Tentang Trilogi Kekuasaan, Vini, Vidi, Vici (Aku mencalonkan, Aku menjadi, Aku melupakan)
OPINI – Pemilu 2019 tinggal menghitung hari, ajang show of force bagi caleg maupun parpol yang mencalonkan diri sebagai peserta pemilu. Setiap caleg atau parpol mulai berlomba-lomba mencari dukungan dengan harapan elektabilitas dan suara mereka tinggi. Berbagai macam cara dilakukan, ada yang besar-besaran beriklan di berbagai macam media, ada juga yang sembunyi-sembunyi menggalang kekuatan yang bisa jadi akan mengejutkan pada proses akhir pemilu nanti. Setiap caleg atau parpol melakukan pencitraan positif yang merupakan strategi merangkai jaring-jaring kekuasaan (web of government). Trend blusukan dijadikan senjata ampuh untuk meraup simpati massa. Masyarakat pun dibuat terpana dan berpikir. Terkadang tidak sedikit strategi meraup massa menggunakan hal-hal yang irrasional, di luar dari kemampuan yang dimiliki seorang caleg atau parpol. Baik ditinjau dari segi finansial, sumber daya manusia, ataupun hal-hal lainnya. Sehingga pertanyaan yang akan muncul di kemudian hari adalah “Apa yang akan dilakukan seseorang atau parpol jika terpilih nanti?”.
Siapapun punya jargon berjuang untuk rakyat, rakyat di atas segalanya, bahkan dari dirinya sendiri dan parpolnya. Seolah-olah tidak ada fokus dan perhatian yang lebih mempesona dari mengangkat derajat rakyat setinggi-tingginya. Itulah retorika politik, janji politik, kontrak politik atau entah apalagi namanya. Tapi satu yang pasti stempel rakyat harus ada dan menjadi syarat dari political attraction. Jika boleh saya menyimpulkan caleg yang akan ikut dalam pemilu 2019 terbagi menjadi tiga kategori. Kategori pertama adalah caleg wajah lama, dalam artian mereka adalah para caleg produk dari pemilu 2014 yang ikut berkompetisi kembali pada pemilu 2019. Kategori kedua adalah caleg wajah baru, mereka adalah para caleg yang baru ikut pemilu 2019. Mereka petualang politik baru dengan akses kekuasaan terbatas tetapi memiliki kepercayaan diri yang sangat tinggi untuk berkompetisi. Meski tidak sedikit diantara mereka pun harus bersaing secara internal di tubuh partainya. Kategori tiga, adalah caleg merubah wajah. Artinya ada diantara caleg yang ikut dalam pemilu 2014 tapi mereka gagal mendapatkan kursi dan ikut kembali berkompetisi pada pemilu 2019 lalu ada diantara mereka yang merubah identitas pakaian politiknya (pindah parpol).
Ketiga kategori tersebut memiliki peluang yang sama untuk dapat memenangi kompetisi di pemilu 2019, tapi tetap dengan syarat dan ketentuan berlaku. Siapa yang mampu menguasai “hati” rakyat maka mereka lah yang kelak akan menjadi pemenangnya. Para caleg atau parpol yang akan berkompetisi sudah sepatutnya untuk berpikir cerdas dengan menganggap bahwa rakyat yang akan menggunakan hak pilihnya adalah orang-orang cerdas, orang-orang yang tidak lantas menjadi buta akibat “serangan fajar”. Orang-orang yang harus disentuh “hati” nya dengan pendekatan yang nyata, aksi nyata dari pribadi hebat caleg yang nyata dalam menyelaraskan kata-kata dan perbuatannya. Siapapun secara naluriah memiliki kecenderungan untuk memiliki kekuasaan, dan kekuasaan secara alamiah menuntun seseorang untuk melakukan tindakan-tindakan yang seringkali menodai hakikat dari kekuasaan itu sendiri.
Dalil Lord Acton, seorang politikus Inggris yang hidup pada tahun 1800 an yang menyatakan “power tends to corrupt, and absolute power corrupts absolutely. Great men are almost always bad men.” Bisa jadi akan terus menjadi adagium politik yang sangat benar adanya sampai kapanpun. Kekuasaan cenderung melakukan korupsi, kekuasaan yang besar korupsinya besar-besaran. Orang besar (yang punya pengaruh kekuasaan) juga hampir selalu adalah orang yang buruk (dalam menjalankan kekuasaan).
Harapan dari seluruh rakyat adalah kesejahteraan dan kemakmuran sebesar-besarnya, bukan untuk dikuasai sebesar-besarnya. Jangan sampai strategi politik para caleg atau parpol menjadi trilogi kekuasaan semu, VINI VIDI VICI (AKU MENCALONKAN, AKU MENJADI, AKU MELUPAKAN). Semoga pemilu 2019 melahirkan pemimpin yang membuang ego pribadi dan kelompoknya. Melahirkan negarawan sejati yang benar-benar berani mengatakan tidak untuk KORUPSI. Negarawan yang berani mengangkat harkat, derajat, dan martabat bangsa dan negaranya pada level tertinggi peradaban yang berakhlak mulia.
Oleh : Bambang Aribowo, S.Pd.MM (Guru SMAN 1 RUMPIN Kabupaten Bogor, Pemerhati masalah social dan politik).
3 Komentar
5
4
1
Komentar ditutup.