Bulan masih terang—keadaan tenang, tak ada yang mengeroncongkan isi kepala. Para hadirin, tua dan muda, laki dan perempuan, gadis dan perjaka, perhatikan dan maknailah setiap bait-bait kalimat tulisan ini.

Nasehat dari seorang berlidah pedang, berludah api—hidup pada abad ke-XVI—suaranya melayang, mengambang dibawah sinar bulan indah.

Di undang sebagai pembicara. Seorang tua bertubuh pendek-kecil, berkalung kain, berjubah putih, berjenggot dan bermisai putih, seperti kepala Anoman dalam hikayat ramayana.

Dia dipanggil—Rama Guru—oleh para hadirin. Sebagai pembicara di negeri yang rakyatnya tanpa cipta, rakyat bebal dan rakyat para raja-raja kecil, di negeri yang tak berharga diri.

***

Orang tua itu—membusungkan dada, menarik nafas panjang untuk menghimpun kekuatan, terlihat sombong, di lain sisi terlihat bijaksana. Sebagian dari hadirin sudah terlihat tak menyukainya dan sebagian lagi terpesona kagum—begitulah takdir seorang Inlander Tua—pemberontak dijaman kemerosotan, jaman kegilaan. Tak semua membenci. Tak pula semua menyukai.

“Huuuh! Aku berada ditengah-tengah manusia bebal, di tengah-tengah manusia tak punya cipta, manusia sempit pikir. Rakyat yang hidupnya di kuasai raja-raja kecil”. suasana diam, terkejut dan mencoba untuk memahami maksut orang tua itu.

“nenek-moyang kalian tidak sebebal seperti kalian ini”, ucapnya kembali dengan kejam.

Ia, menurunkan nada suaranya dengan lembut. Berkata, bumi ini diberikan kepada manusia dalam keadaan sebaik-baiknya. Tak ada seorang pun menghinakan keadaanya, karena manusia diciptakan dalam keadaan sempurna.

lupakah kalian pada ajaran, hewan tak akan mengubah apalagi alamnya. Tetapi manusia tampa cipta merosot, melata, merangkak, sampai jadi hewan yang tak mengubah sesuatu pun. Untuk punya ekor pun manusia demikian tidak berdaya.

Bibirnya tersungging, seolah-olah meremehkan. Lalu ia diam.

Dengan lidah pedangnya kembali ia tunjuk para hadirin dengan nada sedikit berang; “kalian yang hidup di zaman gila—yang tak mau disebut gila. Orang bijaksana mengatakan: manusia bijaksana lahir dari pemikiran-pemikiran besar, sehingga meciptakan pradaban besar pula. Bukan lahir dari pemikiran kecil, sempit, kolot, dan iri-dengki”.

Dalam bayangan bulan purnama indah itu, tak jelas siapa dia—dia berambut panjang, menggenggam tangan, mata melotot—lalu berteriak menghina; “dasar orang tua pengembara gila, kau rendahkan kami. Kau hina kami dengan sesuka lidahmu. Apa gunanya ajaranmu itu, bagi kami ajaran seperti itu hanyalah cerita usang yang akan membuat kami lapar, yang tak dapat menghasilkan uang, dan kami tak dapat membayar upeti. seperti hidupmu yang tak punya apa-apa, gubuk saja kau tak punya. Hanya mengembara dan mengemis”.

Seorang hadirin lainnya mencoba mendekati orang berambut panjang marah itu, berbisik. Mencoba meredam amarahnya; katanya “sudahlah kita dengarkan saja dulu apa mau orang tua itu, nanti dia merasa benar terhadap ucapannya kalau kita itu benar manusia bebal”.

Suasana diam, bulan makin terang, dingin sudah datang—suasana masih terasa hangat, karna perdebatan.

Rama Guru, diam tak bergerak tubuhnya—ia menghargai setiap perbuatan dan kata-kata yang di ucapkan para hadirin. Karna ia ingin perdebatan itu, agar ia lebih bisa untuk mengajarkan tentang manusia dan kebijaksanaannya sebagai makhluk tertinggi.

Cahaya bulan bersinar—wajah Rama Guru pun begitu, oleh senyum yang ia pancarkan setelah terjadinya protes datang kepada dirinya. Dengan nada kelembutan sperti embun yang terasa di malam itu, ia mengatakan; “mungkin jika kalian ingat, dan jikalau pernah, di waktu kalian sekolah dulu—”Guru-guru kalian tidak akan lupa menyampaikan: yang buruk datang pada manusia yang salah dan bebal dalam menggunakan nalar, sehingga nalar yang buruk memanggil keburukan untuk dirinya. Semua kalian melewatkan masa kanak-kanak dan remaja di bawah petunjuk dan ajaran sang guru. Padaku ada wewenang mengatakan kalian salah dan bebal”.

“Masih adakah di antara kalian yang hatinya merasa tersakiti oleh kata-kataku?”, silahkan protes kembali. Pinta Rama Guru.

Mereka diam. Hanya ingin mendengarkan lanjutan ajaran orang tua pendek-kecil itu.

Orang tua pengembara itu melanjutkan pembicaraannya—baiklah, jikalau ada rasa sakit hati di dalam hati saudara-saudara hadirin malam ini, maka “berbahagialah yang bisa bersakit hati, petanda masih ada hati, dan ada cinta di dalamnya. Tapi macam cinta apa kalian kandung dalam hati? Cinta pada kebebalan adalah juga kebebalan”.

***

Bulan masih terlihat terang, sedikit berpindah tempat. Masih dalam keadaan bersinar. Dalam selintas bayang-bayang hadirin terlihat, ada yang menutup mata sambil mengangguk-angguk, ada yang gelisah sambil melihat kiri-kanan mencari teman untuk berbisik halus, ada juga yang terlihat mengepulkan asap rokok—sambil berpikir merenungkan kata-kata orang tua congkak itu.

Di kejauhan. Terlihat dua cahaya obor menyuluhkan jalan kiri-kana. Dan terlihat pula ada seekor kuda yang ditunggangi oleh seorang lelaki berbadan besar-gempal datang menuju keramaian di bawah sinar bulan itu, tempat Rama Guru dan para hadirin berkumpul. mereka keamanan negeri utusan raja. perampok upeti. Datang untuk mendengarkan perkataan-perkataan dan memastikan apakah ada penghasutan atau tidak? Mereka tidak bergabung dengan hadirin yang lainnya. Hanya diam di belakang. Sambil memperhatikan sekitar.

Baca Juga  Catatan Rubayyi' Aktivis dan Pengamat Pergerakan Mahasiswa

Orang tua bijak itu tak mempedulikan, begitu juga yang lainnya.

Dengan semangat, orang tua bersorban itu masih berbicara sambil mengunyah hidangan panitia, berkata: Itu lah masalah kalian di negeri ini. Cinta kepada kebebalan. Akibat ego setiap raja-raja kecil kalian yang merampok upeti dari keringat kalian sendiri.

“Demi upeti. Kalian hinakan negeri ini. Tak punya harga diri, siapa di antara anak-anak muda ini merajai negeri ini—seperti nenek-moyang kalian dahulu? Menyaksikan dunia besar? Berbuat, bertindak, dan memikirkan masa depan? Di hormati dan disegani dimana-mana? Tak pernahkah orang tua dan guru-guru kalian disekolah menceritakan kebesaran mereka?”.

jika kalian belum dapat pengetahuan masa lalu, dari orang tua kalian, dari guru-guru disekolah kalian dan tidak ada penggalian dari diri kalian sendiri—saya akan ceritakan: “mereka. Nenek-moyang kalian itu, berpergian dengan harapan dan keberanian, tetapi alangkah bijaksananya mereka berpergian dengan ilmu dan pengetahuan”.

mereka tidak demi upeti, tidak demi harta, tahta. Mereka demi kemerdekaan, kebijaksanaan dan keluhuran hidup. Demi wujudkan cita-cita, angan-angan, dan mimpi-mimpi tentang suatu jenis kehidupan yang punya harga diri di mata negeri lainnya di muka bumi ini.

mereka adalah orang-orang yang berpikiran besar, mencipta, tidak bebal dan tidak merampok upeti jerih keringat bangsanya sendiri.

puaahhhh….orang tua itu meludah. Kalian ke asikan memdengarkan heroiknya masa lalu. Kalian kesenangan mendengarkan cerita nenek-moyang kalian ini?

Mereka sebagai orang besar hadir dalam batin yang gelisah, hidup yang tak senikmat hidup kalian saat ini.

Mereka di asingkan, di telantarkan dan disiksa, karena mereka hadir sebagai generasi boemipoetra yang tercerahkan. Ilmu yang mereka miliki mereka pergunakan untuk cahaya penerang jalan pradaban negeri ini.

Puahhhh. Inilah negeri yang kalian nikmati. Hasil dari perjuangan nenek-moyang kalian, yang menjadi Inlander, wong cilik, rakyat jelata—ditakuti, di anggap hantu, memiliki obsesi yang menakutkan bagi penjahat yang datang merampok ke negeri ini.

Tidak ada yang lebih menakutkan kekuasaan olanda—penjahat perampok negeri ini—dari pada Suryadiningirat—Ki Hajardewantara: yang menulis pamflet kecil perlawanan; begitu pula perjuangan Soekarno, Moh. Hatta, Sjahrir, Agus Salim, Tan Malaka, Mas Marco,—bermodalkan lidah pedang, berludah api, dan secercah tinta pena.

Di pradaban setelahnya—lahir lagi nenek-moyang kalian yang tidak kalah hebatnya dari yang sebelumnya. Mereka ditakuti kekuasaan otokritik-Orde Baru; Pramodya Ananta Toer yang kreatif, bertahan hidup dalam kesunyian di pengasingan, dan Wiji Thukul yang miskin dan bertubuh kurus-kering yang seumur hidup bernaung di bawah atap rumah petak disudut gelap kota, melawan bermodalkan sajak.

Itu lah mereka nenek-moyang kalian, yang kalian lupakan. Buah tangan dan buah pemikirannya kalian hinakan dan kalian lupakan dalam pradaban kebudayaan negeri ini.

***

“Ha. Mengantuk kalian terayun oleh keenakan-keenakan masa lalu. Kalian, orang-orang yang telah kehilangan harga diri dan tak punya cipta. Segala keenakan dan kebanggaan itu bukan hak kalian”. Rama Guru menghembuskan nafas sambil memegang janggutnya.

Di samping kanan, di antara para hadirin, seorang perawan kekasih para dewa, secantik bulan malam itu, selembut enbun yang merangkak turun—mengacungkan tangan. Berkata kepada Rama Guru dan Para hadirin.

“Rama—seorang Guru yang bijaksana, apakah Rama tidak takut di adili oleh para petinggi kami dan pasukan berseragamnya, karna telah mengata-ngatai negeri ini tak punya cipta, harga diri dan upeti yang di rampok petinggi kami? Kami takut, jika kami di anggap terpengaruh oleh kata-kata Rama Guru. Matilah kita jika kita di adili oleh tuan pembesar pemegang tahta dan pasukan.

Sambil memperbaiki sorban putih di kepalanya—Rama Guru, tersenyum dan membentangkan telapak tangan petanda kesopanan. Berkata: “para hadirin, dengarkan. Tak ada yang aku takuti untuk berkata kebenaran. Kalian tau itu kenapa? Dalam hidup ini hanya ada dua jenis bentuk manusia yang menolak kebenaran:

Janis pertama—mereka menolak karna mereka awam, tidak mengetahui apa yang diketahui oleh orang bijak yang sudah belajar melanglang buana ke penjuru negeri yang asing.

Janis kedua—mereka menolak dan mengadili karna mereka Ego didalam dirinya, tidak mengakui kebenaran yang di ucapkan walau dia tau bahwa apa yang di ucapkan oleh orang lain itu benar. Kenapa mereka ego? karna mereka takut tidak mendapatkan upeti dari kalian yang bebal ini, jika ia mengakui apa yang saya katakan itu benar, maka dia tidak akan mendapatkan upeti dan tidak akan menjadi raja-raja kecil kalian lagi.

Baca Juga  Menentang Nurani (Q.S. Al-'Araaf-80) |Headline Bogor

Anak perawan kekasih dewa. Kau ingat kataku ini sebagai simpanan untuk hari tuamu di kemudian hari—”jika kebenaran di adili, itu bukan pertama kalinya terjadi, sejarah manusia selalu mengadili kebenaran. Sebab ada kebohongan yang ditutupi”.

Tapi ingat wahai perempuan kekasih dewa, dan kalian semua yang hadir dimalam bulan purnama ini, mendengarkan orang tua yang sudah batuk ini, hidup di ujung umur, seperti bulan yang sudah ingin mengakhiri malam: “kebenaran tak dapat di adili, karna dialah pengadilan tertinggi. Kalian tau kenapa? Barang siapa mengadili kebenaran, dia akan dilupakan orang kecuali kedunguannya dan kebebalannya. Ketakutan selalu menjadi bagian mereka yang mengingkari kebenaran maka melanggar keadilan, dua-duanya busuk, dua-duanya sumber ke onaran di atas bumi ini”. Itu lah mengapa aku tidak takut mengatakan ini kepada kalian.

Malam berkabut, embun turun. Suasana tegang sekaligus berubah menjadi ketakutan.

Inlander Tua itu batuk, melihat para hadirin. Berkata lebih menyeramkan seluruh penduduk negeri.

Dengarkan kalian semua—Raja-raja kecil dan pasukan berseragam perampok upeti—yang hidup dari keringat orang lain, yang hidup dari merampok upeti. Kalian sama sekali tak bisa berbuat apa-apa kalau kehancuran datang, mengayomi diri sendiri pun tak bisa, apalagi mengayomi rakyatmu, di waktu ramai kalian bersorak-sorai tentang pengayoman demi merampok upeti.

Jangan takut, akan datang masanya kalian lebih ketakutan wahai penduduk negeri yang tak punya harga diri, bebal dan dikuasai raja-raja kecil. Bukan karna kata-kataku, mari aku ceritai: kemerosotan jaman—jaman gila dihuni penduduk berwatak bebal: inilah jaman raja-raja kecil bermunculan, berdiri sendiri, tampa mengayomi, kekacaun silih berganti datang memburu. Kalian takkan di tumpas oleh kata-kataku yang sudah tua ini. Kemerosotan jaman dan kemerosotan kalian sendiri yang akan menumpas kalian selama kalian tak mampu menahan kemerosotan ini.

Orang tua bijak itu diam. Matanya menantang. Selintas ia melihat bulan yang sudah menepi ke ufuk barat. Selintas pula ia menatap dengan mata kesedihan melihat kemerosotan jaman—jaman penuh kegilaan. Ia lihat seluruh para hadirin berpesan: “sebelum lebih besar datangnya kekacauan, pahami pergantian jaman, biar lelaki tak mati dimedan kehinanaan hidup, perempuan tak dijarah, dan kanak-kanak tak terlantar oleh kebodohan. tinggalkan kebebalan. Dengarkan kebijaksanaan. Kalau kekacauan sudah berdendang, tak ada satupun yang dapat diharapkan mengayomi, ingat kata-kataku: kalau kemerosotan ini tak dapat dicegah, tak akan lama lagi kekacauan akan mendatangi kalian dimana-mana, mati untuk raja-raja kecil yang tak pernah berbuat apa-apa untuk kalian.

malam hampir berakhir, bulan terang sudah menipis, cahaya tak menggoda batin lagi. Dingin pun sudah merubah suasana menjadi hening dan penuh takut.

seorang diri pasukan pengaman negeri yang di utus raja penguasa negeri turun dari kuda, yang memegang obor diam ditempat menjaga kuda yang meraung.

Lelaki pengaman itu melintasi para hadirin, hadirin membuka jalan, Rama Guru diam tersenyum sebab ia sudah merasakan akan terjadi hal yang tidak baik untuk dirinya: Inlander Tua—kata lelaki bertubuh gempal itu: “kau rasuki pikiran rakyat negeri ini dengan ocehan kebijaksanaanmu yang tak ada makna bagi hidup mereka. Kau Inlander pemberontak negeri—atas perintah kau kami tahan dan kami hukum mati di hadapan raja yang telah kau hina”.

Ditengah keributan itu. Seorang diri perempuan perawan kekasih para dewa menghampiri Rama Guru—Rama Kau memang pemberontak, itu bagi yang tak menyukaimu berbicara mengenai hal-hal luhur dalam hidup, tapi bagi kami, penduduk negeri ini kau adalah seorang pembicara menggaungkan kebenaran dan kau bagi kami cahaya bulan dimalam ini. Itulah gunanya ilmu menjadikan kehidupan negeri menjadi cahaya dan kesejukan.

Rama Guru di bawa dan untuk di adili tepat diwaktu Bulan mengakhiri malam, dengan bijaksana ia berkata: kedunguan telah terbukti—jaman inilah kegilaan penguasa negeri, aku telah di ingatkan sejauh usiaku melanglang buana menjadi musyafir ilmu pengetahuan bahwa konsekuensi dari seorang penyuara kebenaran adalah dihina, di cemoohkan, di asingkan, di adili tapi diam-diam akan di ikuti. semua diam, dan Rama Guru diseret dengan kuda menuju raja untuk di adili.

(Wahyu Hidayat Lubis – Aktivis Himpunan Mahasiswa Islam Dan Mahasiswa Univ. Pakuan Kota Bogor)