JAKARTA – Anggota Komisi IX DPR RI Nur Nadlifah mendorong pemerintah untuk mengatasi sindrom baby blues yang sering dialami oleh ibu yang baru melahirkan. Ia menekankan pentingnya mendukung kesejahteraan mental perempuan terutama ibu, yang memerlukan perhatian khusus.
“Sudah bagus ketika program BKKBN kita diimbau untuk melahirkan tidak terlalu dini, tidak terlalu muda melahirkan. Kalau dibilang menikah terlalu dini mungkin karena ada hal-hal tertentu yang mengharuskan menikah, tetapi melahirkan terlalu dini di samping itu punya potensi anaknya kena stunting,” ujarnya dikutip di website dpr.go.id, Selasa (6/9)
Sebagai politisi dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa, Nur Nadlifah juga meminta Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) untuk terus memberikan edukasi kepada masyarakat, khususnya mengenai pernikahan dini.
“Pemerintah perlu turun tangan dan mengatasi masalah ini. BKKBN dan mitra KPPA harus terus memberikan edukasi kepada masyarakat agar tidak menikah terlalu dini, dan undang-undang yang ada harus diterapkan dengan lebih baik,” jelasnya.
Menurutnya, kurangnya perhatian dari lingkungan sekitar dapat menjadi salah satu penyebab sindrom baby blues pada ibu, oleh karena itu, pemerintah harus mengedukasi masyarakat tentang kondisi ini.
“Ibu yang mengalami sindrom baby blues sering merasa terlantar dan tidak mendapatkan perhatian yang cukup. Oleh karena itu, pemerintah harus memberikan lebih banyak informasi tentang sindrom baby blues dalam sosialisasinya,” tambahnya.
Kasus seorang ibu yang hampir bunuh diri di perlintasan kereta api baru-baru ini menjadi viral di media sosial, yang diduga terkait dengan stres pasca melahirkan.
Sindrom baby blues adalah kondisi psikologis yang sering muncul setelah melahirkan dan dapat menyebabkan depresi serta kecemasan pada ibu.
Penelitian menunjukkan bahwa sekitar 50-85 persen ibu mengalami sindrom baby blues, yang biasanya muncul pada hari ke 1-5 setelah melahirkan dan bisa mereda dalam 10 hari. Meskipun sebagian besar ibu pulih tanpa perawatan medis, beberapa memerlukan perhatian khusus seperti penanganan gangguan kecemasan atau depresi perinatal. (*/DR)