
Sebetulnya, kata dr Emawati, lab satelit yang tersebar di berbagai daerah memiliki kapasitas pemeriksaan 1.000-2.500 sampel per hari. Namun karena keterbatasan SDM dan kekurangan bahan habis pakai, lab – lab satelit tersebut belum maksimal.
Dia berharap lab – lab satelit memiliki kemampuan periksa yang rata dan sebesar lab induk sehingga tes masif akan jauh lebih cepat, akurat, efektif, dan efisien. “Dan insyaallah akan memutus mata rantai COVID-19,” ucap dr. Emawati.
Menurutnya, antara lab induk dan lab satelit sudah bekerja sama dengan baik: saling berkoordinasi dan melengkapi segala kekurangan. Dr. Emawati menjelaskan laboratorium merupakan salah satu penentu diagnostik yang hasilnya digunakan untuk data dan peningkatan tindak lanjut penanganan di rumah sakit, contact tracing, serta penelitian.
Dari sampel uji usap yang dikumpulkan misalnya, dapat dilanjutkan ke tingkat genome sequencing, yakni memeriksa sampel yang sudah positif dengan rate tertentu dan berasal dari klaster- klaster unik.
“Nantinya kita dapat lihat apakah sampel ini berasal dari Asia, Eropa atau tempat lain. Kita juga bisa lihat strain-nya, apakah dia ganas, sedang, atau ringan. Ini semua berguna untuk penentuan diagnosa terapi, serta penyelidikan dan penentuan kebijakan akan jauh lebih akurat,” kata dr. Emawati.
Sementara itu, menurut Penanggungjawab Laboratorium Balai Laboratorium Kesehatan Provinsi Jawa Barat dr. Ryan B Ristandi, sebelumnya sampel uji usap yang datang ke labkes rata – rata 1.000 sampel per hari. Namun karena ada Pekan Swab Massal, sampel melonjak hingga melebihi 3.000 dan semuanya sudah diselesaikan. “Target pekan ini 25.000 tes, jadi pekan ini memang akan ada peningkatan jumlah pemeriksaan baik di lab induk maupun lab jejaring,” ujarnya.
Menurut dr. Ryan, tenaga pendukung di lab induk ada 70 orang yang bekerja setiap hari dengan sistem sif terdiri dari 20 tenaga administrasi, 30 tenaga ekstraksi, 20 bekerja di bagian PCR. “Di lab induk, 70 orang ini yang dibutuhkan untuk menyelesaikan ribuan sampel ini, belum kita bicarakan yang sedang dikerjakan di lab jejaring,” sebutnya.
Dia menjelaskan, untuk menyelesaikan target 2.500 uji usap pada Pekan Swab Massal, yang dibutuhkan laboratorium adalah kepastian sampel yang datang adalah sampel yang masuk sasaran. “Jangan sampai terlalu random karena kita ingin menyelesaikan target – target untuk segera kita periksa,” kata dr. Ryan.
Selanjutnya yang yang dibutuhkan adalah kualitas pemeriksaan yang terjaga dengan cara jumlah SDM yang dibutuhkan minimal tetap terpenuhi. Kemudian bahan habis pakai dan support dari reagent baik ekstraksi maupun PCR yang selalu tersedia.
“Alhamdulillah kami masih didukung oleh Pemda Prov Jabar untuk bahan habis pakai dan reagent tersebut. Kami tinggal memastikan SDM di tiga proses tersebut terpenuhi untuk dapat menyelesiakan pemeriksaan ini,” pumgkasnya. (*)
Bangun Rumah, Renovasi Rumah dan Pekerjaan Sipil Lainnya YA ASPRO AJA
Jangan Tampilkan Lagi Ya, Saya Mau !