Unpak Kukuhkan Guru Besar Bidang Ilmu Manajemen Pendidikan dan Bidang Ilmu Biologi

KOTA BOGOR – Universitas Pakuan mengukuhkan Prof. Dr. Sri Setyaningsih, M.Si. sebagai Guru Besar dalam Bidang Ilmu Manajemen Pendidikan dan Prof. Dr. Prasetyorini, M.S sebagai Guru Besar dalam Bidang Ilmu Biologi. Pengukuhan ini dilakukan melalui sidang terbuka di Gedung Graha Pakuan Siliwangi Universitas Pakuan pada Sabtu, (14/5) kemarin.

Acara ini dihadiri oleh Dirjen SDID Kemenristekdikti RI, Kepala LLDIKTI Wilayah IV Jawa Barat dan Banten, Pembina Yayasan Pakuan Siliwangi, Ketua dan Badan Pengurus serta Pengawas Yayasan Pakuan Siliwangi, Senat Guru Besar Universitas Pakuan, Rektor Universitas Pakuan, Pejabat struktural di lingkungan Universitas Pakuan, serta Sivitas Akademika dan Karyawan Universitas Pakuan.

Dalam orasi pengukuhannya dengan judul : POP-SDM SUATU PENDEKATAN PENELITIAN KOMPREHENSIF DALAM PENGUATAN SUMBERDAYA MANAJEMEN, Prof. Dr. Sri Setyaningsih, M.Si memaparkan, pemikirannya sebagai salah seorang dosen yang ikut melaksanakan kegiatan Tri Dharma Perguruan Tinggi dan tergerak hatinya untuk berkontribusi memperbaiki keadaan yang terkait dengan mutu penelitian perguruan tinggi di Indonesia.

Post ADS 1

“Globalisasi yang terjadi pada abad ini berakibat pada perubahan keseluruhan kehidupan masyarakat, tidak terkecuali sektor pendidikan. Pada era ini, pendidikan harus dapat menyikapi, mengantisipasi perkembangan yang serba cepat dan perkembangan masyarakat berbasis ilmu pengetahuan mutlak diperlukan. Oleh sebab itu, inovasi berbagai metoda dan model penelitian yang sejalan dengan KKNI (Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia) harus juga dikembangkan,” ujar Prof. Dr. Sri Setyaningsih.

Prof. Dr. Sri Setyaningsih juga mengatakan, Keberadaan KKNI secara nasional diharapkan akan mendorong pengembangan keterampilan para dosen untuk memfasilitasi mahasiswa dalam meningkatkan kualitas disertasi dengan menghasilkan kebaruan. Unsur kebaruan penelitian disertasi hakikatnya merupakan hasil penelitian yang telah dilaporkan ke masyarakat setelah melalui beberapa tahapan yang dilalui oleh seorang calon doktor, sehingga diharapkan karya akhir itu berkualitas.

“Dalam dokumen KKNI, ada beberapa ukuran untuk menilai kualitas desertasi yang merupakan karya ilmiah: (1) novelty (kebaruan), artinya bidang yang dikaji sangat baru dan relevan dengan kebutuhan masyarakat, (2) memberikan kontribusi nyata bagi kehidupan masyarakat, (3) dilalui dengan proses metodologis yang benar, (4) bukan pengulangan, apalagi penjiplakan, dari karya sebelumnya, dan (5) dilakukan dengan penuh kejujuran.
Novelty penelitian sangat penting sebagai tolok ukur karya ilmiah,” tutupnya.

sementara itu Prof. Dr. Prasetyorini, M.S pada orasi pengukuhan nya mengatakan, jabatan Guru Besar bidang Ilmu Biologi merupakan rahmat dan karunia dari Allah SWT, doa orang tua, doa suami dan anak-anak, serta support yang luar biasa dari pimpinan Universitas Pakuan, Sekolah Pascasasarjana, dan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam yang telah banyak memberikan dukungan, semangat, dan kerjasamanya. Profesi dosen bukanlah cita-cita saya, apalagi menjadi Guru Besar. Namun Allah SWT telah menggariskan takdir saya untuk menjadi seorang dosen di Universitas Pakuan dan mendapatkan amanah sebagai Guru Besar.

“Sejak di SMA saya tertarik pada bidang Biologi dan saya bercita-cita bisa masuk Fakultas Biologi Universits Gadjah Mada, Ahamdulillah cita-cita saya terkabul dan saya menyelesaikan pendidikan S-1 di Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada Yogyakarta dengan Beasiswa Supersemar pada tanggal 30 Juni 1982. Dengan alasan keluarga saya melanjutkan kuliah S-2 di Fakultas Pascasarjana Program Studi Biologi Institut Pertanian Bogor dengan Beasiswa TMPD (Tim Manajemen Program Doktor) dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan dan Lulus tanggal 8 Juni tahun 1991,” pungkasnya.

Lanjut Prof. Dr. Prasetyorini, karena Ketertarikannya juga pada keragaman tanaman obat di Indonesia, maka melanjutkan studi S-3 saya di Program Pascasarjana Progran Studi Biologi Institut Pertanian Bogor dengan memilih disertasi tentang preservasi salah satu tanaman obat yang sudah dinyatakan langka yaitu Rauvolvia serpentina. Dan dalam studi S-3 mendapat beasiswa TMPD dan lulus tanggal 17 Juni tahun 2000.

Ketertarikan Prof. Prasetyorini pada tanaman obat terus berkembang dan gayung bersambut pada tahun yang sama waktu kelulusan S-3 saya, saya diminta Bapak Prof Dr Rubini Atmawijaya (Alm) waktu itu beliau adalah Rektor Universitas Pakuan untuk membuka Program Studi Farmasi di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, dan akhirnya Program studi Farmasi FMIPA Universitas Pakuan mulai menerima mahasiswa baru tahun 2001, dan saya sebagai Ketua Program Studinya.

“Sejak saat itu, penelitian saya banyak diwarnai dengan bidang-bidang kefarmasian. Ketertarikan saya dimulai saat saya menyadari bahwa keragaman flora Indonesia sebagai negara tropis sangat tinggi sehingga Indonesia disebut sebagai negara megabiodiversitas dan banyak peluang dikembangkan menjadi obat, seperti yang dinyatakan oleh Peneliti Pusat Studi Biofarmaka Tropika, Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Institut Pertanian Bogor tahun 2022 bahwa penelitian terakhir dari pakar IPB University, teridentifikasi 1.845 spesies tanaman herbal Indonesia yang bisa dijadikan obat,” ungkapnya

Rektor Universitas Pakuan pada sambutannya menyampaikan, Universitas Pakuan ini memiliki 12 Profesor, yang sebelumnya ada 10 Profesor dimasa kepengurusan jabatannya sebagai Rektor sejak tahun 2008 hingga 2022.

“Pencapaian ini tidak mudah, untuk mencapai gelar tertinggi guru besar. Saya saja diusia 65 tahun baru mendapatkan gelar profesor. Yang utama didalam guru besar, bukan hanya melakukan penelitian, menulis karya ilmiah dan menulis buku, tetapi pikiran ucapan prilaku, itu didasarkan kepada pembentukan karakteristik diri,” ujar Rektor Unpak.

Lanjut Rektor, Bangsa Indonesia harus melihat keteladanan dari seorang pemimpin yang bisa mempersatukan, bukan hanya learning to know, learning to do, atau learning to be, tetapi yang penting dalam mempersatukan bangsa adalah hidup bersama.

” Ada lima Kur saya tekankan untuk pengembangan ilmu dalam peradaban, yang pertama yaitu akur awak sakujur, mengakurkan antara hati pikiran, ucapan dan tingkah laku, harus istikomah akur dengan diri sendiri.
Kur yang kedua, akur Batur sakasur, antara suami dan isteri, dan tiga akur terakhir yaitu akur batur sadapur, akur batur sasumur, dan akur batur salembur,” tutup Prof. Bibin Rubini. (*)

Berita Daerah & Nasional

Menu
ASPRO Property..

Bangun Rumah, Renovasi Rumah dan Pekerjaan Sipil Lainnya YA ASPRO AJA

Promo Jangan Tampilkan Lagi Ya, Saya Mau !