Sejak dinyatakan sebagai pandemik global, virus covid-19 atau yang lebih sering disebut virus corona memang mendominasi segala lini kehidupan. Ia mampu membuat tatanan suatu negara koyak, prekonomian negara lumpuh. Kemana pun menoleh seolah pemberitaan virus ini yang akan kita
temui, kita dipaksa untuk terus update perkembangan tentang virus ini. Lonjakan jumlah pasien akibat virus ini semakin berkembang pesat.
Hal tersebut berbanding terbalik dengan prekonomian negara yang semakin merosot tajam. Dilansir dari detik hot.com jumlah angka kemiskinan berambah sekitar 12 juta jiwa. Hal ini terjadi tentu saja karena kita dituntut untuk tidak saling bersentuhan, karena salah satu sarana penyebaran virus ini ialah dengan sentuhan, maka dari itu dengan kebijakannya pemerintah mewajibkan kita untuk tidak keluar rumah, kita dituntut untuk tidak bekerja keluar rumah atau yang dikampanyekan dengan WFH (Work From Home).
WFH untuk sebagian orang adalah salah satu cara yang tepat untuk meminimalisir penyebaran virus covid-19, dengan tetap produktif dirumah melalui teknologi yang ada. Namun untuk sebagian lainnya merupakan masalah serius. Mari kita sedikit menoleh kepada mereka yang pekerjaannya menuntut untuk melibatkan kontak fisik. Seperti tukang pangkas rambut, buruh pabrik, ojek online, dan pedagang kaki lima dan masih banyak lagi pekerjaan konvensional lainya yang mati karena pembatasan sosial ini.
Pedagang kaki lima misalnya walau tak dilarang untuk tetap berjualan dengan beberapa persyataran, seperti hanya melayani pembelian take away, pedagang tidak diperkenankan memfasilitasi dagangannya untuk dinikmati ditempat, karena itu dinilai dapat menjadi salah satu rantai penyebaran virus. Bukan hal yang melegakan, mereka menangis dengan kerugian yang didapat karena pemberlakuan PSBB (Pembatasan sosial bersekala besar) oleh pemerintah mewajibkan warganya untuk tetap dirumah.
Pedagang kaki lima harus menelan pil pahit karena sepinya pembeli, alih alih mendapat penghasilan untuk tetap bisa menyambung hidup, dengan tetap berjualan ditengan ganasnya pemberitaan soal virus ini mereka justru harus merugi karena dagangannya yang sepi pembeli. Pedagang kaki lima merupakan salah saru dari ribuan pekerjaan yang menjerit karena dampak pemberlakuan PSBB. Hal ini menjadi bertambah perih mengingat umat muslim diseluruh dunia sedang menjalankan ibadah puasa dibulan suci ramadhan ini.
Dengan kondisi serba suli tanpa adanya pemasukan, kami hanya bisa mengharapkan janji bantuan dari pemerintah, bantuan yang dalam teorinya menjelaskan bahwa orang miskin dan terlantar dipelihara oleh negara. Jika dengan keadaan seperti sekarang ini masih mungkinkan itu akan dilaksanakan, dengan jutaan pertambahan rakyat miskin akibat kehilangan pekerjaan. Bantuan yang didambakan rakyat nyatanya haya omong kosong karena pembagian yang tidak merata dan kelayakan bantuan untuk masyarakat membuat rakyat merasa tidak diperhatikan oleh negara.