“Skip Challenge” Permainan Pencabut Nyawa Yang Mewabah di Kalangan Pelajar

Bogor (Headlinebogor.com) – ‘Virus’ berbahaya sedang mewabah di kalangan pelajar. Namanya, Skip Challenge.

Sebuah permainan yang dilakukan dengan menekan dada seseorang sebegitu kuat, hingga orang tersebut tak sadarkan diri. Kabarnya, dalam beberapa kasus, ada yang berakhir tragis hingga kematian.

Terhambatnya pernapasan membuat si korban kehabisan napas dan akhirnya kejang serta pingsan seketika. Di situlah para pelaku tertawa kegirangan melihat rekan mereka kejang-kejang.

Bacaan Lainnya

Kepada Radar Bogor (Pojoksatu.id Group), RF (15), remaja yang melakukan Skip Challenge dan mengunggah videonya di media sosial, mengaku menyesal dan sudah merasakan dampak negatif tantangan yang sedang viral di media sosial tersebut.

Remaja yang tinggal di Tangerang Selatan ini mengaku sudah empat kali melakukan aksi berbahaya tersebut.

Dia menjelaskan, saat akan melakukan Skip Challenge, dia mengambil napas dari hidung keluar dari mulut, lalu napas dalam, jongkok lalu dadanya ditekan oleh teman-temannya.

“Rasanya kayak ada saluran yang tersumbat lalu lemas. Ditekan sampai lemas lalu tiba-tiba jatuh sendiri. Saat saya bangun, rasanya pusing, teman-teman ketawa-ketawa aja,” kata dia, seperti dinukil dari laman suara surabaya.

Di Amerika, tren ini pernah merenggut nyawa bocah 11 tahun. Korbannya adalah seorang anak bernama Da’Vorious Gray (11), dari Carolina Selatan.

Gray ditemukan pingsan di dalam lemari rumahnya. Dia dilarikan ke rumah sakit, tapi nyawanya tak tertolong.

“Ini permainan berbahaya. Pemain mencoba kehabisan napas sendiri. Gray sepertinya belajar tentang permainan melalui media sosial aplikasi Kik,” ujar keluarganya, seperti diberitakan Nydailynews, Jumat (10/03/2017).

Mengapa permainan ini berbahaya? Berbagai literatur memaparkan, terhambatnya oksigen ke otak disebut sebagai hypoxic-anoxic brain injury (HAI) atau hipoksia.

Selain menyebabkan sesak napas, aksi ini juga menyebabkan efek jangka panjang berupa kematian sel tubuh, masalah penglihatan, serta kerusakan fungsi motorik tubuh.

Hal itu dibenarkan spesalis saraf pada Rumah Sakit Marzuki Mahdi, dokter Zainal Arifin, SPS.

“Pada rongga dada terdapat organ penting dan vital seperti jantung dan paru. Karenanya, penekanan pada daerah sekitar leher dapat berakibat fatal. Bahkan kematian cepat dalam hitungan detik,” kata kata Zainal kepada Radar Bogor (Pojoksatu.id Group).

Dia memaparkan, di daerah sekitar leher terdapat saraf vagus yang mengatur perjalanan oksigen. Apabila penekanan itu mengenai vagus, menyebakan berhentinya kontraksi jantung secara cepat dalam hitungan detik.

“Pada kondisi itu, bisa menyumbat jalan nafas dan membuat jantung berhenti secara mendadak dalam hitungan detik. Permainan yang sangat bahaya mengancam jiwa. Harus dilarang,” cetus Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kota Bogor ini.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy pun bergerak cepat. Ia menginstruksikan guru/wali kelas untuk melarang siswa atau peserta didiknya bermain Skip Challenge.

“Kepala guru, terutama wakil kepala sekolah kesiswaan untuk memantau dan melarang anak-anak untuk melakukan itu (Skip Challenge),” kata Mendikbud Muhadjir, Jumat (10/03/2017).

Mendikbud mengingatkan kepada pelajar tentang bahaya dari permainan tersebut karena bisa mengancam jiwa. “Sudah kita imbau, kita instruksikan sekolah melarang,” kata dia.

Pengamat Pendidikan Doni Koesoema mendesak pemerintah segera mengambil langkah menyikapi fenomena ini. Terutama dalam pengawasan perilaku anak di sekolah.

“Kegiatan ini harus dilarang,” tegasnya.

Selain itu, lanjut Doni, pemerintah pusat harus terus berkoordinasi dengan dinas pendidikan di tingkat provinsi dan kabupaten/kota.

“Dinas pendidikan kemudian memberi edaran kepala sekolah, guru dan komite sekolah. Diteruskan ke orangtua untuk menghentikan permainan yang merusak ini,” imbuhnya.

Psikolog Anak dari Rumah Cinta Bogor, Retno Lelyani. Dia mengatakan, idealnya pemerintah langsung menyosialisasikan kebijakan tersebut ke masyarakat.

Tujuannya agar masyarakat paham dan mengontrol putra-putri mereka.

“Dibutuhkan juga kerja sama dengan PKK/Posyandu dan RT/RW agar orang tua paham tentang tren. Misalnya beri ancaman hukuman jika mereka mempraktikkan itu,” tukasnya.

 

Baca juga : Dewan Pendidikan Kab. Bogor: Skip Challenge Berbahaya

 

 

(radar bogor/don/net/c)