
Menurut Mulyanto, jauh-jauh hari Habibie sudah mengibarkan upaya membangun keunggulan bersaing (competitive advantage) bangsa ini di samping terus mendayagunakan keunggulan SDA yang ada (comparative advantage). Dari pada terlena pada kelimpahan SDA yang suatu saat akan habis dan kita terperangkap pada ‘kutukan SDA’. Habibie meletakkan dasar bagi ekonomi berbasis Iptek (knowledge based economy). Tujuannya agar Indonesia menjadi negara yang digerakkan oleh inovasi (Innovation Driven Country).
Dulu, lanjut Politisi dapil Banten III ini, mungkin banyak yang sinis dengan Habibienomic ini. Namun sekarang World Economic Forum (WEF), dalam laporan tahunannya (Global Competitive Report) secara regular justru memantau daya saing atau keunggulan masing-masing Negara (entitas ekonomi) berdasarkan peringkat kemampuan inovasi mereka.
Ia menilai Habibie mulai melalui pendekatan negara, memperkuat kelembagaan Iptek Negara sebagai fasilitator dan dinamisator pembangunan iptek, pertahanan dan ekonomi nasional, termasuk dengan dibangunnya Puspiptek di kawasan Serpong dan Cibinong, Bogor.
“Saat Indonesia jatuh krisis dan kita memanggil IMF serta menandatangani LoI (letter of intent), yang menjadi sasaran tembak pertama kali adalah program-program kedaulatan teknologi bangsa ini termasuk PT. IPTN (Industri pesawat terbang Nusantara). Hari ini, pemandangan yang nampak adalah SDM dan peralatan teknologi yang makin menua serta kelembagaan Iptek yang satu demi satu berguguran. Ini semua harus menjadi bahan renungan kita bersama dalam rangka membangun bangsa yang berdaulat, bangsa inovasi (innovation nation) ke depan,” pungkasnya.
Sumber : DPR RI
Bangun Rumah, Renovasi Rumah dan Pekerjaan Sipil Lainnya YA ASPRO AJA
Jangan Tampilkan Lagi Ya, Saya Mau !