GAZA – Cahaya matahari menembus celah-celah atap rumah keluarga Shaban yang mulai rapuh dan berlubang, membentuk tutul di lantai. Di rumah itu, Raidah Abd Alkarim Shaban tinggal bersama tujuh anggota keluarga lainnya. Mereka adalah salah satu keluarga penyintas konflik kemanusiaan di Gaza, Palestina.
“Atap rumah kami jelek dan rusak. Ketika musim dingin, air hujan masuk ke dalam rumah. Sedangkan saat musim panas, cahaya matahari masuk melalui celah-celahnya. Keadaan kami begitu memprihatinkan ketika musim dingin datang. Air masuk ke dalam rumah dan kami tidak dapat tidur dengan layak seperti biasanya,” cerita Raidah. Ia pun berharap, banyak dermawan ACT yang dapat memperbaiki rumah mereka.
Selain rumah yang tidak layak huni, keluarga Shaban juga tidak memiliki kebutuhan hidup memadai. Keadaan itu pun membuat ia dan keluarganya dalam kesulitan. “Kami bertahan dari kekurangan. Kami membutuhkan bantuan seperti makanan, pakaian selimut, dan jika memungkinkan perbaikan rumah,” lanjut Shaban. Ia pun berharap dermawan ACT tetap memberi dukungan mereka. “Terlebih saat musim dingin dan iduladha nanti,” katanya.
Keluarga Mohammed Mofed Sobih hidup dengan enam anggota keluarga. Mereka adalah salah satu keluarga yang membutuhkan bantuan pemenuhan dan kebutuhan hidup, termasuk renovasi rumah. (ACTNews)
Cerita serupa juga disampaikan keluarga Sobih, keluarga dengan empat orang anak itu tinggal di rumah yang tidak layak huni: tanpa pintu dan jendela. Saidiah Haber Sobih, ibu rumah tangga di keluarga Sobih bercerita, jika hujan turun, air akan masuk dari atap ke dalam rumah. Ia pun mendambakan perbaikan rumah agar lebih layak. “Anak-anakku tidur di dapur yang tidak seharusnya,” terang Saidiah.
Selain itu, kata Saidiah, keluarga mereka masih harus berjuang dalam menjalani hidup sehari-hari. Anak-anak tidak pernah merasakan sarapan. Menghadapi musim dingin, mereka tidak memiliki selimut, pakaian, bahkan Kasur.
Saidiah lanjut bercerita, ia mengaku tidak memiliki apapun untuk hidup layak, seperti makanan, minuman, pakaian. “Bahkan ketika anak-anak merajuk untuk disekolahkan, saya tidak bisa memenuhi keinginan mereka untuk masuk ke taman kanak-kanak,” tuturnya penuh sesal.
Saidiah dan Mohammed Mofed Sobih, suaminya, berharap bisa membenahi rumah dan memenuhi kebutuhan dasar keluarganya. “Hal utama yang aku inginkan adalah membenahi rumah, hanya butuh satu ruangan agar anak-anak kami hidup lebih layak,” katanya Ia pun berharap para dermawan akan mendengar permintaan tolong warga di Gaza, termasuk keluarganya.
(ACTnews)