Rezim represif, Aparat Anarkis
(Mahasiswa dipukul habis)
Assalaamu’alaykum warahmatullaahi wabarakaatuh…
Hidup Mahasiswa!
Hidup Kebangkitan Mahasiswa!
Hidup Kebangkitan Rakyat Indonesia!
Kezhaliman terjadi pada semua elemen rakyat, ulama, aktivis mahasiswa, aktivis dakwah, dan organisasi Islam yang dilakukan oleh peguasa terhadap rakyat jelata.
Di saat mahasiswa bungkam, rezim tenang sebab tidak ada pemberontakan. Di saat mahasiswa bangkit dan berbicara dengan lantang, inilah saatnya rezim dan apratnya menghancurkan. Seperti halnya yang dilakukan oleh oknum aparat pada aktivis mahasiswa Universitas Pakuan (Unpak). Saat itu, sekitar lima hari lalu sebagian dari aktivis kelembagaan Unpak melakukan aksi di tengah-tengah kota hujan, tugu kujang Bogor. Dan saat itu pula, oknum aparat melakukan kriminalisasi terhadap aktivis mahasiswa Unpak, memukul mereka dengan tangan-tanganya sendiri, mencaci dan memarahi mereka dengan mulut-mulut kotornya. Lantas, apa yang dilakukan aktivis mahasiswa Unpak terhadap mereka? Tidak ada, selain bertahan dalam mencurahkan aspirasi mereka sebagai bagian dari rakyat Indonesia.
Aktivis mahasiswa unpak bukanlah yang pertama menjadi korban anarkis oknum aparat. Mereka menjadi salah satu cerita yang masuk dalam lembaran sejarah kepemimpinan rezim sekarang menyusul Hikma Sanggala Mahasiswa dari UIN Kendari yang di Drop Out dikarenakan berposisi sebagai aktivis dan lantang menyuarakan kebenaran. Dan hari ini, aparat dengan mudahnya menggantikan air keringat para aktivis mahasiswa di Senayan, Jakarta yang menetes satu demi satu dengan siraman gas air mata yang menyakitkan hati-hati mereka dan membangkitkan amarah-amarah mereka.
Kejadian tersebut menjadi salah satu alasan mengapa mahasiswa harus bergerak melawan kezhaliman terlepas apa yang akan terjadi terhadap mahasiswa nanti sebab yang terpenting bagi mereka adalah mengembalikan idealisme pemuda sebagai pengayom bagi rakyat dan alarm bagi penguasa ketika melakukan penindasan terhadap rakyat.
Seharusnya, gertakan mahasiswa mendorong rezim sekarang untuk menyadari atas apa yang dilakukannya terhadap rakyat. Akan tetapi fakta tidaklah berbicara demikian justru fakta mengatakan bahwa rakyat semakin bertahan dalam kondisi tertindas. Akhirnya menjadi pertanyaan, apakah rezim saat ini sadar bahwa akibat harhutla yang terjadi di wilayah Riau, Kalimantan, Pontianak, dan Sulawesi yang menimbulkan asap dan menjadikan lingkungan mereka dalam keadaan darurat? Apakah rezim sadar, bahwa revisi dan rencana pengesahan beberapa rancangan UU (KUHP, UU KPK, UU-PKS, dll) akan berdampak pada kondisi Indonesia yang semakin darurat? Pasalnya, perancangan UU ini akan berakibat pada rusaknya pertahanan keamanan Indonesia dan rusaknya generasi Negeri ini. (baca dampak dari pengesahan UU)
Sangat disayangkan, apa yang terjadi tidaklah sesuai dengan ekspektasi aktivis mahasiswa. Rezim beserta aparatnya melakukan berbagai macam cara untuk membungkam aspirasi rakyat dan agar pemerintah tidak rugi dalam membenahi masalah di Negeri ini di tengah kondisi hutang Indonesia yang semakin menggunung.
Terlepas dari apapun yang terjadi, sebagai mahasiswa tetaplah bertahan pada idealisme dan bertahan dengan Iman dan Taqwa. Sejatinya, idealisme adalah kemewahan terakhir bagi pemuda (mahasiswa) -Tan Malaka- dan keberadaannya nampak pada kecintaannya pada Ilmu dan ketaqwaannya pada Allah SWT -Imam Syafi’i-. Artinya, peran mahasiswa amatlah mudah, sekedar dengan mempertahankan ideologi, berilmu dan bertaqwa dalam kondisi apapun sampai pada titik dimana Allah SWT memanggil kita beristirahat sejenak atau selamanya, ketika sakit, tak berdaya atau ketika menghembuskan nafas terakhir. Maa syaa Allah…