Lelaki
Adalah peluh kelam menderap dalam selaksa pijakan
Debar jantungnya adalah keniscayaan kisah tanpa monumen perjuangan, jika ia mati tanpa sebuah kenangan tanpa menanam apa-apa
Lelaki
Pada jutaan mimpi bagai puting ranum di dada perempuan ia meretas ketakapaan dan jika harus membunuh, ia harus tahu bagaimana menjadi pembunuh yang dicintai perempuan
Sebab lelaki adalah kegaduhan riuh resah dan mercusuar di dada perempuan
Lelaki
Adalah jalan-jalan semesta di mata perempuan
Jika kelam linang duka di tenggara perempuan
Ia harus tahu menyingkap riuh di barat ataupun Selatan mata perempuannya
Sebab perempuan tak akan menimang langit di pundaknya
Maka setapak duka maupun suka harus dikoyak belati lelaki
Kau dan aku harus tahu menyingkap kebodohan musim yang ditakdirkan setan, dan bukan untuk sebuah diam hanya untuk menyusui cantik perempuanmu
Lelaki
Kita tak harus menjadi prasasti hampa
Sebab dipijakmu kini adalah jalan menemu jutaan nafas dari perempuanmu
Namun kau harus tahu membuat perhitungan
Jika sekejap pijak tak pernah merajut senyum perempuanmu maka kau harus tahu bagaimana merangkai sebuah henti atau menebas sekali lagi jutaan mimpi di dada perempuanmu
Namun
Kita punya banyak perhitungan
Busur panah di matamu
Adalah hanya memeluk rahim perempuan
Jika kau lepas maka kau harus tahu bagaimana ia dikoyak musim yang tidak memiliki cinta
Kita tak pernah tahu bagaimana perempuan memiliki Semesta di jantungmu
Jika hanya selintas musim yang semi lalu lepas kerontang di dasar jiwamu
Maka kau harus tahu melaut walau pasang dan mungkin surut
Sebab kita adalah biduk
Dan pelabuhan yang tak kenal musim bagi yang kau sebut sebagai perempuan.
Kota Hujan
17/05/17
***

Kiriman Yogen Sogen