Sehingga masyarakat panik ketakutan dan mengasumsikan yang bersin, pilek dan batuk itu sudah terinveksi virus covid-19 yang dipikiran merekapun ditambah dengan informasi yang serba tak jelas nambah panik lah masyarakat sehingga mengalami shock dalam diri pribadinya. ibnu shina pernah memberikan nasihat bahwasannya “Kepanikan adalah separuh penyakit, ketenangan adalah separuh obat, dan kesabaran adalah permulaan kesembuhan” kita harus paham dengan makna ini.

Bahkan sekarang selain himbauan untuk dirumah saja bukan kita harus diam seperti tidura dan tidak beraktivitas dirumah aja, tetapi ada suatu yang harus jadi kebiasaan masyarakat mungkin semua masyarakat untuk tetap bekerja tetapi dengan model WFH (work form home) produktifitas dirumahnya mungkin dengan catatan hanya orang-orang yang tergolong bisa bekerja menggunakan teknologi pendukung work remote dengan pekerjaannya-pekerjaannya menggunakan leptop atau komputer.

Selain hambatan yang di deseminasi oleh informasi masyarakat terhadap virus covid-19 birokrasipun sangat rumit mengenai penangan diceknya masyarakat sehingga dinyatakan mengidap penyakit virus covid-19, ada salah satu tulisan di twitter dari seorang pasien di ruang isolasi RSD gunung jati cirebon riki rachman permana menceritakan kronologis dari pengisolasian pasien di rumah sakit cukup lama dan birokrasi yang amat tidak sederhana dengan keadaan yang sangat geting.

Saat mengambil specimen covid-19 dari pengalaman kami di cirebon, hasil Swab 1 orang saat ini hanya bisa memakan waktu minimal 7 hari untuk memastikan apakah orang dinyatakan benar positif atau negatif, 7 hari adalah waktu yang cukup lama untuk mengidentifikasi seseorang terinfeksi covid-19. Dalam masa tunggu 7 hari tersebut, pasien dalam kondisi cemas karena menanti kepastian (26/03). Riki dan pasien lainnya belum mengetahui bagaimana hasil Swab terakhir yang di lakukan oleh Dinkes (dinas kesehatan) pada 18 maret 2020, sedah 8 hari kami (pasien) & rumah sakit menunggu hasil Swab tanpa ada kejelasan, khususnya bagi pasien positif, Swab ke 3 yang di lakukan tanggal 14 maret 2020 pun belum di ketahui hasil resminya, belum ada surat diterima oleh pihak RS hingga hari ini (26/03) sudah lebih dari 12 hari.

Baca Juga  Pemuda dan Mahasiswa Bergeraklah Catatkan Sejarah

Setelah hasil Swab keluar dari balitbangkespun, kendala selanjutnya adalah distribusi pengiriman surat resmi yang harus melewati level provinsi kemudian dinas kesehatan kota atau kabupaten setempat dan akhirnya baru mendapat di rumah sakit tempat pasien di rawat. Luar biasa sebuah alur birokrasi yang amat sangat panjang dalam situasi segenting seperti ini apakah tidak bisa di sederhanakan alur birokrasinya.

Mungkin diatas adalah salah satu kronologis penanganan pasien yang terkena virus covid-19, sungguh alur birokrasi yang sangat ruwet pertanyaannya bagaimana kalau pasiennya dengan yang belum tau terjangkit covid-19 mungkin butuh waktu yang cukuo lama untuk menuggu gambarab hasil yang ada diatas dan terkhusunya bagi daerah-daerah luar jawa seperti ternate, ambon, aceh, madura dan lain-lain, ini salah satu PR pemerintah pusat terkhusunya presiden RI untuk merumuskan kerumitan-kerumitan menjadi pola-pola (pattern) yang sederhana.

Baca Juga  Headline Opini | Benang Lama Untuk Kadisdik Kabupaten Bogor

Saya berpesan virus covid-19 ditanah air memang cukup menggemparkan banyak situasi dan kondisi ditanah air dan situasi tersebut berpariasi ragam persoalannya mungkin identik dengan kata unik semenjak virus covid-19 melanda. Kita tidak bisa memprediksi virus covid-19 ini bakalan terjadi di indonesia dan hilangnyapun tidak bisa diakuratkan sampai kapan virus covid-19 ini akan hilang. Tetapi yang paling terpenting mari kita sama jaga prilaku kita sebagai warna negara indonesia untuk tidak terlalu panik dalam menyikapi kejadian virus covid-19, dan paling terpenting kita diuji bukan hanya perindividual tetapi secara kolegial sehingga kita bisa dapat saling memperkuat dan mempererat kesadaran arti rasa saling tolong menolong sebagai sesama mahluk Tuhan dimuka bumi ini para pemangku kepentingan pusat, komunitas, organisasi, stack holder-stack holder untuk saling memberikan empowering bagi sesama.

Bila Yupal Noah Harari di bukunya Homo Sapiens ada kutipan “kekuatan manusia yang terpenting bukan hanya secara individual semata, tetapi kekuatan yang paling sulit kekuatan tersebesar manusia adalah menyatu antar manusia secara kolegial sehingga menumbuhkan rasa kemanusiaan”

Capaian inilah yang diharapkan untuk menyikapi keadaan situasi dan kondisi virus covid-19 sehingga virus covid-19 dapat dihilangkan di tanah air dengan kerjasama dan sama-sama bekerja untuk memahami dan menyikapi kondisi wabah virus covid-19 demi keselamatan kesejahteraan dan keamanan bersama.

M. Lutfi Sopyan

Mahasiswa Universitas Pakuan Bogor