, untuk makan sehari-hari saja susah, apa lagi untuk menyekolahkan anak ke tingkat perguruan tinggi, yang biayanya sangat membuas kehidupan. “Mahalnya biaya pendidikan yang dibuat oleh pemerintah ini tak ubahnya seperti seorang kanibalisme yang memangsa sesama manusia”.
Ya, seperti inilah gambaran biaya pendidikan di negeri kita ini dilihat oleh orang-orang yang hidupnya seperti kehidupan yang serba kekurangan ini. Jadi, walau sang anak berkemauan untuk melanjutkan pendidikan kejenjang yang lebih tinggi, sulit sekiranya terwujud, impian itu. Karna itu hanyalah sebuah harapan yang tetancap didalam hulu hati seorang anak manusia yang hidup keluarganya melarat dan tak mampu berbuat apa-apa di zaman serba uang ini.
Tapi, walau seperti itu keluh kesah Ayah dan ibunya, ia mencoba untuk membantah harapannya mengenai keberlanjutan pendidikannya ke yang lebih tinggi itu, ia mencoba menanamkan pemikirannya kedalam hidupnya dengan berkata kepada dirinya sendiri “sampai kapan aku harus berharap? Harus kah aku berharap?
Padahal aku tahu bahwa “pengharapan itu adalah pembunuh kebahagian”, aku rasa diri ku ini harus mengatakan persetan dengan sebuah harapan, karna Aku ingin hidup ku ini, ya hidup ku, bahagia di kemudian hari nanti dengan ilmu yang aku pelajari didalam proses belajar dan mengajar baik di pendidikan yang tersistem maupun pendidikan lingkungan yang mengajarkan aku tentang pergaulan hidup yang solidaritas dan humaniti.
“Aku yakin, kodrat ku sebagai manusia hanya ditentukan oleh ilmu dan pengetahuan yang aku miliki didalam diri ku sendiri. Karna cahaya ilmu adalah cahaya kemajuan kehidupan umat manusia di alam semesta ini”.
Setelah ia berfikir seperti itu, pemuda yang tak banyak ingin berbicara itu, pemuda yang kurus, berwajah penuh gelisah dan berkulit kotor kering seperti selayaknya seorang anak desa perkampungan.
Memberanikan diri untuk menghampiri Ayah dan ibunya untuk mengucap sepatah kata “ayah ibu aku ingin kuliah”, sebuah perkataan yang pantas untuk ditangisi oleh orang-orang yang hidupnya tidak berkemampuan untuk melanjutkan pendidikan.
Ayah dan ibu nya terlihat sangat terkejut, seakan terjadi guncangan Gempa yang dahsyat menggoyangi kepribadian orang tuanya.
Dikala itu, ibu nya tak mampu berucap hanya tunduk melihat lantai rumah yang lapuk dimakan rayap karna umur rumah tersebut sudah tua, sikap seperti itu selayaknya seorang istri orang batak ketika duduk didekat suami maka sang istri tidak akan berucap kepada anaknya, ia akan menyerahkan semuannya kepada suami bentuk pengajaran sang istri harus patuh kepada suami sebagai kepala rumah tangga.
Lalu, terdengar suara sang Ayah bermaksut untuk menjawab pertanyaan sang anak, dengan logat batak berbahasa Indonesia, kau bilang mau sekolah? Apakah kau tidak berfikir biaya sekolah itu tidak Mahal? Mau bayar peke apa Kau? Mau bayar peke daun? Cobalah otak Kau itu dipergunakan untuk melihat dan berfikir dengan keadaan keungan keluarga, tujuh keturunan keluarga kita tidak akan mampu untuk membiaya perkuliahan yang kau inginkan itu.
Ayah, tidak mengizinkan Kau untuk kuliah, bukan Karna ayah tidak berkenan untuk menguliahkan Kau, tapi apa boleh dibuat kita telah ditakdirkan sebagai orang yang tidak pantas untuk mengenyam pendidikan di negeri ini. Seandainya saja pemerintah mau menurunkan biaya pendidikan dinegeri ini barulah orang-orang seperti kita ini bisa untuk berpendidikan, ini kan tidak, pemerintah membuat biaya pendidikan sangat tidak terjangkau.
Mendengar perkataan ayah itu, ia hanya termenung, seperti orang yang memikirkan kata-kata agar di izinkan untuk kuliah. Tidak Lama dari perenungannya mendengarkan kata-kata Ayah nya itu, ia kembali berucap, ayah aku tidak meminta biaya, aku hanya meminta izin, sekiranya ayah dan ibu bekenan mengizin kan aku untuk kuliah. Aku sadar bagai mana kondisi keluarga kita, jauh dari standar Ekonomi yang seharusnya. Tapi aku berani berkata meminta izin ini, karna aku punya cara untuk membiayai kuliah ku. “Karna aku yakin seorang anak yang berkemauan dari hati, berarti kemauan itu adalah suatu kehendak yang Mulia. Dan kehendak yang mulia itu patut untuk diperjuangkan”. Atas hal inilah aku, ayah, anak mu memberanikan diri untuk mengeluarkan riuh kata yang sukar untuk ayah dan ibu dengar dari seorang anak yang berkemauan mengubah haluan hidup dari seorang yang tak terdidik menjadi seorang yang terdidik di kemudian hari.
Ayah ibu, haluan nasib hidup ini jika kita tak berani mengubahnya maka tak ada satupun di semesta ini yang mampu mengubah haluan hidup kita bahkan Allah pun tak bisa, agama yang kita anut mengajarkan kepada kita, bahwa Allah berkata “tidak akan aku ubah nasib suatu Kaum jika kaum itu sendiri tidak mau untuk mengubahnya”. Itu kata Allah Ayah ibu, sebuah kata yang terterai di kitab penuntun hidup kita didunia dan di akhirat. Atas dasar keinginan ku untuk mengubah nasib hidup ini maka Dari itulah aku meminta izin untuk kuliah kepada ayah dan ibu.
Walau kalimat kata begitu meyakikan terdengar di telinga, dengan nada penuh bujuk rayu yang dilakoni oleh sang anak, ayahnya tetap pada perkataan tidak merestui keingan itu. Amarah pun mulai menerjang hulu hati anak tersebut, hingga kata mengancam pun mulai di keluarkan, “ayah jika kau terus menolak permitaan ku ini, alangkah baiknya kau sudi untuk menghapus nama ku dari kelurga ini, untuk apa aku hidup di keluarga yang selalu diperangi oleh ketiadaan, keluarga yang tidak mempersilahkan anaknya untuk mencoba keluar dari keterpurukan hidup, aku hanya bermaksut ingin menjadi seorang yang berani menantang kehidupan ini, bagi ku Ayah, sudah saat nya aku sebagai anak laki-laki mu, mencoba bangkit dari keterpurukan ini “menjadi seorang anak batang terendam yang mencoba bangkit kembali ke permukaan air yang penuh lubuk sungai kehidupan”. Bukankah itu yang keluarga ini harapkan, tidak hanya keluarga ini, desa ini pun menginginkan begitu. Bukankah hal yang seperti ini yang di ajarkan oleh nenek moyang kita kepada kita yah?: jujur saja yah, keinginan ku ini, Karna adanya pengajaran itu, aku ingin menjadi batang terandam yang dimaksut. Semoga Ayah semakin yakin dan mau untuk merestui aku pergi melanglang buana ke negeri tempat aku kuliah nanti. Ayah diam, tak berkata seperti patung yang terias Indah didalam sebuah istana kemiskinan.
***
Setelah berdialog dengan ayahnya, membahas tentang keinginan untuk menjadi seorang terdidik, ia pergi ke tempat yang disukainya, pantai yang terbentang luas tiada batas dan tiada sekat. Dari melihat pantai itu ia menjadi termotivasi, bahwa ketidak mampuan untuk berpendidikan bukan lah sebuah pembatas bagi seorang yang ingin menjadi terdidik sebab yang mengatakan tidak mampu itu hanyalah dirinya sendiri, Karna ia semenjak menjadi seorang remaja sudah mengajari pandangan mata nya begitu sempit sehingga membuat hati menjadi pesimis untuk terbang keangkasa meraih bintang gemintang yang berkerlip ketika malam tiba.
Dari hal itu ia mencoba untuk merenungkan langkah apa yang harus diambilnya sebagai tindakannya agar menjadi seorang yang berpendidikan? Ia sudah tahu masalahnya mengapa ia harus berpendidikan : jika seorang anak manusia tidak melalui proses pendidikan dalam hidupnya maka ia akan menjadi seorang anak manusia yang tidak akan tahu bahwa haknya di ambil oleh orang lain. Sebab seorang berpendidikan akan tersadar apa bila haknya diambil oleh orang lain.
Maka dari itulah ia teguhkan hati dan pikirannya untuk melangkah maju menjadi seorang yang berpendidikan. Walau harga pendidikan membumbung tinggi, tak terjangkau namun hal itu bukan lah suatu penghambat untuk menjadi seorang yang berkeinginan menjadi seorang yang terdidik.
Senja sudah tiba, ufuk langit sudah berubah menjadi kegelapan. Ia beransur untuk kembali pulang, sesampainya kerumah ia menenangkan gundah gula pemikiran dan hatinya yang ingin mengambil langkah hidup. Ia angkat takbir untuk berserah diri kepada Allah, dan akan berdo’a memohon ampun dan meminta agar hati dan pikirannya diberi pentunjuk. Lagkah apa yang ia putuskan untuk kemajuan hidupnya.
Usai beribadah, Lelah yang Terasa mengajaknya mencoba untuk beristirahat, dan ia berdoa’a semoga esok aku sudah mendapatkan keputusan untuk langkah hidup ku. Antara memberanikan diri untuk pergi dari desa ini atau diam disini sampai ajal menjemput.
Waktu berputar, indahnya malam di hiasi bintang gemintang dan bulan dikala itu, tak dapat ia nikmati Karna ia ingin besok pagi sudah terbangun dari lelap tidurnya. Tidak lama berselang waktu, pagi sudah tiba ia terbangun dan terduduk di tempat tidurnya sambil meminum air putih segelas. Setelah itu hatinya kembali berkata. Sampai kapan aku harus begini, dirundung derita, oh tidak, aku tak bisa melanjutkan nasib buruk ini, aku akan pergi dari kehidupan yang tidak aku sukai ini. Selamat tinggal kehidupan yang membosankan dan menjemukan ini.
Ayah, ibu dan adik-adiknya masih tenggelam dalam lelap, belum terbangun dari mimpi yang menghibur derita saat itu. Ia hiraukan itu semua, ia tak mau menoleh melihat keluarganya yang sedang terbaring karna ia takut bersedih dan tidak akan melanjutkan niat hati nya yang ingin keluar dari zona kemiskinan kebodohan dan penderitaan yang bertahun-tahun dirasakannya.
Tas ransel sudah ditangannya, bergegas ia membuka lemari tempat pakayan, ia ambil baju dan celana nya, lalu dimasukkan kedalam tas, petanda beesiap-siap untuk pergi melarikan diri. Kemana ia pergi? Belum ada tujuan pasti ditentukan disaat itu. Tapi, ia telah melihat situasi dan kindisi dimana ia akan singgah menjalankan hidupnya, kata batin hatinya, jika aku masih tetap di lingkungan Sumatera, aku akan masih menjadi seorang manusia yang berfikir lokal, karna aku dari kecil sudah menjalankan kehidupan sosial dan budaya di sini. Karna aku putra asli Sumatera. Mungkin sebaiknya aku pergi dari tanah moyang ku ini, pergi kepulau jawa, sebab dipulau jawa adalah tempat berproseanya manusia-manusia yang berfikir nasional dan international. Jika aku ingin memiliki pola pikir nasional dan international aku sebiknya hidup dipulau Jawa.
Setelah matahari terlihat mengintip dari arah ufuk timur, ibunya terbangun, yang lain masih terlelap, saat itu ibunya pergi ke kamar mandi untuk bersih-bersih, lalu setelah keluar ibunya mengambil segelas air untuk melepaskan dahaga kehausan. Namun sedih mulai Melanda. Air mata ibunya menetes membaca sehelai kertas yang terletak diatas meja tempat ibunya mengambil segelas air minum.
“Aku pergi”
Keluarga ku, yang manis dan yang selalu terniang dalam inti hati. Ayah, ibu dan adik-adik ku. Ku tinggalkan sehelai kertas yang aku tulis dengan jari jemari yang bergetar atas serangan kesedihan dan kedukaan. Untuk menyampaikan maksut hati kepada ibu yang akan membaca tulisan ini. Aku tahu ibulah yang pertama kali membaca Surat yang aku tinggalkan diatas meja ini, Karna ibu selalu lebih dahulu terbangun dari lelap tidur yang menghibur derita.
Ibu catat hari ini adalah hari bersejarah untuk keluarga kecil kita, untuk dikenang dan selalu akan terkenang. Aku yakin hari ini tepat tanggal 11 juni tidak akan bisa keluarga kita lupakan Karna dihari ini adalah hari kepergian ku, hari keputusan, dan hari yang akan menyambut hidup baru untuk aku dan keluarga kita.
Ibu kepergian ku ini, bukan karna aku tidak sanggup dengan keluarga kita yang tidak berkecukupan, tetapi kepergian ku ini Karna aku ingin mejadi seorang yang merdeka, bukakah ibu pernah mengatakan kepada ku Bahwa aku anak mu harus menjadikan diri ku menjadi diri sendiri, diri ku adalah majikan bagi ku sendiri, tapi aku harus ingat pula hak orang lain yang tidak boleh untuk aku kuasai”. Ajaran ibu ini lah yang membuat aku mengubah haluan hidup. Meperjuangkan hidupku dengan perkelahian dan resiko. Demi masa depan yang menanti.
Bukan hanya hidup ku yang aku pikirkan dalam pengembaraan ini, tetapi keluarga kita, desa kita yang sangat seharusnya diperhatikan oleh orang-orang yang menjalankan hidup dan mendapatkan prolehan hasil sumberdaya alam dari desa itu sendiri. Ibu, aku melihat keadaan kampung kita semakin hari semakin terpuruk bukan karna ulah orang lain tetapi karna ulah kita sendiri masyarakat yang berdiam diri di kampung itu. Sebagai generasi dan sebagai ahli waris pradaban, aku mencoba pergi dari sangkarku meninggalkan kemanjaan, meninggalkan kasih sayang dan meninggalkan keinginan pribadi ku demi hidupku, demi keluarga kita dan demi kampung kita ibu. Sebagai kaum muda aku mempunyai beban moral untuk masa depan dunia ini, berangkat dari perenungan ku itulah aku memutuskan untuk bebas melayang mencari tempat singgah dengan maksut ingin belajar menjadi manusia yang sebenarnya manusia di permukaan semesta ini.
Sebagai ahli waris peradaban, aku mengamati bagai mana kondisi negeri kita, dalam pandangan ku, aku melihat begitu banyak orang yang mengagungkan dan mendewakan seseorang yang sama sekali tidak pantut untuk diagungkan dan didewakan. Karna sesunggungnya merekalah yang menhancurkan masa depan negeri kita itu ibu. Aku pernah berfikir tentang masyarkat Kita, anak mu yang sedang bermimpi ini menyimpulkan bahwa masyarkat kita kini diterpa oleh sifat yang mengfanatiskan orang yang menghancur leburkan kesejahteraan kehidupan masyarakat kita, ibu tau kenapa hal itu terjadi? Karna ketidak terdidikan, ketidak inginan untuk mampu menganalisis, Karna kebutaan terhadap sejarah negeri kita sendiri, dan Karna kehedonisan yang berlebihan. Maka dari itulah aku ingin menjadi orang yang berpendidikan yang paham terhadap baik dan buruknya ilmu pengetahuan yang sedang mengubah gelap nya dunia menjadi terang benderang.
Perkataan ku ini bukan lahir dari sentimen darah muda belaka, tetapi inilah kejadian yang aku lihat, aku dengar dan yang aku rasakan di kehidupan kita. Terucapkannya perkataan ku ini, aku hanya bermaksut ingin belajar jujur semenjak usia muda ku ini. Jujur terhadap apa yang tersirat didalam pemikiran dan hati ku sendiri. Jika tidak aku mulai dari sekarang kejujuran itu, maka sesungguhnya aku tidak bertanggung jawab terhadap diri ku sendiri dan Allah, mungkin bisa saja nanti aku akan menjadi seorang anak manusia yang penghinat terhadap kejujuran dan menjadikan diri ku menjadi seorang biadab yang jauh dari nilai kemanusian yang sesunggunya. Aku tidak ingin termasuk golongan orang-orang yang seperti itu ibu.
Sebagai seorang yang pernah menjalankan sekolah menengah aku ingat bagai mana cerita pak guru yang mengajari kami (siswa/i)nya di waktu itu, ia menceritakan tentang keprihatinannya melihat kampung kita ini, katanya: kampung kita ini kaya, kaya sumberdaya alamnya dan kaya sumberdaya manusianya, laut yang terbentang memberikan hasil tangkapan ikan yang begitu berlimpah ruah, bahkan dulu masyarakat kita yang ditawari menjadi pegawai negeri mereka tak berkeinginan, mereka lebih berkeinginan menjadi nelayan, Karna gaji menjadi seorang nelayan lebih besar perbulan nya dibandingkan pegawai negeri. Satu bulan menjadi nelayan sudah bisa mendirikan rumah, sementara satu bulan gaji pegawai hanya bisa beli rokok dan kopi selama 5 hari. Hehehehe, kami tertawa di waktu sang Guru menceritakan itu. Lalu ia lanjut bercerita kembali: tapi cerita itu hanya dimasa lalu negeri ini, kalau sekarang keadaan nya sudah berbalik, orang-orang lebih berkeinginan untuk menjadi pegawai dari pada nelayan Karna kondisi laut sudah tidak memberikan hasil tangkapan yang seperti dulu lagi.
Sungguh indah kehidupan dahalu di negeri ini, hasil alamnya dinikmati oleh pribumi sendiri, tidak ditipu daya seperti sekarang.
Jika ibu sudah membaca Surat ini, tolong pintaku, lupakan aku, hapus namaku, dan anggap aku yang hanya hidup dalam khayal imajinasi ibu, demi mengobati kesedihan ibu selama aku berlayar di dalam kehidupan ruang dan waktu ini. Jangan cari aku, aku akan baik-baik saja. Semoga dihari yang akan datang kita dipertemukan dan mejalankan kehidupan yang lebih baik lagi dari pada hari ini dan yang lalu.
Selamat tinggal ibu, ayah, adek-adek dan keluarga semua.
Fajar rahasia kehidupan mulai dilalui, diatas pasir yang di teriaki oleh pecahan ombak Samudra terseret perahu untuk digenangi dan didayung menuju pulai fajar rahasia tersebut. Keberanian menantang badai tak dapat untuk diragukan lagi, resiko dan kosenkuensi dihadapinya. Sedikit pun ia tak mengeluh, tekat yang kuat terpancar dari tubuh nya yang kurus dan dekil. Ia seorang pemuda yang resah, yang memiliki keinginan Tahan tentang teka-teki kehidupan yang ia saksikan. Terus, terus, teruslah mendayung kata hatinya, Kau tak boleh berhenti, kau tak boleh lenyap oleh gelombang ombak dan udara yang kelabu menyerang perjalanan mu. Sebuah peringatan untuk dirinya sendiri, di saat pertengahan perjalanan.
Oleh : Wahyu Hidayat Lubis
(Mahasiswa Universitas Pakuan Kota Bogor)