Pada kesempatan itu pula, Doni juga menjelaskan bahwa keberadaan ketapang dan jenis pohon lain yang ditanam sangat penting, sebab selain sebagai peneduh, kelak pohon jenis pesisir pantai itu mampu menjadi benteng alami yang dapat mereduksi potensi ancaman bencana gempabumi dan tsunami.
Sebagaimana yang juga pernah dijelaskan sebelumnya, wilayah pesisir barat Sumatera Barat terdapat pertemuan subduksi lempeng Indo-Australia atau tepatnya di bagian selatan Kepulauan Mentawai.
Adapun menurut beberapa pakar dan ahli, apabila kemudian terjadi pelepasan energi, maka hal itu mampu memicu gempabumi dan tsunami yang dapat berdampak bagi kehidupan penduduk di wilayah pesisir.
“Wilayah Sumatera Barat pesisir pantainya itu punya risiko bencana (gempa dan tsunami) yang tinggi. Adanya pertemuan subduksi Indo-Australia di bagian selatan dari Kepulauan Mentawai. Kalau ini bergerak dan lepas energinya, maka dampaknya langsung kepada penduduk yang ada di pesisir, bukan hanya di Kota Padang, tetapi di wilayah barat Pulau Sumatera,” jelasnya.
Menurutnya, dalam memitigasi adanya bencana seperti gempa dan tsunami tidak bisa hanya mengandalkan instrumen infrastruktur buatan manusia saja. Harus diimbangi dengan kombinasi alam.