Untuk tetap bertahan hidup justru kami bahu membahu menolong sesama untuk bisa beratahan dalam kondisi sulit ini. Tidak ada yang tidak merasakan dampaknya, terlebih pada bulan ramadhan seperti sekarang ini. Seolah kita diberikan pelajaran berharga untuk tetap mawas diri, tidak berlebih-lebih. Kita diajarkan untuk lebih dewasa dengan keadaan seperti sekarang ini. Mengingat tahun-tahun sebelumnya, dimana kita merasa sangat serakah dalam menjalani hidup. Meributkan uang yang setiap tahun diberikan lebih berupa (Tunjangan Hari Raya) THR, ditambah gaji pokok sebulan penuh bekerja belum lagi parsel parsel ucapan hari raya berdatangan hilir mudik untuk para petinggi.
Namun kini, jangankan tunjangan mengharap balas jasa pun tak bisa diharapkan karena tidak bergeraknya roda perekonomian. Alih-alih bersedekah dan berhemat, tunjangan tunjangan tersebut justru menjerumuskan kita
pada jurang kesombongan, kita lebih banyak berfoya-foya dibanding dengan menyedekahkan uang tersebut. kita sering kali riya dan sombong dengan datangnya hari raya, memamerkan kekayaan dibndingkan merasa malu karena apa yang kita pamerkan hanya dapat kita miliki semetara.
Kita sering kali memaksanakan apa yang kita mau dibanding dengan apa yang kita butuhkan, dengan rezeki berlebih yang kita miliki. Segala bentuk kemaksiatan yang memudarkan sakralnya perayaan idul
fitri ini lah yang mungkin membuat semesta marah, muak melihat apa yang kita lakukan didunia. Bukankah sesungguhnya kita tahu apa yang disuka dan tidak disukai terhadap kelakuan kita. Namun melakukan kebaikan memang tak semudah melakukan apa yang membuat murka tuhan.
Sebagai makhluk yang fana, apa yang kita sombongkan tidaklah berguna dialam keabadian kelak. Tuhan pasti memiliki alasan atas apa yang ia kehendaki untuk hambanya. Perayaan yang menjadi sumber maksiat
dibuatnya untuk tidak lagi bisa dilakukan. Tuhan memberikan akal dan akhlak kepada hambanya untuk bisa keluar dari cobaa yang ia berikan. PSBB melarang kita untuk mudik dan merayakan hari kemenangan bersama keluarga dikampung halaman, barangkali hal itu merupakan salah satu isyarat dari tuhan untuk kita tidak lagi menjadikan momen silaturahmi bermaafan dengan keluarga yang dinilai sakral menjadi penuh kesombongan dan keriyaan, bahkan kerap kali jadi ajang untuk melukai hati.
Apa pun yang terjadi pasti ada hikmah besar yang bisa kita ambil didalamnya. Kita sebagai makhluk paling sempurna, makhluk berakal dan berakhlak pastilah bisa menggunakan anugrah besar ini untuk tetap berpikir
positif dan merasa bodoh, karena orang yang merasa pintar kerap menjadikan kepintarannya sebagai kesombongan untuk menindas dan sumber egoisitas. Kita sebagai umat muslim yang mengaji juga mengkaji sudah sepatutnya mengembalikan fitrah
dan kesucian momuntum idul fitri. Momentum sakral yang sudah sejak lama kehilangan kesuciannya oleh keriyaan dan kesombongan.
Perayaan idul fitri tentu bukan sebagai ajang memamerkan pakaian baru, gemerlapan perhiasan dan kemewahan kendaraan. Mari sejenak kita renungkan betapa tidak berharganya itu semua dibandingkan momentum saling bertemu merajut silaturahmi menghapus salah dan dendam, merayakan hari kemenangan dengan berbagi. Betapa tidak berharganya kekayaan
jika sang maha kaya tak membiarkan kita saling bertemu bahkan untuk saling bersentuhan menghapus khilaf dan salah. Semoga kita semua lekas sadar dan menyadari apa yang sering menjadi
kemurkaan tuhan hingga ia melarang hambanya untuk saling bertemu dan memjadikan hari raya tahun ini tanpa sebuah perayaan.
(Ary Pratiwi – Aktivis HMI Jakarta)