“Program ini merupakan investasi besar pemerintah dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia menuju Generasi Emas 2045. Dengan jumlah anak usia sekolah mencapai 70 juta, intervensi sejak dini sangat krusial agar kita tidak memiliki tenaga kerja produktif yang kurang berkualitas di masa depan,” jelas Dadan.

Ia juga menggarisbawahi pentingnya peningkatan akses keluarga miskin terhadap makanan bergizi seimbang yang mencakup protein, karbohidrat, serat, buah, dan susu. Dampak positif dari program MBG telah terlihat di beberapa sekolah, di mana peningkatan keaktifan dan kehadiran anak-anak mencapai hingga 99 persen.

Salah satu kisah inspiratif di Papua menyebutkan perubahan signifikan, di mana seorang anak yang sebelumnya sulit dibangunkan kini bersemangat bersekolah sejak penerapan program bergizi tersebut.

Baca Juga  Pernah Mewakili Tingkat Nasional, Sekolah Ini Luput Perhatian Pemerintah Kota Bogor | Headline Bogor

Dalam laporannya, Sekretaris Jenderal Kemendikdasmen, Suharti, menjelaskan bahwa Nota Kesepahaman ini mencakup berbagai aspek kerja sama, antara lain peningkatan kapasitas sumber daya manusia, koordinasi dan edukasi, pemanfaatan sarana dan prasarana, serta pertukaran data dan informasi.

Suharti menambahkan bahwa komunikasi antara kedua instansi telah terjalin sejak September 2024 dan proses negosiasi berlangsung cukup panjang sejak Februari lalu.

Baca Juga  Headline Jakarta | Senin, 610 Sekolah di DKI Jakarta Akan Gelar PTM Terbatas

Dengan adanya sinergi antara Kemendikdasmen dan Badan Gizi Nasional, diharapkan intervensi gizi di lingkungan sekolah tidak hanya mengatasi kekurangan gizi, tetapi juga membentuk karakter peserta didik dan mendukung gerakan “7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat.” (*)