
Novel berjudul Sang Pembelajar ini merupakan bagian dari serangkaian novel yang berjudul Sarjana Di Terpian Baskom dengan pengarang yang sama yaitu Wildan F. Mubarock. Novel ini merupakan rangkaian yang ke-2. Secara umum novel ini menceritakan kehidupan Tegar dan keluarganya. Dalam novel ini Tegar telah menemukan bakatnya yaitu menulis, dengan bantuan Wildan. Tegar dan Wildan adalah teman sebangku ketika Tegar memasuki kelas barunya yaitu kelas 3 IPS 2. Pertemuan mereka terjadi karena Tegar yang mencari tempat duduk, tetapi tempat duduk sudah penuh semua dan Tegar pun terpaksa duduk di salah satu bangku yang masih kosong dengan meja yang ditempati oleh Wildan.
Tanpa Tegar sadari, pertemuannya dengan Wildan menjadikan dirinya sebagai seseorang yang mempunyai tekad dan nekad. Wildan adalah seorang siswa yang mempunyai bakat menulis cerpen. Selain itu juga, Wildan mengikuti ekskul jurnalistik yang dikenal dengan nama MASA (Majalah Sekolah Anda) di sekolahnya. Setelah lama mereka berteman, cerpen karya Wildan terpampang di koran kompas. Karena itulah, Tegar merasa sangat beruntung memiliki teman seperti Wildan. Tegar yang selalu memuji-muji novel karya Wildan itu mulai mencoba membuat sebuah cerpen dan dia selalu bertanya pendapat Wildan tentang cerpennya.
Suatu ketika, Tegar yang asik membawa koran yang bertuliskan novel karya temannya itu datang ke sekolah dengan hati senang. Tetapi, pada hari itu temannya Wildan tidak masuk sekolah begitupun hari berikutnya. Tegar mendapatkan surat dari teman baiknya itu melalui wali kelasnya. Ternyata bapaknya Wildan meninggal dan Wildan tidak melanjutkan sekolahnya. Tegar merasa sedih karena teman baiknya yang membuat dia nyaman sudah tidak di meja yang sama. Tegar yang telah belajar membuat cerpen itu akhirnya memutuskan untuk mengikuti ekskul MASA, yaitu ekskul yang sama ketika Wildan masih sekolah. Selain itu, Tegar juga dititipkan seorang perempuan yang bernama Sheila. Sheila adalah ketua dari ekskul MASA dan dia adalah pujaan hati Wildan.
Tegar mengalami kesulitan untuk bergabung ke ekskul MASA karena Sheila merupakan seseorang yang tegas dan tidak terlalu suka dengan orang yang tidak memiliki bakat. Tegar yang merasa dirinya mampu akhirnya membuat suatu cerpen untuk dibuktikan kepada Sheila bahwa dirinya sangat layak untuk gabung ke ekskul MASA. Tegar dengan percaya diri memberikan cerpen buatannya kepada Sheila, akhirnya Sheila pun menerima Tegar karena Tegar memiliki sifat yang hampir sama dengan teman sebangkunya dulu. Cerpen “Segumpal Daging” karya Tegar yang dibuatnya sampai dia menahan kantuk itu ternyata akan dimuat di koran kompas. Tegar yang sangat senang itu langsung mengajak Sheila untuk mengantarnya ke sebuah mall. Tegar ingin membelikan dua buah baju koko untuk bapak dan adiknya. Selain itu, Tegar juga ingin mentraktir Sheila.
Setelah pulang dari mall tersebut, Tegar bergegas pulang ke rumahnya dengan raut wajah yang bahagia. Tetapi raut wajah bahagia itu tidak begitu lama berubah menjadi raut wajah yang sedih. Bapaknya Tegar meninggal bertepatan dengan kabar bahagia dan baju koko yang akan diberikan kepada seluruh keluargnya itu.
Dalam novel ini, ketika kita melihat dari segi psikologi sastra, tokoh Tegar adalah seseorang yang pemberani. Hal ini dibuktikan pada kata-katanya: “Kalo kau takut, ya sudah aku duluan. Kita mesti berani atas nama kebenaran. Kau mau seperti beberapa oknum partai yang membenamkan kebenaran demi kepentingan partai semata. Bukannya kau pernah bilang, kemerdekaan bangsa kita pun bukan hanya karena tulisan tapi juga karena peperangan.” (Halaman 57)
Selain itu, Tegar juga adalah seorang yang mempunyai ambisi dan pantang menyerah: “Untuk pertimbangan MASA karena udah nolak gue tempo hari. Baca sajalah, please! Kalo bagus, aku gabung yah di MASA.” (Halaman 103)
Wildan adalah seorang yang memiliki cita-cita menjadi novelis terkenal, ini dibuktikan pada kata-katanya: “Gue sih gak peduli. Mau SMA, SMU, atau SLTA yang penting gue punya ijazah. Terus jadi novelis terus dapat penghargaan nobel.” (Halaman 49)
Wildan juga memiliki keberanian dan kemampuan dalam hal berkelahi: “Tegar oh Tegar, kau cuma punya keberanian tanpa punya kekuatan. Tiga-tiganya aku yang hajar, kan.”. (Halaman 60)
Sheila adalah seseorang yang mempunuya watak yang jutek dan tegas. Hal ini dibuktikan pada kata-kata: “Camkan baik-baik, Gar. MASA bukan tempat untuk belajar menulis sama seperti MASA bukan kantor tempat belajar menjadi koruptor.” (Halaman 89)
Bapak adalah seorang ayah yang bijaksana, selalu memberikan contoh yang baik dan selalu menasihati anaknya. Hal ini dibuktikan pada kata-katanya: “Ya kalo Ade pinter. Ade gak mungkin terhasut dan membiarkan posisi terbaik direbut orang. Mana ada orang pinter kalah sama hasutan orang lain. Tidak ada ceritanya, De. Orang pinter adalah mereka yang teguh dengan pendirian dan keyakinannya.” (Halaman 24)
Menurut saya, novel ini sangat bagus untuk dijadikan bahan ajar tentang penulisan novel yang baik dan benar. Pada novel ini, pembaca diajak untuk memasuki cerita lebih dalam sehingga pembaca bisa merasakan apa yang dirasakan oleh tokoh utama di dalam novel ini. Novel ini akan sangat mudah dipahami karena novel ini memakai bahasa yang tidak terlalu sulit dimengerti. Novel ini pun akan menjadi motivasi bagi para siswa di SMA untuk menulis. Siswa akan di motivasi dengan cerpen-cerpen yang ada pada novel ini. Novel ini dapat mengajarkan para siswa, bagaimana sistematika novel yang baik dan benar. Novel ini juga tentunya sangat bermanfaat bagi siswa. Selain memotivasi agar siswa dapat menulis, novel ini bermanfaat agar siswa bisa lebih mensyukuri hidup mereka saat ini. Siswa diajak untuk tidak menyianyiakan waktu, sebab sebuah karya tidak dilihat dari jenjang pendidikan atau umur si penulis.
Bangun Rumah, Renovasi Rumah dan Pekerjaan Sipil Lainnya YA ASPRO AJA
Jangan Tampilkan Lagi Ya, Saya Mau !