
JAKARTA – Kementerian Sosial (Kemensos) menggandeng PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) dalam upaya mempercepat digitalisasi tata kelola Sekolah Rakyat. Kerja sama ini mencakup sejumlah sistem yang mendukung efisiensi dan transparansi dalam operasional pendidikan berbasis sosial tersebut.
Dukungan BNI meliputi digitalisasi administrasi siswa dan tenaga pengajar, mulai dari proses Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB), kartu pintar siswa, sistem absensi elektronik, hingga pengembangan Learning Management System (LMS).
BNI juga menyediakan sistem pengelolaan dana, termasuk penyaluran bantuan dari Kemensos ke sekolah, penggajian guru, transaksi mitra seperti katering dan laundry, serta dashboard keuangan sekolah. Seluruh transaksi akan dilakukan secara cashless menggunakan QRIS dan platform BNIdirect.
“Ini luar biasa. Dengan digitalisasi, pengelolaan Sekolah Rakyat akan lebih modern, efisien, transparan, dan meminimalisir kebocoran anggaran. Kita bisa memantau langsung data absensi, gizi, hingga keuangan sekolah melalui dashboard,” ujar Menteri Sosial Saifullah Yusuf (Gus Ipul) saat pertemuan dengan jajaran BNI di Kantor Kemensos, Jakarta, pada Jumat (4/7).
Seluruh Sekolah Rakyat nantinya akan dilengkapi fasilitas digital seperti kartu identitas siswa dan pegawai, alat pembaca presensi untuk makan dan ibadah, serta aplikasi Smart School yang memuat kalender akademik, jurnal kelas, tagihan digital, hingga saldo siswa.
Sistem ini sebelumnya telah digunakan di lebih dari seribu sekolah swasta dan pesantren, dan kini akan diterapkan secara menyeluruh di Sekolah Rakyat.
“Kita punya jadwal, 14 Juli nanti kita mulai masa orientasi. Gedung sudah direnovasi, guru sudah disiapkan, tinggal kita pasang alat-alatnya, kartu siswa, sistem absensi, dashboard laporan,” jelasnya.
Sekolah Rakyat adalah program pendidikan gratis yang ditujukan bagi anak-anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem. Program ini menjadi bagian dari strategi pemerintah untuk memutus rantai kemiskinan melalui sektor pendidikan, sebagaimana diarahkan oleh Presiden Prabowo Subianto.
Gus Ipul menyampaikan bahwa target utama Sekolah Rakyat adalah anak-anak dari kelompok desil 1 dan 2 dalam Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN), yang berasal dari keluarga dengan penghasilan sangat rendah.
“Kita menghadapi kondisi anak-anak dari keluarga penghasilan Rp35 ribu per hari, rumah kontrak kecil, bahkan ada yang rumahnya di atas tanah orang lain. Ini potret nyata yang luput dari perhatian kita selama ini,” ungkapnya.
Dirancang sebagai sekolah berasrama (boarding school), Sekolah Rakyat menyediakan jenjang pendidikan dari SD, SMP, hingga SMA. Seluruh kebutuhan siswa, mulai dari seragam, konsumsi, tempat tinggal, hingga perlengkapan belajar ditanggung penuh oleh pemerintah.
“Kita ingin anak-anak dari keluarga miskin parah ini bisa sekolah dengan baik, tumbuh sehat, dan kelak menjadi agen perubahan,” tuturnya. (*)
Bangun Rumah, Renovasi Rumah dan Pekerjaan Sipil Lainnya YA ASPRO AJA
Jangan Tampilkan Lagi Ya, Saya Mau !