Kulangkahkan kaki sambil merongrong ke arah datangnya suara-suara [bisingan] teknologi canggih dan mesin pabrik di mana-mana.
Aku dan kakiku menganga, menikmati indahnya kaum miskin di jadikan alat permainan para elit politikan yang
beradu domba.
Aku dan kakiku pergi melihat situasi kota seperti lembah jurang kematian.
Kulangkahkan kaki yang mulai letih di negeri pertarungan hitam—putih.
Kulangkahkan kaki di atas dilemanya napas terengah-engah:
“oh.. negeriku Indonesia tengah bercanda dengan berduka cita.”
Ku melangkah pada cerita petani dari ladang ke ladang menjadi sorotan publik dan media, seakan tak acuh untuk diperhatikan.
Kulangkahkan kaki pada jenuh yang nikmat:
“oh.. Indonesiaku yang miskin sedang mengadopsi demokrasi berbusana kriminalisasi dan rasialis di mana-mana, serta korupsi yang mengindahkan bumi Pertiwi.”
Aku ingin mati tercekik malu atas tanah kelahiranku.