BANDUNG – Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, meminta Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Jawa Barat untuk lebih tegas dalam menertibkan pinjaman online (pinjol) ilegal serta bank gelap yang merugikan masyarakat.

Dedi juga menyoroti keberadaan lembaga keuangan non-perbankan, seperti koperasi simpan pinjam (kosipa), yang beroperasi layaknya rentenir dengan menyasar warga desa dan buruh pabrik.

Menurutnya, tingginya sifat konsumtif masyarakat menjadi faktor utama banyaknya warga yang terjerat pinjol ilegal dan bank gelap.

“Itu bisa dikategorikan sebagai kejahatan perbankan. Bisa kita berantas asal semuanya kompak,” ujar Dedi setelah menghadiri pengukuhan Kepala OJK Jabar yang baru, Darwisman.

Dedi juga mengungkapkan kekhawatirannya terkait meningkatnya penggunaan pinjol ilegal menjelang Lebaran. Ia mengimbau masyarakat agar lebih bijak dalam mengelola keuangan dan tidak memaksakan diri.

Baca Juga  Headline Jawa Barat | Ridwan Kamil Minta Kepala Daerah Bodebek Kompak Tangani Covid-19

“Susah melarang orang pinjam, yang paling utama adalah jangan konsumtif, sederhana saja. Kalau tidak punya uang, jangan memaksakan diri. Jangan sampai ingin Lebaran dengan penuh sukacita tetapi setelahnya mengalami derita,” katanya.

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae, menegaskan bahwa pihaknya akan menindaklanjuti arahan Gubernur terkait pemberantasan bank gelap dan pinjol ilegal.

“Arahan dari Pak Gubernur menjadi perhatian OJK. Pemberantasan bank informal dan pinjol ilegal harus menjadi prioritas,” ujarnya.

Dian juga mengungkapkan bahwa OJK telah melakukan sejumlah langkah konkret, termasuk menutup hampir 10 ribu rekening yang terkait dengan aktivitas pinjol ilegal dan judi online di Jawa Barat.

Baca Juga  Headline Jawa Barat | Rapid Test Masif Jawa Barat, Tercatat Puluhan Orang Positif Covid-19

“Yang ilegal sudah banyak yang kita tutup, termasuk hampir 10 ribu rekening yang terkait dengan permainan judi online,” ungkapnya.

Ia mengakui bahwa memberantas pinjaman ilegal berbasis online bukan perkara mudah, terutama di Jawa Barat yang memiliki jumlah penduduk terbesar di Indonesia. Oleh karena itu, ia menegaskan pentingnya kerja sama lintas sektor untuk menghadapi tantangan ini.

“Tantangannya cukup besar karena populasinya tinggi. Oleh karena itu, kerja sama dengan berbagai pihak menjadi sangat penting,” pungkasnya. (DR)