KOTA BOGOR – Pelantikan Rudi Mashudi sebagai Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bogor yang baru memicu gelombang harapan sekaligus perhatian besar dari berbagai elemen masyarakat. Langkah rotasi kepemimpinan ini dinilai bukan sekadar penyegaran birokrasi biasa, melainkan sebuah pertaruhan besar dalam menjaga keberlanjutan ekologi di Kota Hujan.
Mengingat rekam jejak mentereng dan standar tinggi yang ditinggalkan oleh pejabat kepala dinas sebelumnya, posisi ini kini dipandang sebagai “kursi panas” yang menuntut akselerasi cepat tanpa ada ruang untuk masa orientasi yang bertele-tele.
Aktivis lingkungan yang juga menjabat sebagai Ketua Himpunan Petani Peternak Milenial Indonesia (HPPMI) sekaligus Wakil Ketua KNPI Kota Bogor Bidang Lingkungan Hidup, Sion Toni Samosir, menegaskan bahwa tanggung jawab yang kini berada di pundak Rudi Mashudi memiliki tingkat kompleksitas yang sangat tinggi.
Menurut Toni, mengimbangi atau bahkan melampaui capaian dari kepengurusan dinas sebelumnya adalah rapor pertama yang akan dinilai oleh publik.
“Kita harus objektif melihat bahwa ini adalah beban yang sama sekali tidak ringan. Publik Kota Bogor selama beberapa tahun terakhir sudah terbiasa disuguhkan dengan capaian-capaian yang progresif di sektor lingkungan hidup, mulai dari penataan adipura, reduksi sampah, hingga respons cepat terhadap isu polusi. Pak Rudi Mashudi tidak punya waktu untuk bersantai; beliau harus langsung tancap gas sejak hari pertama demi menjaga ritme positif yang sudah terbangun ini agar tidak kendor,” ujar Sion Toni Samosir saat memberikan pandangannya, Selasa (30/6).
Meskipun menyodorkan catatan kritis mengenai beratnya tantangan dinas, Toni mengaku tetap menaruh rasa optimis yang besar terhadap kapabilitas personal Rudi Mashudi. Ia menilai keputusan Wali Kota Bogor dalam menunjuk Rudi bukanlah sebuah kebijakan yang diambil secara instan, melainkan sebuah langkah taktis-strategis yang didasarkan pada kalkulasi matang mengenai kebutuhan riil Kota Bogor saat ini.