
Merumput Rubrik
Bagaimana adanya saat ini?
Minyak curah bercecer pada tapak kaki, tapak tangan, bahkan tertelan
Terinjak kaki-kaki pembual
Terpeper tangan-tangan kelancungan
Menelan bahkan memuntahkan makanan seharian
Bagaimanakah adanya saat ini?
Ya, tiang pancang terasa roboh
Rumah-rumah terasa pincang
Taman tiada berbunga
Tiada berpohon
Tiada berbuah
Lalu, bagaimanakah cara bercakap?
Hei tuan, hei nyonya
Bisakah kau rendahkan suaramu
Dihadapmu sedang ada Yang Maha Perkasa
Hei diriku dan kalian yang biasa
Bisakah kau turunkan dagumu
Dihadapmu sedang ada Yang Maha Tahu
Kosong, kosong
Sampai kapan kau berdiri pada kemunafikan
Sampai kapan kau mengikat hati tak berpondasi
Sampai kapan kau berjalan tanpa melihat rubrik
Tak usah banyak berkilah lagi
Tak perlu menyilap lidah
Kau harus tahu,
Benahi rumahmu!
Aku bilang urusi pekaranganmu!
Lisanmu tak lagi kelu
Kau kaya akan hidup
PC
Simpul Buana
Dengarlah ini cerita berasal dari bening menjadi busa terdampar di tanah dan lenyap terkena terik yang tak sengaja hadir diantara kerikil debu aspal
Bukan kau salah paham,
Ternyata langit masih gelap, terlalu cepat untuk berdiam di tempat ini menanti risik angin dalam sampul pesonanya,
Mentari masih belum menyapa pagi, senyumnya masih bersembunyi dalam kabut pekat kini.
Namun lihatlah kesenyapan yang begitu indah, diantara kerlip lampu dan senandung AsmaNya
Perlahan menyambut dengan keelokan warna lukisanNya.
Buana yang slalu cantik rupanya, jika aku ingin bercerita pada kau, biarkan aku pejamkan mata saja, biar hati yang bicara tanpa bibirku yang berkata.
Buana yang tak lelah berkelana, jika perubahan tak buatmu tersenyum, dan tak buat orang lain tersenyum, untuk apa kehidupan? tak ingin ku mengukir hujan di garistawa
Buana yang berhati mulia, maafkan diri ini hanya bisa bersujud dalam ridhoNya, mengadahkan tangan dalam simpul doa, lantunan ayat suci yang menjadi bekal panjang di setiap asmaNya
Hai dinding kehangatan ceritakanlah bagaimana aku terlahir
Sepasang bola mata pama
Beribu garis menyungging gingsul
Terasa tanpa tahu rupanya
Terhitung kontrak dariku sampai kerangka batang pohonan
Kau pemilik bangunan kokoh yang kau sebut mutiara sederhana
Tanpa terlihat siapa pemilikNya.
Ketika tak ada lagi rasa hangat
Pasti guncangan sedang menghampiri
Dan kau sebut itu kiamat
Dari terang sampai gelap dan tak kelihatan
Tapi kau sadar setidaknya kau pernah ngontrak, dan kau punya bangunan
Matahari, bulan, dan bintang adalah kita
Dan sentralnya buana
Puisi Perempuan
Pertemuan berawal untuk pengentasan kemiskinan
Yang genggaman mengungkap aspirasi untuk merumput rubrik
Tak ada praduga tuk dipertemukan kembali dalam hutan raya milik kota Bogor
Dengan karung goni deklarasi, Kamu ini bagaimana dan aku harus bagaimana
Bersama empat manusia purba
Tak berakhir di ujung hentakan tongkat bambu
Maka ketika jurnalistik di bungkam, sastra akan berbicara
Ketika problema perempuan hadir dalam warta, empat manusia purba ada dan
Kau ku kenang
Bukan perkara lagi jika keributan antara dialog wayang dan sinden dalam pewayangan yang berteriak
Cermin, AkuTak Berdosa, Cermin, AkuTak Berdosa
Dan yang terjadi
Bumi gonjang ganjing rantaian karya perantara perempuan berpuisi
Aksi peduli Aceh
Haturkan syukur pada partisipan yang berjalan berkilometer dalam aksi
Tak luput atas kuasaNya atas karuniaNya Yang Pengasih
Semilir angin mengirimkan hembusan nafas pada Riung Sastra bersama delapan Maria Zaitun
Satu pengantin, tujuh masa lalu, dan satu penggerak
Maria Zaitun namanya
Melahirkan para pewajah dalam merahimi bumi
Yang dirindukan oleh Simpul Buana
Bukan kau salah paham
Maka alunan sexsophon bercerita
Ada Sungai bening, pasir putih
Lingkungan suara perempuan
Sampai kepada wajah kita
Biodata Singkat Penulis
Puji cahyati lahir di Bekasi, Jawa Barat, 21 Februari 1995. Mahasiswa Program studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP, Universitas Pakuan Bogor, Indonesia. Anggota komunitas Perempuan Puisi Bogor. Hobi menulis puisi. Sedang proses pembuatan buku Antologi Puisi bersama Perempuan Pusi. Beberapa karya yang di muat dalam buku Antologi Puisi Nusantara Serumpun Sejiwa Kuala Lumpur Merumput Rubrik, Simpul Buana, dan Puisi Perempuan. Pernah mengikuti lomba baca Puisi di berbagai acara sastra di kampus dan luar kampus.
Bangun Rumah, Renovasi Rumah dan Pekerjaan Sipil Lainnya YA ASPRO AJA
Jangan Tampilkan Lagi Ya, Saya Mau !