Oleh : M. Aditiya Abdurahman
Mahasiswa Ibi Kesatuan Bogor.

Tridharma Perguruan Tinggi seyogyanya menjadi pengejawantahan perguruan tinggi saat ini karena dari tiga dimensi Tridharma perguruan tinggi telah disemai harapan pemimpin yang berkarakter, cerdas, kreatif & inovatif. Dan mampu memenej kehidupan bangsa.

Ali Shariati dalam bukunya “Tugas Cendikiawan Muslim” telah menguraikan sisi lemah intelektual. Jenis manusia yang seharusnya lahir dikampus adalah mereka yang sekedar tidak hanya memiliki ilmu, tetapi juga punya kemampuan membangun kesadaran masyarakat, sekaligus terlibat dalam gerakan sosial. Sayangnya, sejumlah perguruan tinggi memainkan perannya secara sempit. Kampus hanya beroperasi sebagai industri pengahasil sarjana massal. Ego anak didik dibangun hanya sebatas untuk mampu menyelamatkan diri sendiri, dengan mengabaikan persoalan-persoalan sosial.

Muhammad yunus peraih Nobel Perdamaian 2006 mengatakan “Kampus terlalu arogan dengan teori-teorinya”. Kaum akademisi ibarat menara gading, menjulang ke langit dan terbuai dengan ilusi-ilusi teoritis. Sangat sedikit dari intelektualnya yang mau turun kejalan bersama masyarakat untuk menanggapi realitas sosial.

Baca Juga  Nafsu Materialistik Dengan Pemalsuan Tanda Tangan Sertifikat Tanah

Nyatanya Perguruan tinggi hari ini melahirkan intelektual yang mengalami disorientasi hidup, pengetahuan dan skill-nya rendah. Kemampuan leadership dan moralitasnya lemah. Disinyalir, akibat ketidakmampuan kampus mengelola dirinya, sehingga kualitas anak didikanya terabaikan.

Bagaimana tidak mahasiswa hanya belajar dari satu teori ke teori lainnya. satu matakuliah ke matakuliah lainnya, tanpa merasakan realitas sosial yang sesungguhnya. Mahasiswa diajari budaya instan. Bukannya diajari memahami secara utuh tujuan pendidikan dan hakikat keberadaan dirinya sebagai (Khalifatullah Fill Ard) mahasiswa justru di dorong untuk cepat lulus dan diarahkan sebagai mesin bagi tuannya. Memenuhi pasar-pasar tenaga kerja. Dengan berbagai rating gaji. Akibatnya, tertanamlah dialam sadarnya, bahwa uang (Materi) menjadi satu-satunya tujuan.

Baca Juga  STS : Pedagang Kaki Lima Pengaman Ekonomi Rakyat

Pragmatisme dan hedonisme tumbuh menjadi mentalitas mereka akhirnya, makna transender dari hidup jadi sirna, tanpa disadari kampus menjadi cikal bakal supplier utama koruptor untuk negeri ini.

Dan bagiku peran kampus seharusnya mampu mencetak manusia-manusia yang sempurna dengan penempaan (aktualisasi potensi) melalui wadah organisasi kemahasiswaan sesuai dengan bidangnya untuk asistensi bagi kemajuan bangsa yang dinilai sebagai pendukung Tridhrama perguruan tinggi. Sehingga bakat minat mahasiswa dapat dihidupkan. Dan potensi intellectual qoutient (IQ), emotial qoutient (EQ), dan spiritual qoutient (SQ) tumbuh dengan baik.

Terakhir Perguruan Tinggi ditengah kondisi bangsa yang pelik harus memiliki sikap maupun Mahasiswa di Indonesia harus mampu menegaskan posisinya bagi supremasi pembangunan negeri karena peradaban yang pesat adalah ciri adanya integrasi antara SDM yang mempuni serta sistemasi yang memadai.